Petugas Haji Kloter 1 Embarkasi Banjarmasin 2010

Ketua Kloter (TPHI) : Drs.H.Munadi Sutera Ali, M.M.Pd. Pembimbing Ibadah : H.Sarmadi Mawardi,Lc.,S.Pd.I Dokter (TKHI) : dr.Hj.Nor Salehah Paramedis (TKHI) : H. Irpani,S.Kep Paramedis (TKHI) : H.Gunawan,S.ST. TPHD : Drs.H.Gazali Rahman,M.Si

Senin, 18 April 2011

Kumpulan Tulisan Tentang KH IDHAM CHALID

BIOGRAFI K.H.IDHAM CHALID
BIODATA

Nama : KH. Dr. Idham Chalid
Lahir : Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921
Alamt: Jalan Fatmawati,Komp.Darul Ma’arif Jakarta Selatan
Jabatan Penting :

Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU)
Ketua Partai Masyumi
Pendiri/Ketua Partai NU
Pendiri/Ketua Partai Persatuan Pembangunan ( PPP)
Wakil Perdana Menteri Indonesia
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan MPR
Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Kabinet Pembangunan I 1968-1973)
Menteri Sosial
Tim Penasehat Presiden, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4)

PENGHARGAAN: Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, Mesir

BIOGRAFI

KH Idham Chalid kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, seorang ulama dan politikus pelaku filosofi air. Dia seorang tokoh Indonesia yang pernah menjadi pucuk pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama). Juga pernah memimpin pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.

Laksana air, peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, ini seorang tokoh nasional, yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya. Demikian pula sebagai politisi, ia mampu melakukan gerakan strategis, kompromistis, bahkan pragmatis. Dengan sikap dan peran ganda demikian, termasuk kemampuan mengubah warna kulit politik dan kemampuan beradaptasi terhadap penguasa politik ketika itu, ulama dari Madrasah Pondok Modern Gontor, ini tidak kuatir mendapat kritikan dan stereotip negatif sebagai tokoh yang tidak mempunyai pendirian, bunglon bahkan avonturir.

Peran ganda dan kemampuan beradaptasi dan mengakomodir itu kadang kala membuat banyak orang salah memahami dan mendepksripsi diri, pemikiran serta sikap-sikap socio-polticnya.

Namun jika disimak dengan seksama, sesungguhnya KH Idham Chalid yang berlatarbelakang guru itu adalah seorang tokoh nasional (bangsa) yang visi perjuangannya dalam berbagai peran selalu berorientasi pada kebaikan serta manfaat bagi umat dan bangsa.

Dengan visi perjuangan seperti itu, pemimpin NU selama 28 tahun (1955-1984), itu berpandangan tak harus kaku dalam bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila, tidak jarang adanya tekanan keras dari pihak penguasa serta partai politik dan Ormas radikal.

Sebagaimana digambarkannya dalam buku biografi berjudul “Idham Chalid: Guru Politik Orang NU” yang ditulis Ahmad Muhajir (Penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Juni 2007) bahwa seorang politisi yang baik mestilah memahami filosofi air.

“Apabila air dimasukkan pada gelas maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember ia akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke temapat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Bila dibuatkan kanal ia mampu menghasilkan tenaga penggerak turbin listrik serta mampu mengairi sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia. (Hal 55)

Sebagai ulama dan politisi pelaku filosofi air, Idham Chalid dapat berperan sebagai tokoh yang santun dan pembawa kesejukan. Apresiasi ini sangat mengemuka pada acara peluncuran buku otobiografi: “Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah”, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis 6 Maret 2008.

Buku otobiografi Idham Chalid itu diterbitkan Yayasan Forum Indonesia Satu (FIS) yang dipimpin Arief Mudatsir Mandan, yang juga anggota Komisi I DPR dari PPP, juga selaku editor buku tersebut. Idham Chalid sendiri tengah terbaring sakit di rumahnya Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.

“Saya kira tidak ada tokoh yang bisa seperti beliau. Ketokohannya sangat menonjol, sehingga pernah memimpin partai politik pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP,” kata Wapres Jusuf Kalla mengapresiasi sosok Idham Chalid, saat memberi sambutan pada acara peluncuran buku tersebut.

”Beliau itu moderat, bisa diterima di ’segala cuaca’, berada di tengah, oleh sebab itu ia bisa diterima di mana-mana. Ia berada di tengah titik ekstrem yang ada,” ujar Kalla dihadapan sejumlah undangan, antara lain Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, dan sejumlah anggota kabinet dan DPR.

Menurut Jusuf Kalla, sikapnya yang moderat hanya bisa dijalankan oleh orang yang santun. “Hanya orang santunlah yang bisa bersikap moderat,” puji Jusuf Kalla untuk menegaskan bahwa Idham Chalid merupakan sosok ulama dan politisi yang moderat dan santun. Itulah sebabnya, ia bisa diterima di berbagai era politik dan kepemimpinan bangsa.

Menurut Wapres, jika berada di titik yang sama ekstremnya, maka selain demokrat, sosok politik orang yang menjalani itu sudah pasti santun. ”Karena itu, sikap yang santun bisa menjaga suasana kemoderatan,” katanya.

Idham Chalid yang memulai karir politik dari anggota DPRD Kalsel, seorang ulama karismatik, yang selama 28 tahun memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pernah menjadi Wakil Perdana Menteri pada era pemerintahan Soekarno, Menteri Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Sosial pada era pemerintahan Soeharto dan mantan Ketua DPR/MPR. Idham juga pernah menjadi Ketua Partai Masyumi, Pendiri/Ketua Partai Nahdlatul Ulama dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sementara itu, editor buku, Arief Mudatsir Mandan, mengemukakan, Idham Chalid satu-satunya Ketua Umum PBNU yang paling lama dan bukan ”berdarah biru” NU. Menurutnya, selama kepemimpinan Idham, NU tidak pernah bergejolak. Kendati ia sering dinilai lemah, tetapi sebenarnya itulah strateginya sehingga bisa diterima berbagai zaman,” ujar Arief Mudatsir Mandan.

Sumber: aatsafwat.blogspot.com

RIWAYAT HIDUP KH IDHAM CHALID

Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, dan merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin.

Saat usia Idham enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Selain tercatat sebagai salah satu tokoh besar bangsa ini pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru, sebagian besar kiprah Idham dihabiskan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Idham tercatat sebagai tokoh paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut.

Dalam ormas berlogo bola dunia dan bintang sembilan itu, Idham menapaki karier yang sangat cemerlang hingga menjadi pucuk pimpinan. Dalam usia 34 tahun, Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Pada tahun 1984, posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai ormas yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi terhadap partai mana pun.

Selain itu, Idham juga tercatat sebagai “Bapak” pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktu Idham dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di bilangan Cipete.

( Sumber: Antara)


SELAMA 28 TAHUN ALMARHUM IDHAM CHALID PIMPIN NU

Tidak banyak orang yang memiliki pengalaman seperti almarhum Mantan Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid dengan berbagai peran dan jabatan yang disandangnya.

Idham Chalid yang lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, adalah anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin.

Alamarhum memiliki pengabdian dan pengalaman yang begitu beragam. Setidak Idham Cholid yang telah memimpin NU selama 28 tahun ini dalam karirnya selalu berada dalam tiga sosok, yaitu ketua NU sebagai ormas, NU sebagai parpol dan sebagai pejabat negera. Dia juga pernah memimpin tiga partai yaitu Masyumi, NU dan PPP.

Kiai Idham Chalid pernah menduduki tiga jabatan menteri, yaitu wakil perdana menteri, menkopolkam, dan menteri sosial. Di posisi legislatif, ia juga menduduki berbagai jabatan mulai dari anggota DPRD Kalsel, DPR dan MPR.

Mengenai kemampuannya membawa NU dalam berbagai situasi, hal ini dikarenakan ia merupakan orang moderat yang selalu berada ditengah, disertai sikap kesantunan sehingga bisa diterima oleh semua pihak. Kiai Idham Chalid juga telah berhasil membawa NU keluar dari masa-masa pelik, bahkan genting saat Indonesia masih berusia muda dengan dinamika politik yang luar biasa.

Kiai Idham tercatat sebagai tokoh yang paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut. Dalam ormas berlambang bola dunia dan bintang sembilan itu, Idham menapaki karir yang sangat cemerlang hingga menjadi pucuk pimpinan.

Dalam usia 34 tahun, Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Selanjutnya posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur),

Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktu Idham dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di Bilangan Cipete.

KH IDHAM CHALID BUKAN HANYA MILIK WARGA NU

Meninggalnya KH Idham Chalid (88) menjadi kehilangan besar bagi warga NU se-Indonesia. Baik semasa Orla maupun Orba, Idham Chalid selalu mengabdikan hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Menurut tokoh NU Kabupaten Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), mengemukakan, almarhum telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia. Dia juga berjasa besar bagi pengembangan organisasi NU maupun partai yang pernah berafiliasi dengan NU seperti PPP.

“Beliau adalah tokoh panutan kami. Bangsa Indonesia kehilangan sosok dia karena beliau telah mewarnai sejarah bangsa ini lewat kiprahnya,” kata Gus Yusuf, yang juga pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, kemarin.

Idham Chalid meninggal dunia pada Minggu (11/7), sekitar pukul 08.00 WIB, di rumah duka Pondok Pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan. 10 tahun terakhir dia harus berjuang melawan serangan jantung dan stroke.

Rencananya, jenazah akan dimakamkan Senin (12/7) di Ponpes Darul Quran, milik keluarga, di Cisarua, Bogor, Jawa Barat karena menunggu kehadiran sebagian putra-putri dan sanak saudara yang tinggal baik di Kalimantan Selatan maupun berbagai daerah lain di Tanah Air.

PERJUANGKAN IDEALISME

Semasa hidupnya, KH Idham Chalid selalu memperjuangkan idealismenya bagi kemajuan bangsa dan negara tanpa meninggalkan posisi dirinya sebagai seorang kiai. Di tengah himpitan situasi politik terutama masa Orde Baru, dia memerankan diri sebagai politisi ulung namun tetap kukuh sebagai seorang kiai.

“Dia tidak meninggalkan jati diri sebagai ulama NU. Hal ini karena dia berpolitik dilandasi ketekunan menjalankan ibadah,” lanjut Gus Yusuf.

Karena itu, Gus Yusuf tak ragu menyebut Chalid sebagai pribadi yang seimbang antara kepentingan rohani dengan duniawi. “Tidak seperti politikus saat ini yang sibuk dengan urusan-urusan politik tetapi tidak menjalankan secara konsekuen ibadahnya,” kritik tokoh seniman Komunitas Lima Gunung Magelang ini.

( Sumber: suaramerdeka.com )

BERITA DUKA WAFATNYA KH IDHAM CHALID

Amuntai, 12 Juli 2010. Kabar duka menyelimuti kota Amuntai, Mantan Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid kembali ke pangkuan Allah SWT dengan tenang. Ayahanda dari Bupati HSU HM Aunul Hadi ini meninggal, setelah sekitar sepuluh tahunan terakhir mengidap penyakit komplikasi.
Pada perjalanan hidupnya, KH Idham Chalid telah memimpin PBNU hampir sekitar 6 periode (1956-1984). Almarhum pernah menjadi Ketua Partai Masyumi di Amuntai, Kalimantan Selatan. Beliau pernah juga menjadi Ketua Partai Masyumi di Amuntai, Kalimantan Selatan. Beliau pernah pula menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali-Roem-Idham, dalam usia yang masih sangat belia yakni 34 tahun.
Beliau juga dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (PNI), 1956 - 1957. Saat kekuasaan Bung Karno jatuh pada 1966, Idham Chalid tetap mampu bertahan. Bahkan, Presiden Soeharto memberinya kepercayaan selaku Menteri Kesejahteraan Rakyat (1967 - 1970), Menteri Sosial Ad Interim (1970 - 1971) dan setelah itu Ketua MPR/DPR RI (1971 - 1977) serta Ketua DPA (1977 - 1983).
Suasana duka pun sangat terasa dikalangan Pegawai Negeri dan Pemerintahan Hulu Sungai Utara. Usai acara rutin apel pagi di halaman kantor Sekertariat Daerah, sebelum menuju kantor masing-masing, sebagian besar pegawai langsung menuju aula Kantor Bupati Hulu Sungai Utara untuk menggelar shalat ghaib, acara tahlilan, dan doa bersama.
Dan akhirnya, seluruh karyawan Bappeda Hulu Sungai Utara turut berbela sungkawa yang sebesar-besarnya atas kepulangan beliau ke sisi-Nya. Semoga amal baik beliau diterima disisi-Nya dan diampuni segala dosanya.
Selamat jalan KH Idham Chalid.

(Sumber : bappeda.hulusungaiutara.go.id)

KH IDHAM CHALID MENINGGAL DUNIA
(Idham Chalid (1922-2010; repro buku: A.Muhajir - Idham Chalid, Guru Politik Orang NU)

Jakarta (ANTARA News) - Mantan Ketua PBNU dan Ketua MPR/DPR KH.Dr.Idham Chalid (88) meninggal dunia di kediamannya di kawasan pendidikan Darrul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, Minggu pagi, pukul 08.00, karena sakit yang diderita selama 10 tahun terakhir. Saiful Hadi, putera mantan Wakil Perdana Menteri II pada era Soekarno itu, mengatakan jenazah saat ini disemayamkan di rumah duka di Cipete dan akan dimakamkan Senin (12/7) di Pondok Pesantren Darul Quran, milik keluarga, di Cisarua, Jawa Barat.
"Kami mohon doa dan maaf atas wafatnya ayahanda," kata Saiful, Direktur Pemberitaan Perum LKBN ANTARA.
KH.Dr.Idham Chalid meninggalkan isteri, anak dan sejumlah cucu. Ia lahir di Setui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1922.
Idham Chalid adalah tokoh agama, tokoh bangsa, dan tokoh organisasi besar Islam Nahdlatul Ulama dan juga deklarator sekaligus pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

(sumber : http://www.antaranews.com)

IDHAM CHALID BERPESAN TAK MAU DIMAKAMKAN DI KALIBATA
Oleh : Misbahol Munir
JAKARTA - Sederhana. Itu mungkin yang dipegang teguh tokoh sekaligus ulama NU Idham Chalid hingga akhir hayatnya. Merasa dirinya merupakan "anak pondok" dia pun berpesan kepada keluarga untuk dimakamkan di wilayah pondok pesantren.
"Dia berpesan supaya jangan dikubur di Kalibata (makam pahlawan-red). Dia ingin dimakamkan di Pondo Darul Quran di Cisarua," kata putra Idham Chalid, Syaiful Hadi saat ditemui wartawan, Minggu (11/7/2010).
Memang Idham Chalid tidak menjelaskan alasan kenapa dirinya enggan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namun, Syaiful menduga semua itu karena prinsip kesederhanaan dari sang tokoh.
"Dia memang memegang teguh kesederhanaan dan konsisten serta pekerja keras. Karena itu ketokohannya pun diakui banyak kalangan,"
Idham Chalid yang juga pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP) meninggal dunia di usia 88 tahun. Beliau pernah penjabat sebagai Wakil Perdana Menteri di kabinet Ali Sastroamidjojo II. Pria kelahiran Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921 ini juga pernah menjadi Ketua Umum PBNU pada 1956.
Karir di bidang politik Idham juga terus menanjak. Pada 1968 dia terpilih menjadi Ketua DPR. Disusul pada 1972 Idham diberi kepercayaan menjadi Ketua MPR.
(Sumber : http://news.okezone.com)

PAGI INI, PRESIDEN AKAN MELAYAT IDHAM CHALID

TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan hari ini, Senin (12/7) melayat KH Dr Idham Chalid di Pondok Pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan. Idham Chalid, eks Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Ketua MPR/DPR periode 1972-1977 itu meninggal Ahad (11/7) pagi.
Presiden yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono direncanakan tiba di rumah duka di kawasan Pondok Pesantren Darul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, pukul 09.00 WIB.
"Juru bicara presiden sudah menelpon dan menyampaikan rencana kedatangan tersebut," kata Saiful Hadi, anak kelima almarhum saat ditemui di kediamannya.
Di rumah duka saat ini sudah terpajang karangan bunga ucapan duka cita dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono. Juga sejumlah pejabat dan eks pejabat, serta politisi.
Jenazah Idham Chalid akan dimakamkan di Pondok Pesantren Darul Quran milik keluarga di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. "Berangkat dari rumah sekitar pukul 09.30," ujar Saiful.
Pemakaman Idham akan menggunakan upacara militer. Inspektur upacara yang akan melepas almarhum adalah Menteri Sosial Salim Segaf Al Djufri.
Idham Chalid yang lahir di Setui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1922, selama 28 tahun memimpin Nadhlatul Ulama. Ia juga pernah menjabat Wakil Perdana Menteri II pada era mantan Presiden Soekarno. Almarhum juga deklataror sekaligus pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Wakil Presiden Boediono melayat almarhum KH Idham Chalid, Minggu (11/7), sekitar pukul 19.40. Saat dimintai kesan terhadap almarhum, Boediono tidak berbicara banyak. "Beliau merupakan politisi ulama yang menyejukkan," kata Boediono singkat, menggambarkan kesannya terhadap sosok almarhum.
( http://www.tempointeraktif.com )
IDHAM CHALID, PEMIMPIN DARI AMUNTAI
Oleh Ahmad Fahir Editor: Jodhi Yudono
Anggapan sebagian orang bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi massa (ormas) Islam yang bercorak Jawa dan tersentralisasi di Pulau Jawa patut diluruskan. Begitu pula dengan pameo yang menyebut bahwa pimpinan ormas terbesar di Indonesia tersebut mesti berdarah Jawa, terutama Jawa Timur, juga tidak tepat.
Doktor Kiai Haji Idham Chalid (88) yang menghembuskan nafas terakhir pada Minggu pagi pukul 08.00 WIB di Cipete Jakarta Selatan merupakan fakta sejarah yang paling sahih untuk mematahkan berbagai penilaian sepihak terhadap NU.
Ulama kharismatis NU tersebut bahkan telah menghilangkan dikotomi Jawa non-Jawa dalam konteks politik nasional jauh-jauh hari sebelum banyak pihak memperbincangkannya, yakni sejak tahun 1956 silam atau hanya berselang sembilan tahun setelah kemerdekaan Indonesia.
Kiai Idham Chalid merupakan salah satu tokoh terbesar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Semasa hidupnya, beliau mencurahkan pengabdian bagi bangsa ini melalui NU, ormas Islam terbesar di Indonesia maupun dunia, yang ia geluti sejak masih usia kanak-kanak.
Kiai Idham yang lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, adalah anak sulung lima bersaudara dari H Muhammad Chalid.
Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.
Idham tercatat sebagai tokoh termuda yang pernah memimpin NU. Idham dipilih sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tahun 1956. Saat itu usia Idham baru 34 tahun. Sebuah catatan dan prestasi yang fenomenal baik pada masa tersebut maupun masa kini.
Karir Idham di ormas yang didirikan ulama dan memiliki akar kuat baik di pedesaan maupun di perkotaan tersebut terbilang sangat cemerlang. Semasa kepemimpinan Idham di PBNU tidak pernah terjadi gejolak internal. Selain itu kepemimpinan Idham di NU juga paling lama yaitu 28 tahun. Idham menjabat ketua umum PBNU mulai tahun 1956 hingga 1984.
Sebagian kalangan mengatakan, bila tidak ada gerakan kembali ke ?khittah 1926? yang dimotori KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dkk, posisi Kiai Idham sebagai ketum PBNU tidak tergantikan.
Khittah menjadi senjata ampuh bagi poros Situbondo --istilah untuk untuk menyebut gerakan yang dimotori Gus Dur-- untuk melengserkan Kiai Idham dari tampuk kepemimpinan di PBNU.
Gerakan Khittah tersebut sempat membuat NU terbelah dan menjadi dua poros besar yaitu Situbondo dan Cipete. Istilah Cipete merupakan kediaman Kiai Idham dan merujuk pada pendukung Kiai Idham yang saat itu sangat banyak dan loyal.
BUKAN DARAH BIRU
Idham Chalid merupakan tokoh besar bangsa Indonesia yang telah memberikan teladan dan inspirasi. Beliau telah ikut meletakkan dasar-dasar berbangsa dengan mewujudkan kebersamaan dan menghilangkan dikotomi antara Jawa dan Luar Jawa.
Andil Idham dalam membangun tatasan kehidupan politik berbangsa yang harmonis tanpa diskriminasi, tidak lepas dari keberadaan NU yang menghargai egalitarianisme serta memberikan kesempatan yang sama bagi semua kader untuk memberikan kontribusi terbaiknya bagi NU.
Selain memberikan kesempatan kepada Idham untuk menjadi ketua umum PBNU pada tahun 1956, jauh-jauh hari sebelumnya NU sudah menghilangkan jarak pemisah antara Jawa dengan Luar Jawa dengan menggelar Muktamar ke-11 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan tahun 1936 atau sembilan tahun sebelum Indonesia merdeka.
Penyelenggaraan Muktamar ke-11 di Banjarmasin pada tahun 1936 serta dipilihnya Idham Chalid menjadi ketua umum PBNU pada Muktamar ke-21 di Luar Jawa, tepatnya di Medan, Sumatera Utara, semakin mengukuhkan posisi NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia serta meminjam istilah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai jangkar strategis nasional.
Kepemimpinan Idham di PBNU selain berdampak positif bagi iklim organisasi dengan mematahkan mitos Jawa dan Luar Jawa juga menghapus mitos bahwa ketua umum PBNU harus memiliki darah biru.
Darah biru merupakan istilah dalam NU, yang dapat diartikan sebagai keturunan ulama besar yang terpandang. Dalam tradisi NU di Jawa, biasanya dipanggil dengan sebutan Gus.
Uniknya, Idham selain bukan berasal dari Jawa juga bukan merupakan anak ulama besar terpandang, bahkan di Kalimantan Selatan sekalipun. H Muhammad Chalid, ayah Idham, hanya berprofesi sebagai penghulu di pelosok Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin.
Keluasan pergaulan, kemahiran retorika serta kepiawan dalam melobi mengantarkan Idham sebagai tokoh besar pemimpin nasional baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru.
DARI BAWAH
Panggung politik baik dalam aras nasional maupun global banyak dipengaruhi oleh faktor keturunan atau lebih dikenal dengan istilah dinasti, tradisi fedalisme yang mewariskan kuasaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi dinasti banyak ditemukan baik di Indonesia maupun luar negeri. Bahkan di negara semodern Amerika Serikat pun masih banyak ditemukan praktik dinasti.
Istilah dinasti tidak berlaku bagi Kiai Idham Chalid. Idham merupakan sosok pemimpin yang terlahir secara alami dari bawah. Ia tidak mengandalkan faktor dinasti maupun kekuatan materi, dua faktor terpenting dalam berpolitik, dalam merintis karirnya yang panjang dan cemerlang.
Idham menjadi pemimpin besar karena kapasitas personal, kegigihan dalam perjuangan serta kemauan keras untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa dan agama.
Arif Mudatsir Mandan, tokoh PPP yang juga penulis buku "Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid" mencatat sosok Kiai Idham merupakan teladan bagi generasi muda NU dan bangsa Indonesia. Beliau adalah sosok pemimpin besar yang lahir dari bawah.
"Kiprah dan peran Idham Chalid tergolong istimewa. Ia bukanlah sosok yang berasal dari warga kota besar. Ia hanyalah putra kampung yang merintis karier dari tingkat yang paling bawah, sebagai guru agama di kampungnya. Tapi kegigihannya dalam berjuang, dan kesungguhannya untuk belajar dan menempa pribadi, telah mengantar dirinya ke puncak kepemimpinan nasional yang disegani hingga kini, ujar Arif.
Kalangan pengamat politik Indonesia, banyak mencatat bahwa Idham Chalid merupakan salah seorang dari sedikit politisi Indonesia yang mampu bertahan pada segala cuaca.
Ia pernah menjadi Ketua Partai Masyumi Amuntai, Kalimantan Selatan, dan dalam Pemilu 1955 berkampanye untuk Partai NU. Ia pernah pula menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali-Roem-Idham, dalam usia yang masih sangat belia, 34 tahun. Sejak itu Idham Chalid terus menerus berada dalam lingkaran kekuasaan.
Di organisasinya, ia dipercaya warga nahdliyyin untuk memimpin NU di tengah cuaca politik yang sulit, dengan memberinya kepercayaan menjabat sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU selama 28 tahun (1956-1984).
Di samping berada di puncak kekuasaan pimpinan NU, ia juga dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (PNI), 1956 - 1957. Saat kekuasaan Bung Karno jatuh pada 1966, Idham Chalid yang dinilai dekat dengan Bung Karno ini tetap mampu bertahan.
Presiden Soeharto memberinya kepercayaan selaku Menteri Kesejahteraan Rakyat (1967 - 1970), Menteri Sosial Ad Interim (1970 - 1971) dan setelah itu Ketua MPR/DPR RI (1971 - 1977) dan Ketua DPA (1977 -1983).
Ketika partai-partai Islam berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan, pada tanggal 5 Januari 1973, mantan guru agama Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo ini menjadi ketua, sekaligus Presiden PPP.
Dari sisi wawasan keilmuwan dan kemahiran, sosok Idham Chalid dikenal sebagai ulama yang mahir berbahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Jepang. Ia juga menyandang gelar doctor honoris causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Idham Chalid merupakan khazanah yang tak ternilai bagi bangsa ini.
MIMPIN NU 28 TANPA GEJOLAK
KH Hasyim Muzadi, ketua umum PBNU 1999-2010 mengemukakan kekagumannya pada sosok Idham karena berhasil memimpin PBNU selama 28 tahun.
Selain kagum, Hasyim juga mengaku ?iri? pada Idham, karena selama 28 tahun menjadi ketua umum PBNU tanpa ada gejolak berarti.
Sebagai ketua umum PBNU, saya termasuk orang yang mengagumi beliau, karena memimpin NU selama 28 tahun dan tidak ada gejolak dalam NU selama beliau memimpin. Ini sangat sulit. Kalau saya, memimpin NU 8 tahun saja ruwetnya bukan main,? katanya.
Dikatakannya, Kiai Idham Chalid juga telah berhasil membawa NU keluar dari masa-masa pelik, bahkan genting saat Indonesia masih berusia muda dengan dinamika politik yang luar biasa.
Pada tahun 1952 NU keluar dari Masyumi dan mendirikan partai NU. Selanjutnya, tahun 1955 yang penuh gejolak karena demokrasi liberal berjalan selama 4 tahun dan tahun 1959 masuk dekrit presiden. Lalu tahun 1960 Bung Karno menjalankan Manipol Usdek yang berjalan 5 tahun sampai tertengahan tahun 1966.
Suasana krisis juga belum berakhir karena terjadinya pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Tahun 1967-1969, posisi NU justru terjepit. Tahun 1971 pemilu yang pertama masa Soeharto dan NU sangat berat karena dihajar habis oleh Golkar.
Dijelaskannya menyelamatkan jamaah NU yang yang sedemikian banyak memerlukan kepribadian arif dan tangguh. Hasyim Muzadi menilia, "Orang yang mengerti Pak Idham menyatakan beliau orang yang istikomah dalam berbagai situasi, tetapi orang yang tidak cocok pasti mengatakan oportunis, karena dari masa ke masa selalu mendapatkan tempat."
Meskipun berbeda pandangan politik, Hasyim mengatakan Kiai Idham tetap menjalin silaturrahmi dan ukhuwah dengan Buya Hamka."Perbedaan partai ini tidak mengurangi silaturrahmi dengan yang lain sehingga Pak Idham dengan Buya Hamka. Ketidakharmonisan dalam bidang politik tidak harus membuat pemimpin tidak harmonis dalam ukhuwwah," imbuhnya.
Kiai Hasyim berharap keberhasilan KH Idham Cholid dalam memimpin NU dapat menjadi pelajaran dalam mengembangkan NU ke depan agar semakin jaya. "NU punya kemulyaan dan harus kita bangun kemuliaan baru ini menyongsong masa depan, tandasnya memberikan semangat.
(Sumber : http://oase.kompas.com)

KH. IDHAM CHALID BAKAL JADI PAHLAWAN NASIONAL
Oleh : Rudy Arifin
Newsroom - Tokoh asal Kalimantan Selatan DR. KH. Idham Khalid bakal menjadi Pahlawan Nasional. Hal itu dibuktikan setelah Kementerian Social RI merespon usulan pemerintah provinsi yang mengajukan KH. Idham Chalid sebagai pahlawan nasional.
Asisten II Setda Prov Kalsel Fitri Rifani mengakui KH Idham Chalid merupakan tokoh asal Kalsel yang diusulkan pemerintah Provinsi agar menjadi pahlawan nasional.
Usulan tersebut dilatarbelakangi oleh sepak terjang almarhum yang yang tiada henti mengabdi untuk bangsa. Almarhum dimasa hidupnya pernah menjadi menteri pada masa presiden Soerkarno dan soeharto.
Dalam waktu dekat pemprov akan menggelar workshop dan sarasehan terkait pencalonan KH. Idham Khalid sebagai pahlawan nasional. Sarasehan tersebut merupakan rangkaian kelengkapan persyaratan yang harus dipenuhi.
KH Idham Chalid dalam catatan sejarah telah mendapat berbagai tanda kehormatan dan bintang jasa dari berbagai sumber diantaranya Lencana Penggerak revolusi 1945, satya lencana peringatan perjuangan kemerdekaan, Bintang grilya Kalimantan Selatan, Penghargaan penggerak Kearah Kemerdekaan di Kabupaten HSU.
KH. Idham Chalid memiliki sikap konsisten, pejuang yang gigih dan sabar. Sampai akhir hayat ketokohannya diakui. Beliau tidak pernah menjadi tokoh kontroversial, dan sangat konsisten dan santun
Idham meninggal pada usia 88 tahun karena sakit. Ia merupakan salah satu pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP), pernah menjabat sebagai Ketua MPR pada tahun 1972-1978 dan Ketua PBNU dalam 3 periode.(muha)
(Sumber : http://www.kalselprov.go.id kutipan dari Biro Humas Setda Prov. Kalsel)
IDHAM CHALID
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar merasa kehilangan atas wafatnya mantan Ketua PBNU KH Idham Chalid. Menurut Cak Imin, sapaan akran Muhaimin, Idham Chalid merupakan role model sosok yang memiliki karakter dan jiwa seorang negarawan.
“Saya sangat berduka, dan tentu kita telah kehilangan sosok pahlawan yang telah merintis model hidup kenegaraan yang baik,” kata Cak Imin saat ditemui usai menutup Festival Palang Pintu, di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, Minggu (11/7/2010).
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini menambahkan, sosok Idham Chalid telah berjasa besar memberikan sumbangsihnya kepada bangsa Indonesia melalui sejumlah peran pentingnya saat menduduki berbagai jabatan.
Dia menyebut, Idham Chalid telah membawa perubahan signifikan dalam tata kepimimpinan saat menjabat sebagai Ketua MPR/DPR. “Sampai hari ini kita ingat karya beliau yang telah membangun sistem parlemen yang maju,” tuturnya.
Tidak hanya jasa di bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, kenang Cak Imin, KH Idham Chalid merupakan sosok pemimpin PBNU yang juga berhasil merangkul dengan erat kehidupan umat beragama di Indonesia yang sangat beragam.
Hubungan negara dengan agama, kata Cak Imin, terasa harmonis dengan sentuhan dari KH Idham Chalid. “Beliau adalah sosok yang benar-benar mampu menjaga hubungan yang baik antara negara dengan agama. Kita doakan segala dosa-dosa almarhum diampuni dan arwahnya diterima di sisi Allah SWT,” imbuhnya.
( Sumber : http://www.harianberita.com )

KH IDHAM CHALID KINI
Oleh : Asro Kamal Rokan
Setelah berdoa mohon kesembuhan, saya mencium wajahnya yang bersih dan teduh. KH Idham Chalid tokoh besar bangsa, sejak sepuluh tahun lalu terbaring lemah. Sebuah selang dipasang di lambungnya untuk memasukkan makanan dan obat-obatan. Pak Idham tak dapat lagi berkomunikasi. Beliau terbaring dan lemah.
Pak Idham adalah tokoh penting dalam sejarah politik modern Indonesia. Atas jasa dan pengabdiannya. Maret lalu di Jakarta, Ketua PPP, Arief Mudatsir Mandan, menerbitkan buku Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid setebal 466 halaman.
Dilahirkan di desa kecil Setui, Kalimantan Selatan, 86 tahun lalu, Pak Idham--yang berjuang sejak remaja dan dua kali dipenjara masa pendudukan NICA--memegang jabatan penting pada masa Soekarno dan Soeharto. Pada usia sangat muda, 30 tahun, Pak Idham sudah dipercaya sebagai sekretaris jenderal PB Nahdlatul Ulama. Empat tahun kemudian, 1956, menjadi ketua umum Tanfidziah PBNU.
Pada tahun yang sama, 1956, Pak Idham dari unsur NU menjadi Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II bersama Mr Mohammad Roem. Kabinet ini dikenal sebagai kabinet Ali-Roem-Idham. Dalam kabinet ini, Pak Idham bertugas pula sebagai kepala Badan Keamanan.
Penyusunan kabinet hasil Pemilu 1955 ini sangat alot. Presiden Soekarno mendesak agar unsur PKI masuk dalam kabinet, yang disebutnya sebagai Kabinet Kaki Empat (PNI, Masjumi, NU, PKI). Namun, Ali Sastroamidjojo (PNI), Mohammad Roem (Masjumi), dan Idham Chalid (NU) menolak dengan keras usul Soekarno itu. Ali bahkan sampai pada keputusan: take it or leave it!
Setelah setengah bulan, Soekarno akhirnya menerima susunan kabinet yang diajukan Ali itu. Namun, Soekarno tidak bersedia memimpin pengambilan sumpah menteri kabinet. Presiden hanya menyaksikan setiap menteri membaca teks sumpah sendiri-sendiri. Ini tidak pernah terjadi. "Kalau beliau (Soekarno) tidak senang, memang begitu," kata Ali pada Pak Idham yang menanyakan keganjilan tersebut.
Kabinet yang tak direstui Presiden ini hanya bertahan setahun. Menyusul penarikan dukungan Masjumi dan PSII terhadap kabinet, Ali dan Idham akhirnya mengembalikan mandat. Kabinet berakhir, 14 Maret 1957. Ini disusul keputusan Soekarno memberlakukan keadaan bahaya perang (SOB--Staat van Oorlog en van Beleg). Presiden kemudian menunjuk dirinya sendiri menjadi formatur kabinet. Ini dianggap melanggar konstitusi. Dalam kabinet ini, Djuanda menjadi Perdana Menteri, Pak Idham kembali dipercaya menjadi wakil Perdana Menteri.
Dalam perkembangan politik yang berlangsung sangat cepat, Pak Idham tetap mengambil peran penting. Beliau dipercaya menjadi wakil ketua MPRS (1963-1966), menteri Kesejahteraan Rakyat (1966-1967; 1967-1968; dan 1968-1973). Pada 1971-1977, Pak Idham dipercaya sebagai ketua DPR/MPR.
Pada masa itu pula, 1973, Pak Idham menjadi ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pertama. Di NU, posisinya sebagai ketua umum berakhir pada 1984. Terakhir, 1978-1983, Pak Idham menjadi ketua Dewan Pertimbangan Agung dan Mudir'Am Jam'iyyah Ahlith Thariqoh al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah.
Setelah tidak lagi di politik, Pak Idham memimpin Perguruan Darul Ma'arif di Cipete Selatan, Jakarta Selatan, selain Lembaga Pendidikan Darul Qur'an dan Rumah Yatim di Cisarua. Di Cipete kediaman Pak Idham, ratusan santri--anak-anak dhuafa, bahkan di antaranya ada yang telah menjadi pejabat dan menteri--dididik ilmu agama. Di sini, setiap hari di tengah derai senda gurau para santri, Pak Idham terbaring lemah. Tiga bulan setelah tidak berkuasa, Pak Harto mengunjungi tokoh besar ini. Pak Habibie dan Gus Dur semasa menjadi presiden, juga datang ke sana.
Tanpa sedikit pun biaya dari negara, selang di lambung Pak Idham harus selalu diganti dengan biaya tidak sedikit. Tiga rumah telah terjual untuk biaya pengobatan terus-menerus itu.
Pak Idham kini terbaring dalam kehangatan cinta anak-anaknya. Beliau tokoh besar bangsa--tokoh yang berjuang untuk Indonesia yang seimbang dan harmoni--seperti dilupakan oleh negara besar ini, negara yang diperjuangkannya, yang dicintainya.
( Sumber : http://klikpolitik.blogspot.com )

WASIAT IDHAM CHALID
Editor: Jafar M Sidik
Bogor (ANTARA News)- Pemakaman jenazah ulama besar Kiai Idham Chalid di Bogor merupakan wasiat yang dititipkan dia semasa hidupnya pada keluarganya, kata Saeful Hadi, salah seorang putra ulama besar Nahdlatul Ulama (NU)dan tokoh bangsa itu.
"Kiai Idham sebetulnya akan dimakamkan oleh negara di Taman Makam Pahlawan di Kalibata, Jakarta Selatan. Namun karena wasiat ayah agar pemakaman dilakukan di Cisarua Bogor, pihak keluarga pun mengikuti apa yang diwasiatkan," katanya.
Direktur Pemberitaan Perum Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA itu melanjutkan, "Kami mewakili keluarga besar KH.Idham Chalid menitipkan makam almarhum kepada warga Bogor."
Keluarga Kiai Idham mengelola dua lembaga pendidikan yaitu Perguruan Darul Ma`arif di Cipete Jakarta dan Perguruan Darul Qur`an di Cisarua, Kabupaten Bogor.
Perguruan Darul Ma`arif di Jakarta merupakan tempat kediaman Idham semasa hidup di Jakarta, sedangkan Perguruan Darul Qur`an menjadi lokasi pemakamannya.
Kendati Perguruan Darul Qur`an yang menjadi lokasi pemakaman Kiai Idham Chalid milik keluarga, lokasi makam akan terasa jauh dari keluarga yang sebagian besar tinggal di Jakarta dan Kalimantan Selatan.
"Kami titip makam ayah kepada warga Bogor. Terutama kepada teman-teman NU Bogor, kami berharap bantuan untuk sama-sama merawat makam ayah," ujar Saiful.
Kiai Idham merupakan salah seorang ulama besar yang sangat dihormati NU dan bangsa Indonesia.
Sebagian besar waktu hidup Idham "diwakafkan" untuk membesarkan NU. Di ormas yang didirikan para ulama tersebut, Idham mengemban jabatan sebagai Ketua Umum PBNU selama 28 tahun.
Masa yang panjang tersebut belum termasuk dengan masa pengabdian Idham sebelumnya yaitu sebagai ketua Lembaga Pendidikan Ma`arif PBNU 1952-1956.
Setelah tidak menjabat ketua umum PBNU, Idham masih tetap mengabdi di NU melalui "Jamiyyah ahlit thoriqoh al-mu`tabaroh an-Nahdliyyah (Jatman) yang ia pimpin hingga sekitar tahun 1999. (*)
(Sumber : http://www.antaranews.com )
MENGENANG KIAI IDHAM CHALID
Oleh : Oemar Samsuri Idham Chalid
Editor: Heru Margianto
BOGOR, KOMPAS.com - Meninggalnya Kiai Haji Idham Chalid merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia, yang telah memberi warna perjalanan bangsa melalui kiprahnya baik semasa Orde Lama maupun Orde Baru.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fatah Ciomas, Kabupaten Bogor, KH Saeful Millah Hasbi, Minggu (11/7/2010), mengatakan, pengabdian terbesar diberikan oleh Idham kepada bangsa ini melalui kiprahnya di Nahdlatul Ulama (NU).
Idham tercatat menakhodai ormas Islam terbesar di Indonesia itu selama 28 tahun mulai 1956 hingga 1984. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI tahun 1972-1977.
Saat memimpin NU, Idham merupakan tokoh kunci dalam berbagai fase krusial perjalanan yang dilalui Indonesia. Bahkan ia menjadi tokoh kunci dalam fase-fase genting yang dijalani Indonesia.
Saat muda Idham ikut berjuang mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi, yang telah diduduki selama 350 tahun lamanya. Begitu juga saat terjadinya peristiwa revolusi fisik yaitu transisi dari era penjajahan ke kemerdekaan, Idham menjadi salah satu tokoh pelaku sejarah.
Idham juga berada di pusat pusaran peristiwa saat penumpasan pemberontakan PKI tahun 1965-1966. "Saat itu NU berhadap-hadapan secara langsung dalam konfrontasi dengan PKI," ujarnya.
Saat Orde Baru berkuasa, ketika semua orang dihantui rasa takut oleh rezim militer yang bertahta selama 32 tahun, Idham pun menjadi tokoh kunci percaturan nasional baik melalui NU maupun melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berdiri tahun 1975.
Menurut Saeful Millah, pengabdian tanpa pamrih dan sumbangan besar yang diberikan Kiai Idham kepada bangsa ini, patut diapresiasi bersama baik oleh masyarakat maupun negara. "Wafatnya Kiai Idham merupakan kehilangan besar bagi bangsa ini," ujar Saeful Millah.
Hal senada diutarakan oleh Nailul Abrar, aktivis Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Pertanian Bogor (IPB). Dia mengatakan, Kiai Idham merupakan tokoh besar yang pernah dimiliki bangsa ini. "Kiai Idham merupakan salah satu putra terbaik yang dilahirkan NU. Beliau sebagai salah satu pemimpin besar yang pernah dimiliki Indonesia," ungkapnya.
(Sumber http://nasional.kompas.com )

IDHAM CHALID SOSOK YANG KHARISMATIK
Liputan6.com, Jakarta: Almarhum Idham Chalid adalah tokoh yang paling lama memimpin Nahdlatul Ulama, yakni selama 28 tahun. Tak sedikit kalangan, khususnya kaum nahdliyin mengenal bekas Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) itu sebagai sosok ulama yang berwawasan luas, ramah, dan kharismatik.
Kepribadian Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu bisa dikenali lebih jauh melalui buku berjudul "Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah". Buku otobiografi ini diterbitkan Ketua Forum Indonesia Satu (FIS) Arif Mudatsir Mandan.
Buku serupa juga diterbitkan Pustaka Pesantren Yogyakarta bertajuk "Idham Chalid, Guru Politik Orang NU". Buku ditulis Ahmad Muhajir setebal 169 halaman. Buku ini mengisahkan kiprah politik tokoh legendaris NU itu.
Sepanjang karier Idham tercatat pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri era Presiden Soekarno, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Partai Masyumi. Selain itu, almarhum juga dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan. Selamat jalan Pak Idham Chalid.(AIS)
( Sumber : http://berita.liputan6.com )

NAMA IDHAM CHALID JADI NAMA JALAN DI JAKARTA
VIVAnews - Mantan Ketua DPR/MPR almarhum Dr. KH. Idham Chalid diusulkan sebagai nama salah satu jalan di Ibu Kota. Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Lulung A Lunggana.
Ia mengusulkan nama Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan diganti dengan nama mantan Ketua DPA dan mantan Ketua Umum PBNU dari 1956 hingga 1984 itu.
Menurutnya, pengusulan nama Idham menjadi mana jalan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov DKI) merupakan bentuk penghargaan terhadap jasa-jasanya bagi bangsa dan negara.
"Jasa-jasa beliau sangat besar, jadi sudah selayaknya mendapat penghormatan. Kami mengusulkan kepada Pemprov DKI agar nama Idham Chalid dijadikan nama jalan Cipete Raya," katanya kepada wartawan di Jakarta, Senin 19 Juli 2010.
Lulung menuturkan, dalam waktu dekat, pihaknya akan mengirimkan surat kepada Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengenai masalah ini. "Pemberian nama kepada tokoh yang berjasa bagi negara sudah menjadi tradisi untuk diabadikan menjadi nama jalan," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan, Anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) Maman Firmansyah. Menurutnya, figur Idham Chalid sangat berjasa bagi NKRI. Terbukti, semasa hidupnya Idham menempati sejumlah jabatan strategis. Tak hanya itu, Idham merupakan Ketua Umum PBNU terlama.
"Almarhum Idham Chalid merupakan salah satu tokoh terbaik milik NU yang berjasa bagi bangsa dan negara, selain almarhum Gus Dur (Abdurrahman Wahid)," ujarnya.
Seperti diketahui, Idham Chalid merupakan dekralator Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sekaligus mantan Ketua Umum PBNU selama 28 tahun (lima periode).
Idham mengawali karirnya sebagai aktivis Nahdlatul Ulama, organisasai keagamaan terbesar di Indonesia. Sejak awal kiprahnya, karier Idham terus menanjak.
Ketika NU masih bergabung dengan Masyumi pada 1950, laki-laki yang dilahirkan di Satui, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 1921 ini, telah menjadi ketua umum Partai Bulan Bintang, Kalimantan Selatan. Dia juga menjadi anggota DPR RIS (1949-1950).
Dua tahun setelahnya, Idham terpilih menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU (1952-1956). Kemudian, ia dipilih menjadi orang nomor satu NU pada 1956 hingga 1984.
Selama 28 tahun memimpin NU, Idham telah mengalami berbagai pasang surut. Di bidang eksekutif, ia beberapa kali jadi menteri, baik saat masa Orde Lama maupun Orde Baru.
Ketika Bung Karno jatuh pada 1966, Idham menjadi anggota presidium Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II dan setelah itu dia diangkat menjadi ketua MPR/DPR pada periode 1972-1977.
Jauh sebelumnya, pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo II, Idham juga menjabat sebagai wakil perdana menteri. Dalam posisi pemerintahan, dia juga pernah mengemban tugas sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung menggantikan KPH Soetardjo Kartohadikoesoemo. (hs)
(Sumber : http://metro.vivanews.com )

IDHAM CHALID
(Tokoh dan Ulama Pembaharu Dalam Dunia Islam)
Diantara penumpang pesawat Dakota jurusan Jakarta – Kalimantan (selatan) itu terdapat K.H A. Wahid Hasyim, K. H. Imam Zarkasyi, K. H Saifuddin Zuhri dan K. H Idham Chalid.
Dalam Pesawat terbang itu K. H. A Wahid hasyim Membisiki K. H Saifuddin Zuhri, agar selalu dekat dengan Idham Chalid. “ Ceritakan hal-hal yang bertalian dengan Nahdlatul Ulama, “pesannya.
K.H. A Wahid hasyim ingin menjadikan Idham Chalid seorang tokoh dalam Nahdlatul Ulama dalam tempo tidak terlalu lama]
Idham Chalid benar-benar luput dari perhatian para sarjana sekalipun dia pernah menjadi Wakil Perdana Mentri dan Ketua Umum PBNU paling lama dalam sejarah. Alasan-alasan pengabaian ini berhubungan dengan situasi politik dan budaya di mana Idham bekerja. Idham bukanlah seorang pemimpin yang suka mengumbar keberhasilan atau prestasi yang di capainya. Dia adalah seseorang rendah hati dan tidak suka menarik perhatian publik dan berbeda dari banyak teman seangkatannya, dia tidak menerbitkan suatu autobiografi yang memetakan kehidupan dan pemikirannya.
Demokrasi terpimpin (Guided Democracy) adalah suatu fase politik dan realitas ketatanegaraan dalam perjalanan sejarah negeri ini. Sebuah eksperimentasi sistem politik yang pernah dilakukan oleh tokoh dan pemimpin bangsa ini, yang terlaksana secara formal antara 1959-1965, atau tepatnya sejak dekrit presiden 5 Juli 1959 hingga gagalnya kudeta (kup) G 30 S 1965. Suatu masa yang tidak lebih lama dari masa Demokrasi Parlementer yang sebelumnya pernah di jalankan di Indonesia.
Demokrasi Terpimpin muncul karena ketidak senangan sebagian masyarakat politik Indonesia terhadap sistem Demokrasi Parlementer.
[ diantara penumpang pesawat Dakota jurusan Jakarta – Kalimantan (selatan) itu terdapat K.H A. Wahid Hasyim, K. H. Imam Zarkasyi, K. H Saifuddin Zuhri dan K. H Idham Chalid. Dalam Pesawat terbang itu K. H. A Wahid hasyim Membisiki K. H Saifuddin Zuhri, agar selalu dekat dengan Idham Chalid. “ Ceritakan hal-hal yang bertalian dengan Nahdlatul Ulama, “pesannya. K.H. A Wahid hasyim ingin menjadikan Idham Chalid seorang tokoh dalam Nahdlatul Ulama dalam tempo tidak terlalu lama]
Idham Chalid benar-benar luput dari perhatian para sarjana sekalipun dia pernah menjadi Wakil Perdana Mentri dan Ketua Umum PBNU paling lama dalam sejarah. Alasan-alasan pengabaian ini berhubungan dengan situasi politik dan budaya di mana Idham bekerja. Idham bukanlah seorang pemimpin yang suka mengumbar keberhasilan atau prestasi yang di capainya. Dia adalah seseorang rendah hati dan tidak suka menarik perhatian publik dan berbeda dari banyak teman seangkatannya, dia tidak menerbitkan suatu autobiografi yang memetakan kehidupan dan pemikirannya.Demokrasi terpimpin (Guided Democracy) adalah suatu fase politik dan realitas ketatanegaraan dalam perjalanan sejarah negeri ini. Sebuah eksperimentasi sistem politik yang pernah dilakukan oleh tokoh dan pemimpin bangsa ini, yang terlaksana secara formal antara 1959-1965, atau tepatnya sejak dekrit presiden 5 Juli 1959 hingga gagalnya kudeta (kup) G 30 S 1965. Suatu masa yang tidak lebih lama dari masa Demokrasi Parlementer yang sebelumnya pernah di jalankan di Indonesia.Demokrasi Terpimpin muncul karena ketidak senangan sebagian masyarakat politik Indonesia terhadap sistem Demokrasi Parlementer.
Tak bisa disangkal, Idham Chalid adalah sosok kontroversial dalam sejarah perpolitikan Nahdlatul Ulama (NU). Ia dianggap sebagai politikus yang tidak memiliki pendirian, mementingkan diri sendiri (egois), dan banyak merugikan kepentingan umat. Bahkan, sikap politiknya yang—dianggap—selalu mengambang di atas dan sering lebih menguntungkan pihak penguasa, membuat dirinya mendapat julukan ‘politikus gabus’ dari Gerakan Pemuda Ansor–organisasi sayap pemuda NU.
Benarkah semua asumsi itu? Buku ini secara jeli berusaha menguak sisi ruang batin Idham Chalid yang tidak terekam oleh ‘sejarah resmi’. Ahmad Muhajir, dalam buku ini, berupaya mengungkap apa yang disebut Urvashi Butalia sebagai ‘sisi balik senyap’ (the other side of silent), yakni berbagai hal tentang Idham yang riil dan hidup di tengah masyarakat, namun tidak dianggap penting sehingga tidak ter(di)suguhkan kepada kita. Berbeda dari persepsi umum yang berkembang di masyarakat mengenai gerak langkah ‘politik abu-abu’ Idham, buku ini mengangkat ‘sisi senyap’ di balik gerakan politik Idham. Melalui buku ini, penulis menelisik lebih jauh ruang terdalam manusiawi seorang tokoh kelahiran Kalimantan Selatan 85 tahun silam tersebut.
Sebagai seorang tokoh NU, Idham memainkan dua lakon berbeda, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai politisi, ia melakukan gerakan strategis, kompromistis, dan terkesan pragmatis. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dengan tetap tidak terlepas dari jalur Islam dan tradisi yang diembannya. Ia telah berusaha keras mengupayakan terbentuknya kestabilan kondisi umat di bawah (grassroot) yang menjadi tanggungjawabnya. Meski berbagai stereotip bakal menimpa, ia tak memedulikannya.
Baginya, yang terpenting—dalam berpolitik—adalah berorientasi pada kemaslahatan dan berguna bagi banyak orang. Karenanya, tidak (perlu) harus ngotot dan kaku dalam bersikap, sehingga umat senantiasa terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi di masa itu kondisi politik sedang mengalami banyak tekanan keras dari pihak penguasa dan partai politik radikal semacam PKI dengan gerakan reformasi agraria (land reform) dan pemberontakannya.
Strategi politik tersebut dilandaskan pada tiga prinsip. Pertama, lebih menekankan sikap hati-hati, luwes dan memilih jalan tengah ketimbang sikap memusuhi dan konfrontasi yang justru membahayakan kepentingan umat. Kedua, politik yang memperhitungkan kekuatan umatnya di hadapan kekuatan rezim atau kekuatan lain di tengah masyarakat. Ketiga, dengan menggunakan pendekatan partisipatoris terhadap pemerintah sehingga mampu memengaruhi kebijakan penguasa demi kemaslahatan umat.
Dalam kaitan ini, Idham memandang bahwa NU harus ikut andil dalam kekuasaan sebagai kekuatan penyeimbang. Cara ini dianggap lebih tepat ketimbang berada di luar kekuasaan yang justru lebih menyulitkan untuk bergerak. Hal ini, misalnya, terlihat ketika ia mengompromikan langkah pemerintah pada masa Orde Lama dengan Demokrasi Baru. Akan tetapi, ketidakmengertian tentang arah politik Idham tersebut, menyebabkannya harus tersingkir dan ter(di)lupakan begitu saja.
Karena itu, kehadiran buku ini tentu saja dapat membuka tabir tersembunyi atau sisi senyap pemikiran seorang Idham, sekaligus menambah deretan mozaik langkah para politisi NU dalam kancah politik yang kurang banyak diungkap ke permukaan. Selain itu, buku ini juga dapat digunakan sebagai rujukan jejak politik tokoh-tokoh politik NU dalam mewujudkan strategi politik di masa lampau seiring semakin maraknya para ulama masa kini yang masuk ke ruang politik ketimbang ruang keumatan.
Di samping itu, nilai tambah buku ini adalah, Ahmad Muhajir juga melakukan tinjauan terhadap literatur-literatur ilmiah tentang Idham Chalid, seraya menyediakan gambaran bagaimana Idham dipotret oleh para sarjana Indonesia dan Barat. Akan tetapi, bagian utama dari teks ini dipersembahkan untuk menjelaskan dan menganalisis pemikiran politik keagamaan Idham, terutama yang berhubungan dengan sikap-sikap NU dalam merespon Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin. Muhajir memusatkan diri pada penafsiran Idham mengenai konsep syura serta bagaimana tafsiran itu digunakan untuk menjustifikasi penerimaan ideologi semi-otoriter Demokrasi Terpimpin.
Namun demikian, sekalipun bersimpati dalam menggambarkan sang tokoh, Muhajir tetaplah kritis. Sebagai sesama orang Banjar, tentu saja Muhajir memiliki wawasan budaya dan akses kepada sumber-sumber yang tidak dipunyai para sarjana terdahulu. Dia meneliti literatur klasik mengenai syura dan membandingkannya dengan penafsiran yang lebih kontemporer, sebelum berargumen bahwa tulisan-tulisan Idham mengenai konsep ini dipengaruhi oleh situasi politik yang dihadapi NU pada akhir 1950-an.
Praktis, buku setebal 169 ini layak dibaca siapa saja sebagai suatu permulaan bagi perdebatan yang lebih dalam mengenai kiprah Idham Chalid dan perannya dalam sejarah perpolitikan NU. Semoga!
( Sumber : www.nu.or.id - http://pustakamuslim.wordpress.com - http://udhiexz.wordpress.com )

INILAH JASA-JASA ALM. IDHAM CHALID
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar merasa kehilangan atas wafatnya mantan Ketua PBNU KH Idham Chalid. Menurut Cak Imin, sapaan akran Muhaimin, Idham Chalid merupakan role model sosok yang memiliki karakter dan jiwa seorang negarawan. "Saya sangat berduka, dan tentu kita telah kehilangan sosok pahlawan yang telah merintis model hidup kenegaraan yang baik," kata Cak Imin saat ditemui usai menutup Festival Palang Pintu, di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini menambahkan, sosok Idham Chalid telah berjasa besar memberikan sumbangsihnya kepada bangsa Indonesia melalui sejumlah peran pentingnya saat menduduki berbagai jabatan. Dia menyebut, Idham Chalid telah membawa perubahan signifikan dalam tata kepimimpinan saat menjabat sebagai Ketua MPR/DPR. "Sampai hari ini kita ingat karya beliau yang telah membangun sistem parlemen yang maju," tuturnya.
Tidak hanya jasa di bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, kenang Cak Imin, KH Idham Chalid merupakan sosok pemimpin PBNU yang juga berhasil merangkul dengan erat kehidupan umat beragama di Indonesia yang sangat beragam. Hubungan negara dengan agama, kata Cak Imin, terasa harmonis dengan sentuhan dari KH Idham Chalid. "Beliau adalah sosok yang benar-benar mampu menjaga hubungan yang baik antara negara dengan agama. Kita doakan segala dosa-dosa almarhum diampuni dan arwahnya diterima di sisi Allah SWT," imbuhnya.
Meninggalnya Kiai Haji Idham Chalid merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia, yang telah memberi warna perjalanan bangsa melalui kiprahnya baik semasa Orde Lama maupun Orde Baru. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fatah Ciomas, Kabupaten Bogor, KH Saeful Millah Hasbi, mengatakan, pengabdian terbesar diberikan oleh Idham kepada bangsa ini melalui kiprahnya di Nahdlatul Ulama (NU).
Idham tercatat menakhodai ormas Islam terbesar di Indonesia itu selama 28 tahun mulai 1956 hingga 1984. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI tahun 1972-1977. Saat memimpin NU, Idham merupakan tokoh kunci dalam berbagai fase krusial perjalanan yang dilalui Indonesia. Bahkan ia menjadi tokoh kunci dalam fase-fase genting yang dijalani Indonesia.
Saat muda Idham ikut berjuang mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi, yang telah diduduki selama 350 tahun lamanya. Begitu juga saat terjadinya peristiwa revolusi fisik yaitu transisi dari era penjajahan ke kemerdekaan, Idham menjadi salah satu tokoh pelaku sejarah.
Idham juga berada di pusat pusaran peristiwa saat penumpasan pemberontakan PKI tahun 1965-1966. "Saat itu NU berhadap-hadapan secara langsung dalam konfrontasi dengan PKI," ujarnya.
Saat Orde Baru berkuasa, ketika semua orang dihantui rasa takut oleh rezim militer yang bertahta selama 32 tahun, Idham pun menjadi tokoh kunci percaturan nasional baik melalui NU maupun melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berdiri tahun 1975.
Menurut Saeful Millah, pengabdian tanpa pamrih dan sumbangan besar yang diberikan Kiai Idham kepada bangsa ini, patut diapresiasi bersama baik oleh masyarakat maupun negara. "Wafatnya Kiai Idham merupakan kehilangan besar bagi bangsa ini," ujar Saeful Millah. Hal senada diutarakan oleh Nailul Abrar, aktivis Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Pertanian Bogor (IPB). Dia mengatakan, Kiai Idham merupakan tokoh besar yang pernah dimiliki bangsa ini. "Kiai Idham merupakan salah satu putra terbaik yang dilahirkan NU. Beliau sebagai salah satu pemimpin besar yang pernah dimiliki Indonesia," ungkapnya.
(http://nasional.kompas.com sebagaimana dikutip oleh http://topnews89.blogspot.com )

IDHAM CHALID

Nama :
IDHAM CHALID

Lahir :
Setui, Kalimantan Selatan, 5 Januari 1921

Agama :
Islam

Pendidikan :
- Madrasah Mualimin Tinggi, Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, (1942)
- Universitas Al Azhar, Kairo (Doktor HC, 1959)


Karir :
- Guru Madrasah Pondok Pesantren Gontor (1940)
- Direktur Normal School Islam, Amuntai (1945)
- Anggota Dewan Daerah Banjar (1947)
- Anggota DPR RIS (1949-1950)
- Ketua Lembaga Pendidikan Maarif Nahdatul Ulama (NU) 1952-1956
- Anggota DPRGR (1955)
- Wakil Perdana Menteri II (1956-1957 dan 1966)
- Ketua Umum PB Nahdatul Ulama (1956-1984)
- Menteri Kesra (1967-1970)
- Menteri Sosial Ad Interim (1970-1971)
- Ketua DPR/MPR (1971-1977)
- Ketua, kemudian Presiden Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
- Ketua Dewan Pertimbangan Agung (1977-1983)

Alamat Kantor :
Jalan Ki S. Mangunsarkoro 51, Jakarta Pusat
Idham Chalid terbilang salah seorang dari sedikit politisi Indonesia yang mampu bertahan pada ''segala cuaca''. Bekas Ketua Partai Masyumi Amuntai, Kalimantan, ini dalam Pemilu 1955 berkampanye untuk Partai NU. Dan hasilnya ia menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet AliwRoemwIdham. Sejak itu, Idham terus-menerus berada dalam lingkaran kekuasaan.
Terbukti, sambil berada di puncak pimpinan NU, ia menjadi Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (PNI), 1956-1957. Saat Orde Lama jatuh, 1966, Idham yang dinilai dekat dengan Bung Karno ini tetap mampu bertahan. Ia menjadi Menteri Kesejahteraan Rakyat, dan setelah itu Ketua MPR/DPR dan Ketua DPA. Ketika partai-partai Islam berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan, bekas guru agama Pondok Pesantren Modern Gontor ini menjadi ketuanya yang pertama.
Maka, tidak ayal, ada yang menilainya sebagai tokoh yang suka mengikuti arus. ''Itu penilaian orang, terserah saja. Saya 'kan tidak hanyut,'' ujar Idham.Dalam usia yang kian senja (65 tahun pada 1986), tidak hanya penyakit yang datang. Mei 1982, ketika sakit lehernya kambuh, serombongan tokoh NU memintanya menyerahkan kepemimpinan organisasi itu kepada K.H. Ali Ma'sum. ''Karena kesehatan Pak Idham,'' kata mereka mengemukakan alasan. Mulanya Idham setuju, kemudian ketika mendapat desakan dari 17 Wilayah NU, ia mencabut kembali pernyatan pengunduran dirinya.
Dari sinilah mulanya timbul istilah Kelompok Cipete -- kubu Idham Chalid -- dan Kelompok Situbondo. Perbedaan pendapat yang sebenarnya berpangkal pada rasa tidak puas sejumlah tokoh NU terhadap daftar calon Pemilu 1982 susunan DPP PPP itu berakhir pada kesempatan tahlilan memperingati meninggalnya para pendiri NU (K.H. Wachid Hasyim, K.H. Wahab Abdullah, dan K.H. Bisrie Syansuri) di Surabaya, September 1984.
Ulama ini mahir berbahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Jepang. Untuk bahasa Jerman dan Prancis, ia menguasainya secara pasif. Idham adalah penyandang gelar doktor honoris causa dari Universitas Al Azhar, Kairo.
Setelah tidak memimpin lagi baik NU maupun PPP, Idham kini lebih banyak berada di Cipete, tempat ia memimpin pesantren yang tidak begitu besar. Untuk memperingati hari-hari besar Islam, ia lebih suka memakai sebuah rumah di Jalan Mangunsarkoro, Jakarta Pusat, yang selalu disertai dengan pengajian besar-besaran. Akhir-akhir ini, untuk mengobati sakit lehernya itu, Idham acap mondar-mandir ke Singapura dan Jepang.
( Sumber : http://www.pdat.co.id )

KIAI HAJI IDHAM CHALID WAFAT
Editor: Ignatius Sawabi
BOGOR, KOMPAS.com — Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya dengan wafatnya Ketua DPR/MPR periode 1972-1977, Doktor Kiai Haji Idham Chalid, pada Minggu (11/7/2010) pukul 08.00 WIB di rumah almarhum di Pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan.
Saiful Hadi, salah seorang putra almarhum, mengemukakan, "Ayah meninggal dunia tadi pagi pukul 08.00 WIB di Cipete dan pemakamannya pada Senin besok di Pesantren Darul Quran, Cisarua, Bogor."
Kiai Haji Idham Chalid meninggal dunia setelah sebelumnya selama sembilan tahun berjuang melawan penyakit stroke. Sejak sembilan tahun silam, Ketua DPR/MPR 1972-1977 itu terkena serangan jantung yang dahsyat pada 1999.
"Pada serangan jantung itu terjadi, Bapak terkena lumpuh total dan tak bisa bicara," kata Saiful. Selain tak bisa berbicara, kata dia, untuk makan pun sang ayah harus dibantu dengan selang yang dimasukkan ke saluran pencernaannya di perut (sounde).
"Makanan pun harus dihaluskan dan disaring sebelum masuk ke selang tersebut," ujar Saiful.
( Sumber : http://nasional.kompas.com )

KH IDHAM CHALID
(Ulama & Politisi Pelaku Filosofi Air)
KH Idham Chalid kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, seorang ulama dan politikus pelaku filosofi air. Dia seorang tokoh Indonesia yang pernah menjadi pucuk pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama). Juga pernah memimpin pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.
Laksana air, peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, ini seorang tokoh nasional, yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya. Demikian pula sebagai politisi, ia mampu melakukan gerakan strategis, kompromistis, bahkan pragmatis.
Dengan sikap dan peran ganda demikian, termasuk kemampuan mengubah warna kulit politik dan kemampuan beradaptasi terhadap penguasa politik ketika itu, ulama dari Madrasah Pondok Modern Gontor, ini tidak kuatir mendapat kritikan dan stereotip negatif sebagai tokoh yang tidak mempunyai pendirian, bunglon bahkan avonturir.
Peran ganda dan kemampuan beradaptasi dan mengakomodir itu kadang kala membuat banyak orang salah memahami dan mendepksripsi diri, pemikiran serta sikap-sikap socio-polticnya.
Namun jika disimak dengan seksama, sesungguhnya KH Idham Chalid yang berlatarbelakang guru itu adalah seorang tokoh nasional (bangsa) yang visi perjuangannya dalam berbagai peran selalu berorientasi pada kebaikan serta manfaat bagi umat dan bangsa.
Dengan visi perjuangan seperti itu, pemimpin NU selama 28 tahun (1955-1984), itu berpandangan tak harus kaku dalam bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila, tidak jarang adanya tekanan keras dari pihak penguasa serta partai politik dan Ormas radikal.
Sebagaimana digambarkannya dalam buku biografi berjudul "Idham Chalid: Guru Politik Orang NU" yang ditulis Ahmad Muhajir (Penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Juni 2007) bahwa seorang politisi yang baik mestilah memahami filosofi air.
"Apabila air dimasukkan pada gelas maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember ia akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke temapat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Bila dibuatkan kanal ia mampu menghasilkan tenaga penggerak turbin listrik serta mampu mengairi sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia. (Hal 55)
Sebagai ulama dan politisi pelaku filosofi air, Idham Chalid dapat berperan sebagai tokoh yang santun dan pembawa kesejukan. Apresiasi ini sangat mengemuka pada acara peluncuran buku otobiografi: "Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah", di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis 6 Maret 2008.
Buku otobiografi Idham Chalid itu diterbitkan Yayasan Forum Indonesia Satu (FIS) yang dipimpin Arief Mudatsir Mandan, yang juga anggota Komisi I DPR dari PPP, juga selaku editor buku tersebut. Idham Chalid sendiri tengah terbaring sakit di rumahnya Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.
“Saya kira tidak ada tokoh yang bisa seperti beliau. Ketokohannya sangat menonjol, sehingga pernah memimpin partai politik pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP,” kata Wapres Jusuf Kalla mengapresiasi sosok Idham Chalid, saat memberi sambutan pada acara peluncuran buku tersebut.
”Beliau itu moderat, bisa diterima di ’segala cuaca’, berada di tengah, oleh sebab itu ia bisa diterima di mana-mana. Ia berada di tengah titik ekstrem yang ada,” ujar Kalla dihadapan sejumlah undangan, antara lain Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, dan sejumlah anggota kabinet dan DPR.
Menurut Jusuf Kalla, sikapnya yang moderat hanya bisa dijalankan oleh orang yang santun. "Hanya orang santunlah yang bisa bersikap moderat,” puji Jusuf Kalla untuk menegaskan bahwa Idham Chalid merupakan sosok ulama dan politisi yang moderat dan santun. Itulah sebabnya, ia bisa diterima di berbagai era politik dan kepemimpinan bangsa.
Menurut Wapres, jika berada di titik yang sama ekstremnya, maka selain demokrat, sosok politik orang yang menjalani itu sudah pasti santun. ”Karena itu, sikap yang santun bisa menjaga suasana kemoderatan,” katanya.
Idham Chalid yang memulai karir politik dari anggota DPRD Kalsel, seorang ulama karismatik, yang selama 28 tahun memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pernah menjadi Wakil Perdana Menteri pada era pemerintahan Soekarno, Menteri Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Sosial pada era pemerintahan Soeharto dan mantan Ketua DPR/MPR. Idham juga pernah menjadi Ketua Partai Masyumi, Pendiri/Ketua Partai Nahdlatul Ulama dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Sementara itu, editor buku, Arief Mudatsir Mandan, mengemukakan, Idham Chalid satu-satunya Ketua Umum PBNU yang paling lama dan bukan ”berdarah biru” NU. Menurutnya, selama kepemimpinan Idham, NU tidak pernah bergejolak. Kendati ia sering dinilai lemah, tetapi sebenarnya itulah strateginya sehingga bisa diterima berbagai zaman,” ujar Arief Mudatsir Mandan. ►ti/mangatur l paniroy
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
( Sumber : http://www.satuiku.com )

SELAMAT JALAN KH IDHAM CHALID
Penulis : Amahl Sharif Azwar
JAKARTA--MI: Salah seorang putra bangsa kembali meninggalkan bumi pertiwi. Ulama KH Idham Chalid meninggal dunia pada pukul 8.00 WIB di kediamannya, Cipete, Minggu (11/7).
Idham Chalid wafat karena memburuknya kesehatan pada usia 88 tahun. Pria kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921 ini juga seorang seorang tokoh yang pernah menjadi pucuk pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama). Ia pun pernah memimpin pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.
Jenazah Idham Chalid disemayamkan di Pesantren Darul Ma'arif, Cipete, Jakarta Selatan sebelum dikebumikan di Pemakaman Darul Quran, Cisarua, Bogor sesuai amanah almarhum.
"Ia sudah dirawat selama sebelas tahun karena terkena stroke dan lumpuh," papar salah satu rekan Idham Chalid kepada Media Indonesia. "Ia berpesan agar yayasan pendidikan yang ia bangun agar tidak dijadikan komersial dan terus dilanjutkan secara sosial oleh anak-anaknya."
Idham Chalid meninggalkan 16 putra-putri dan 40 orang cucu. Ketika berita ini ditulis, politisi Agum Gumelar telah hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. (*/OL-3)
( Sumber : http://www.mediaindonesia.com )


PRESIDEN SBY: IDHAM CHALID SEORANG TOKOH BESAR, DENGAN PEMIKIRAN BESAR DAN JASA SANGAT BESAR

Jakarta-Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan KH.Dr. Idham Chalid adalah tokoh besar bangsa dengan pemikiran yang besar pula. Dalam sambutan takziahnya di rumah duka kawasan Pondok Pesantren Darul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, Senin 12/7, Presiden menyatakan Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaik bangsa dengan meninggalnya Idham Chalid pada usia 88 tahun Minggu 11 Juli 2010 pukul 08.00 WIB. "Kita mengenal beliau adalah tokoh besar dengan pemikiran besar dan jasa sangat besar pula," ujar Kepala Negara yang datang melayat tanpa didampingin Ani Yudhoyono. Di bidang pemerintahan, kata Presiden, Idham Chalid telah aktif bergelut sejak usia muda dengan dua kali menjabat wakil perdana menteri II pada era mantan Presiden Soekarno.
Setelah pergantian kepemimpinan kepada Presiden Soeharto, Idham pun melanjutkan pengabdiannya kepada negara dengan menjabat sejumlah posisi menteri, Ketua MPR/DPR, dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Di bidang pergerakan dan organisasi Islam, kata Presiden, Idham yang meninggal dunia setelah sepuluh tahun berjuang melawan penyakit stroke dideritanya juga meninggalkan nama besar karena 28 tahun memimpin Nadhlatul Ulama dengan segala kepemimpinan dan prakarsanya.
"Kita mengenang beliau pada saat penataan kehidupan politik di Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto. Beliau juga seorang tokoh arsitek yang dengan kearifan luar biasa ikut menata kehidupan partai politik dan diterima dengan ikhlas oleh semua," tutur Presiden.
Menurut Presiden, jasa Idham Chalid terlalu banyak untuk diungkapkan dalam bidang pemerintahan, kehidupan negara, serta kemajuan berpikir umat Islam. "Sampai dengan kegiatan politik yang penuh dengan amanah dan pikiran-pikiran yang aplikatif dan bisa diterima oleh semua pihak," ujarnya.
Atas nama negara, pemerintah, dan pribadi, Presiden mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga besar Idham Chalid. Kepala Negara juga mendoakan agar mendiang mendapat tempat kembali yang baik di sisi Allah SWT.

( Sumber : http://www.babinrohis-nakertrans.org )

KH Idham Khalid, Tokoh Kharismatik NU

di unggah oleh redaksi: 8 bulan, 3 minggu yang lalu
Bagikan |

KH IDHAM KHALID, TOKOH KHARISMATIK NU
MediaHaji.com, Jakarta - Almarhum KH Idham Chalid tercatat sebagai tokoh yang paling lama memimpin Nahdlatul Ulama (NU). Dalam usia 34 tahun, Kiai Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Pada tahun 1984, posisi Kiai Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai ormas yang tidak terlibat politik praktis.
KH Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, adalah anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H. Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin.
Beliau wafat pukul 8, Ahad 11 Juli 2010. Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.
Selain tercatat sebagai salah satu tokoh besar bangsa ini pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru. Kiai Idham juga tercatat sebagai "Bapak" pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktunya dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di bilangan Cipete.
Menurut buku "Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid" yang disunting oleh Arief Mudatsir Mandan, beliau hanyalah putra kampung yang merintis karier dari tingkat yang paling bawah, sebagai guru agama di kampungnya. Tapi kegigihannya dalam berjuang, dan kesungguhannya untuk belajar dan menempa pribadi, telah mengantar dirinya ke puncak kepemimpinan nasional yang disegani.
Kalangan pengamat politik Indonesia, banyak mencatat bahwa Idham Chalid merupakan salah seorang dari sedikit politisi Indonesia yang mampu bertahan pada segala cuaca. Ia pernah menjadi Ketua Partai Masyumi Amuntai, Kalimantan Selatan, dan dalam Pemilu 1955 berkampanye untuk Partai NU.
Ia pernah pula menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali-Roem-Idham, dalam usia yang masih sangat belia, 34 tahun. Sejak itu Idham Chalid terus menerus berada dalam lingkaran kekuasaan. Di organisasinya, ia dipercaya warga nahdliyyin untuk memimpin NU di tengah cuaca politik yang sulit, dengan memberinya kepercayaan menjabat sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU selama 28 tahun (1956 - 1984).
Di samping berada di puncak kekuasaan pimpinan NU, ia juga dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (PNI), 1956 - 1957. Saat kekuasaan Bung Karno jatuh pada 1966, Idham Chalid yang dinilai dekat dengan Bung Karno ini tetap mampu bertahan.
Bahkan, Presiden Soeharto memberinya kepercayaan selaku Menteri Kesejahteraan Rakyat (1967 - 1970), Menteri Sosial Ad Interim (1970 - 1971) dan setelah itu Ketua MPR/DPR RI (1971 - 1977) dan Ketua DPA (1977 -1983).
Ketika partai-partai Islam berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan, pada tanggal 5 Januari 1973, mantan guru agama Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo ini menjadi ketua, sekaligus Presiden PPP.
Dari sisi wawasan keilmuwan dbeliau dikenal sebagai ulama yang mahir berbahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Jepang. Ia juga menyandang gelar doctor honoris causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Idham Chalid merupakan khazanah yang tak ternilai bagi bangsa ini, khususnya PPP dan NU. (Farid/NUOnline)

( Sumber : http://www.mediahaji.com )


DR KH IDHAM CHALID
Dari Politik Beralih ke Pesantren

IA MENJABAT KETUA UMUM PBNU SELAMA HAMPIR TIGA DASAWARSA.
Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Makassar, baru saja berakhir pada Ahad (28 Maret 2010) dengan terpilihnya Rais Aam KH Sahal
Mahfudz dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Said Aqil Siradj periode kepemimpinan 2010-2015. Kedua duet ini diharapkan mampu mengembalikan kejayaan NU.
Ketika semua mata tertuju pada perhelatan Muktamar ke-32 NU di Makassar itu, mungkin ada satu hal yang terlupakan oleh para muktamirin. Dialah Dr KH Idham Chalid. Dr KH Idham Chalid, yang telah memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu selama kurang lebih tiga dasawarsa (tepatnya 28 tahun-Red), kini tengah terbaring sakit di kediamannya di Cipete, Jakarta Selatan. Beliau sedang berjuang melawan penyakit lumpuh yang menginggapinya sejak beberapa tahun terakhir.
Diceritakan oleh Syaiful Hadi Chalid; pada acara pembukaan, ketika pimpinan rapat mengajak hadirin membacakan doa untuk para pengurus NU yang masih hidup, yang disebut hanya KH Sahal Mahfudz dan KH Hasyim Muzadi, tanpa menyebut nama Idham Chalid.
Mengapa nama Idham Chalid tidak disebut? Padahal, selama 28 tahun, dia menjadi ketua umum PBNU (1956-1984), ketua Umum PBNU yang paling lama selama ini. "Mungkin, banyak yang mengira, Ayah sudah meninggal dunia," ujar putra Idham, Syaiful Hadi Chalid, kepada Republika.
Alasan ini masuk akal. Karena, lebih dari 10 tahun, tokoh kelahiran Amuntai, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 88 tahun lalu itu sedang berbaring sakit. Dalam keadaan lumpuh dan tidak bisa bicara, dia dirawat di kediamannya di Cipete, Jakarta Selatan, yang merupakan bagian dari kompleks Daarut Maarif yang didirikannya pada tahun 1983 saat tidak aktif lagi di bidang politik. Perguruan Islam yang sampai kini masih berkembang baik didirikan sebagai bentuk komitmen Idham Chalid untuk menekuni bidang dakwah.
Sebelum menjadi ketua umum PBNU, pada Muktamar ke-19 NU di Palembang (28 April-1 Mei 1952), Idham Chalid datang sebagai utusan dari wilayah Kalimantan Selatan dan anggota pengurus PBNU. Pada muktamar ini, Idham dinobatkan sebagai sekretris PBNU. "Di Palembang inilah, NU memutuskan memisahkan diri dan menjadi partai politik sendiri pisah dari Masyumi. KH Masykur terpilih sebagai ketua umum dan saya menjadi sekretaris," ujar Idham Chalid sebagaimana dikisahkannya dalam buku

NAPAK TILAS PENGABDIAN IDHAM CHALID.
Idham mengakui, banyak reaksi yang muncul terhadap keputusan NU ini. Bahkan, ada yang menganggap sebagai kebijakan yang sangat keras dan dianggap dapat memecah umat Islam. Tapi, tokoh Masyumi, Dr Sukiman Wirjosanjojo, memaklumi keputusan keluarnya NU dari Masyumi.
Tak ada yang menyangka, keputusan NU keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik tersendiri akan mampu bersaing dengan partai politik lainnya. Dalam Pemilu 1955 itu, NU tampil sebagai kekuatan terbesar ketiga setelah PNI dan Masyumi.
Sejak itulah, karier Idham makin berkibar. Ia sempat menduduki sejumlah posisi penting. Di bidang eksekutif, ia beberapa kali ditunjuk menjadi menteri, termasuk wakil PM pada Kabinet Ali Sastroamidjojo.

KETIKA BUNG KARNO JATUH, PAK HARTO

menunjuknya sebagai anggota Presidium Kabinet Ampera bersama Sultan Hamengku Buwono IX dan Adam Malik. Idham yang menguasai bahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Jepang diangkat menjadi ketua MPR/DPR (1971-1977).

DEMOKRASI TERPIMPIN
Ketika Dekrit Presiden diumumkan pada 5 Juli 1959, saat itu pula Demokrasi Terpimpin ditegakkan. Pada 9 Juli 1959, susunan Kabinet Kaiya diumumkan dan Soekarno sebagai PM. Bung Karno kemudian membubarkan Masyumi dan PSI ketika kedua partai ini mengancam tidak menyetujui anggaran negara. Sebaliknya, Masyumi dan PSI membentuk Liga Demokrasi. Tidak lama kemudian, DPR Gotong Royong terbentuk.
NU mengalami perbedaan pendapat mengenai keabsahan keikutsertaannya dalam DPR GR ini. Di satu pihak, KH Bisri Syansuri, KH Dahlan, Imron Rosyadi, dan KH Achmad Siddiq menganggap DPR GR antidemokrasi. Bagi KH Bisri, ikut serta dalam sebuah DPR yang anggota-anggotanya tidak seluruhnya dipilih rakyat bertentangan dengan fikih.
Di lain pihak, KH Wahab Hasbullah menjelaskan bahwa NU tidak punya pilihan. Ia memaparkan semuanya, dari kemungkinan dilarangnya NU hingga keluarnya partai tradisional dari pemerintahan. Baginya, umat Islam belum siap melakukan politik konfrontasi menghadapi penguasa. Apabila NU ingin meninggalkan DPR. ia akan selalu melaksanakannya.
Idham selaku ketua umum dan sekjen Saifudin Zuhri menyatakan bahwa kebijakan PBNU memberi kesempatan kepada anggota NU yang ditunjuk kepala negara duduk dalam Kabinet Kaiya dan Dewan Nasional. Hal ini didasarkan untuk mencegah datangnya mudarat yang lebih besar daripada mencari kebalikan sebagaimana kaidah fikih yang berbunyi, Darul mafasid muqaddamum ala jalb al-masalih.

BERSAING KETAT
Dalam jabatannya sebagai orang nomor satu di PBNU, karier Idham Chalid tidak selalu mulus. Ada pernak-pernik yang timbul selama masa kepemimpinannya.
Pada tahun 1970, dalam Muktamar NU di Surabaya, Idham bersaing ketat dengan Subchan ZE, tokoh muda NU yang sedang menanjak dan kala itu menjabat sebagai ketua I PBNU. Penulis, yang ketika itu ikut meliput Muktamar NU pada 40 tahun lalu, menyaksikan bagaimana kedua kubu saling bertarung. Pertarungan antarkedua kandidat ini semakin besar dengan munculnya suara-suara dari pendukungnya.
Dalam menghadapi pers, penulis menyaksikan gaya Idham Chalid yang tampak lebih tenang. Lebih-lebih saat berhadapan dengan para ulama. Ia menunjukkan sikap yang tawadhu.
Melihat kondisi yang demikian memanas, penulis awalnya memperkirakan bahwa persaingan itu akan dimenangkan oleh Subchan. Apalagi, dia sangat berperan dalam aksi-aksi pengganyangan Gestapu/PKI. Subchan adalah tokoh yang mendapat dukungan kelompok muda NU.
Namun, berkat kepandaian dan karismanya, Idham Chalid tetap dipercaya peserta muktamar untuk kembali memimpin NU.
Dalam Muktamar ke-27 NU tahun 1984 di Situbondo, Jawa Timur, yang dibuka oleh presiden Soeharto, terjadi keputusan penting. NU kembali ke Khitah 1926 yang menyatakan NU tidak lagi menjadi partai politik. Karena itu, NU tidak melakukan kegiatan politik praktis. Akan tetapi, seperti tulis Idham, sebenarnya gagasan untuk kembali ke Khitah 1926 telah diambil dalam beberapa muktamar sebelumnya. Salah satunya adalah Muktamar ke-23 tahun 1962 di Solo. Pada muktamar di Surabaya tahun 1971, juga muncul gagasan kembali ke Khitah 1926 dan juga muktamar di Semarang (1979).
Meski sudah sangat jelas, ternyata gagasan kembali ke Khitah 1926 baru sampai pada tingkat konsepsional. Sehingga, selama periode lima tahun setelah Muktamar ke-26, posisi NU tetap mengambang dan serbacang-gung dalam melangkah. Kaki yang satu sudah berada di luar PPP, tapi kaki yang lain masih terbenam di dalamnya. Posisi ini oleh sebagian ulama dirasakan sebagai krisis identitas.
Situasi ini telah menimbulkan konflik secara internal di kalangan ulama NU. Situasi ini semakin memprihatinkan setelah wafatnya Rais Aam PBNU.KH Bisri Syansuri dan sakitnya ketua umum Idham Chalid. Saat itu, semakin memanas perselisihan antara kelompok Cipete dan kelompok Situbondo. Kedua-duanya mendapatkan dukungan para ulama dan pimpinan NU di daerah-daerah. NU hampir terpuruk dalam jurang perpecahan.
Pada 2 Mei 1982, Idham Chalid didatangi empat ulama senior yang memintanya untuk mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Awalnya, Idham sempat memutuskan mengundurkan diri. Namun, pada 14 Mei 1982, Idham menegaskan, dirinya tetap berkiprah di NU hingga akhir kepemimpinannya. Pada Muktamar NU di Situbondo tahun 1984, Idham resmi mundur dari kepengurusan PBNU. Ia pun kemudian kembali ke jalurnya, berdakwah dan mengurusi lembaga pendidikan.
Tapi, Idham menjelaskannya kepada penulis bahwa seperti tradisi NU, perbedaan antara kedua kubu tidak sampai membawa permusuhan. Setelah saling memaafkan, para kiai sepuh dan Idham sering bertemu. Tidak ada dendam dan kebencian dalam hati saya," tutur Idham saat itu kepada Republika. ) sya
Dr KH Idham Chalid, yang telah memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu selama kurang lebih tiga dasawarsa (tepatnya 28 tahun-Red), kini tengah terbaring sakit di kediamannya di Cipete, Jakarta Selatan. pada acara pembukaan, ketika pimpinan rapat mengajak hadirin membacakan doa untuk para pengurus NU yang masih hidup, yang disebut hanya KH Sahal Mahfudz dan KH Hasyim Muzadi, tanpa menyebut nama Idham Chalid. Dalam keadaan lumpuh dan tidak bisa bicara, dia dirawat di kediamannya di Cipete, Jakarta Selatan, yang merupakan bagian dari kompleks Daarut Maarif yang didirikannya pada tahun 1983 saat tidak aktif lagi di bidang politik. Sebelum menjadi ketua umum PBNU, pada Muktamar ke-19 NU di Palembang (28 April-1 Mei 1952), Idham Chalid datang sebagai utusan dari wilayah Kalimantan Selatan dan anggota pengurus PBNU. KH Masykur terpilih sebagai ketua umum dan saya menjadi sekretaris," ujar Idham Chalid sebagaimana dikisahkannya dalam buku Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid. Tak ada yang menyangka, keputusan NU keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik tersendiri akan mampu bersaing dengan partai politik lainnya. Idham selaku ketua umum dan sekjen Saifudin Zuhri menyatakan bahwa kebijakan PBNU memberi kesempatan kepada anggota NU yang ditunjuk kepala negara duduk dalam Kabinet Kaiya dan Dewan Nasional. Pada tahun 1970, dalam Muktamar NU di Surabaya, Idham bersaing ketat dengan Subchan ZE, tokoh muda NU yang sedang menanjak dan kala itu menjabat sebagai ketua I PBNU. NU kembali ke Khitah 1926 yang menyatakan NU tidak lagi menjadi partai politik.

( Sumber : http://www.republika.co.id )

JENAZAH IDHAM CHALID DIMAKAMKAN DI CISARUA BOGOR
(Redaktur: Siwi Tri Puji B Sumber: Ant)

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR--Jenazah KH Idham Chalid, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 1956-1984 dan Ketua DPR/MPR 1972-1977, akan dimakamkan di Pesantren Darul Quran Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Saiful Hadi, salah seorang putranya, mengemukakan bahwa almarhum menghembuskan napas terakhir Minggu pukul 08.00 WIB di rumah duka di Pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan.
"Ayah meninggal tadi pagi pukul 08.00 WIB. Mohon doanya, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT," kata Saiful Hadi yang juga Direktur Pemberitaan/Pemimpin Redaksi Perum LKBN Antara
Saiful mengatakan, pihak keluarga sudah bermusyawarah mengenai pemakaman sang ayah. "Jenazah almarhum akan dimakamkan di Bogor, tepatnya di Pesantren Darul Quran, Cisarua, Senin," katanya.
Pesantren Darul Quran merupakan lembaga pendidikan Islam yang dikelola keluarga K.H. Idham Chalid. Dia juga mengembangkan Pesantren Daarul Maarif yang lokasinya berada di sebelah kediamannya di Cipete Jakarta Selatan.
Idham Chalid dilahirkan pada 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Pemakaman Idham pada Senin karena sebagian putra-putri dan sanak familinya tinggal di Kalsel maupun berbagai daerah lain di Tanah Air.
Semasa hidup, sebagian besar kiprah Idham dihabiskan di panggung politik. Bahkan, sejak usia remaja, Idham sudah bersentuhan dengan politik melalui keterlibatannya di Nahdlatul Ulama (NU) yang saat itu sebagai salah satu partai politik (parpol) terbesar pemenang pemilu.
Panggung politik telah membesarkan nama Idham. Semasa hidup dia pernah diberi sejumlah amanat besar, yaitu sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1956-1984, Ketua DPR/MPR RI 1972-1977, dan sejumlah jabatan lain.
Selain itu, Idham juga tercatat sebagai tokoh pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Setelah tidak lagi terlibat di dunia politik, Idham mengabdi melalui jalur pendidikan dengan mengembangkan Pesantren Daarul Maarif di Cipete Jakarta dan Pesantren Darul Quran di Cisarua Bogor.
Sejak tahun 1999, kesehatan Idham menurun drastis menyusul serangan jantung dan stroke, yang membuatnya terbaring tak berdaya di atas tempat tidur hingga menghembuskan napas terakhir, Minggu.
"Kami mohon almarhum didoakan dan mohon dimaafkan bila semasa hidupnya pernah melakukan kesalahan," kata Saiful Hadi.

( Sumber : http://www.republika.co.id )





GELAR PAHLAWAN NASIONAL DIPERJUANGKAN UNTUK IDHAM CHALID

"Tim itu nanti yang menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan perjuangan mendapatkan gelar Pahlawan Nasional tersebut, termasuk melakukan komunikasi dengan berbagai pihak," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan (Kalsel) H. Ahmad Makkie, di Banjarmasin, Sabtu.
Usai tahlilan memperingati wafatnya K.H. Idham Chalid, dia mengatakan pembentukan tim dan gagasan memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional itu menindaklanjuti aspirasi yang tumbuh dan berkembangan di masyarakat, khususnya warga Kalsel.
Menurut mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia asal Daerah Pemilihan Kalsel itu, tidak berkelebihan atau wajar-wajar saja kalau masyarakat di provinsinya menginginkan/memperjuangkan agar tokoh urang Banjar yang menasional tersebut mendapat gelar Pahlawan Nasional.
Mantan Bupati Tapin dua periode itu mengemukakan, jasa-jasa almarhum tidak saja bagi daerah Kalsel atau Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) khususnya, tetapi lebih luas lagi, yaitu bagi negara dan bangsa Indonesia.
"Oleh karena itu, agar tidak kedahuluan orang lain, kami harus segera bersikap untuk memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional tersebut, dan sebagai langkah awalnya membentuk tim," demikian Makkie.
Mantan Gubernur Kalsel 1985-1995, H.M. Said menyambut positif atas gagasan memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional terhadap almarhum Idham Chalid. Bahkan, perjuangan tersebut perlu diambil alih pemerintah provinsi bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat.
"Akan lebih baik diambil alih atau dilakukan Pemprov bersama DPRD Provinsi Kalsel," kata mantan anggota DPD RI asal dari provinsi tersebut menyarankan.
Mengenai data pendukung untuk memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional, menurut peraih Pena Emas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu, hal tersebut mungkin tidak terlalu sulit sebab sudah ada buku sejarah almarhum.
Begitu pula, dalam buku yang dibuat almarhum Brigjen H. Hasan Basri yang mendapat julukan Bapak Geriliya Kalimantan itu menerangkan bahwa almarhum Idham Chalid juga seorang tokoh pejuang angkatan 45 dalam menegakkan kemerdekaan serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Dalam buku almarhum Hasan Basri tersebut diterangkan, Idham Chalid juga punya peran dalam mencegah berpisahnya Kalimantan dari NKRI, yang ketika itu digembar-gemburkan Dewan Banjar," ungkapnya.
"Bahkan, ketika itu (1948) Kalimantan mau menjadi negara sendiri dengan presidennya Sultan Hamid. Tapi, karena perjuangan Hasan Basri bersama kawan-kawan, termasuk almarhum Idham Chalid, Negara Kalimantan tidak pernah ada dan tetap dalam NKRI," demikian M. Said.
Pendapat dan dukungan senada dari H. Syafriansyah, mantan anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Dia menambahkan, ketokohan almarhum Idham Chalid bukan cuma menasional, melainkan juga internasional.
"Ketokohan Idham Chalid yang juga menginternasional itu, saya baca dalam bukunya Roeslan Abdul Gani, seorang politikus nasional yang cukup terkenal, baik pada masa Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto," demikian Syafriansyah.
Tim persiapan perjuangan untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional bagi almarhum Idham Chalid tersebut, antara lain H. Abdul Latif Hanafiah, anggota DPRD Kalsel, H. Kamarul Hidayat dari Banjar TN, dan Aliansyah dari Tabloid Serambi Ummah Banjarmasin Post Group. (KR-SHN//D007)
(Sumber :Antara; http://www.depdagri.go.id )

INMEMORIAM KH.IDHAM CHALID
TUHAN TELAH MEMANGGIL KH. IDHAM CHALID
Mantan ketua DPR/MPR periode 1972-1977 di era pemerintahan Soeharto, KH.Idham Chalid meninggal dunia pada minggu 11 Juli 2010, di rumahnya yang berdampingan dengan pondok pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan.
Menurut kompas.com politisi santun ini terkena serangan jantung yang dahsyat pada 1999, dan menderita stroke sehingga lumpuh total. “Pada serangan jantung itu terjadi, Bapak terkena lumpuh total dan tak bisa bicara,” kata Saiful Hadi, putra almarhum-seperti dilansir oleh kompas.com.
SEDIKIT SEJARAH SINGKAT
Idham Chalid lahir 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Putra sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, adalah seorang penghulu berasal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin.
Prestasi luar biasa dari Idham Chalid pada usia 34 tahun dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dan jabatan ketua umum PBNU ini diembannya selama 28 tahun. Yaitu sampai 1984,- yang selanjutnya tongkat kepemimpinan PBNU digantikan oleh KH.Abdurrahman Wahid,-yang akrap disapa Gus Dur. Dan ditangan Gusdur inilah NU kembali ke Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai ormas yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi terhadap partai mana pun.
Oleh pengurus PPP,- almarhum KH.Idham Chalid juga tercatat sebagai pendiri PPP. Setelah keluar dari dunia politik praktis orang tua dari Samsul Hadi ini melanjutkan kegiatan sehari-harinya di pesantren Daarul Maarif.
Selamat jalan KH.Idham Chalid,- karena tuhan telah memanggilmu kembali…
( Sumber : http://my.opera.com/etempos/blog )

KARANGAN BUNGA PENUHI RUMAH DUKA
Laporan Wartawan Tribunnews.com: Ferdinand

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Suasana rumah mantan ketua MPR/DPR pada periode 1971-1977, KH Idham Chalid Bin Muhammad Chalid mulai dipenuhi pelayat. Karangan bunga di rumah duka di Jl. RS Fatmawati no 45 tampak memenuhi rumah yang tergolong asri ini.
Pantauan Tribunnews.com, karangan bunga berasal dari Herawati Boediono, AM Fatwa, Lukman Hakim Saifudin dan Keluarga Besar KPU. Sejumlah tokoh pun terlihat hadir seperti Tokoh NU Slamet Efendi Yusuf, Agum Gumelar (mantan menhub), Abdul Hafiz Anshori (ketua KPU), Amidhan (Ketua MUI).
Idham Chalid lahir di Satui, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921 lalu. Sebelum dipanggil menghadap ilahi, Idham tercatat sebagai politikus dan juga aktivis keagamaan di PBNU. Idham bahkan pernah menjadi Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984.
Ketika NU masih bergabung dengan Masyumi pada 1950, Idham menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang Kalimantan Selatan. Dua tahun kemudian, Idham terpilih menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU (1952-1956).
Selaku politikus, Idham pernah juga menjabat anggota DPR RIS pada 1949-1950. Beberapa jabatan menteri juga sempat disandang. Pada 1966, Idham merupakan anggota presidium Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II. Setelah itu ia diangkat menjadi ketua MPR/DPR pada periode 1971-1977.
(Sumber : http://www.tribunnews.com)

PPP BERI KEHORMATAN PADA IDHAM CHALID
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suryadharma Alie menganggap bahwa tujuh hari tahlilan yang dilakukan PPP untuk almarhum KH Idham Chalid merupakan bentuk penghormatan yang diberikan kepada orang telah berjasa terhadap Islam, Negara Indonesia, dan PPP.
"Kita sudah melaksanakan tahlilan dari hari pertama sampai ke tujuh, beliau merupakan deklarato PPP yang memiliki jasa besar terhadap Islam, PPP, dan Indonesia. Untuk itu kita beri kehormatan dengan memberi tahlilan dari hari pertama sampai ketujuh yang tepat pada hari ini," terang Surya saat ditemui di Sekretariat DPP PPP, Jakarta Pusat, Sabtu (17/7/2010).
Lebih jauh Surya pun menambahkan bila dalam acara ini sekaligus juga untuk mengumpulkan para pendahulu dan senior PPP untuk memberikan testimoni terhadap Idham Chalid. "Para senior PPP pun juga diundang untuk membuat testimoni selama mereka bersama-sama beliau (Idham Chalid),"ujarnya.

Tidak hanya itu saja, acara ini pun juga sekaligus dalam rangka memperingati isra mi'raj dan sekalian legislasi diantara kader PPP. "Biasanya kalu sudah berkumpul, kita pasti membicarakan partai,"ujarnya.
Dalam acara ini terlihat tokoh-tokoh penting selain Suryadharma Alie, Ahmad Bawazier pun turut juga hadir dalam acara ini dan sejumlah pengurus PPP lainnya.
Acara yang dibuka pukul 08.00 WIB, langsung disusul dengan acara tahlilan untuk almarhum KH Idham Chalid yang dipimpin KH Nur Muhamad Iskandar. Saat ini mulai memasuki acara kedua PPP yaitu peringatan isra mi'raj.
(Sumber : http://www.tribunnews.com)


BOEDIONO HANYA MELAYAT LIMA MENIT
Laporan wartawan Tribunnews.com, Alie Usman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Presiden Boediono malam ini tiba di rumah duka almarhum KH Idham Cholid, di Jalan Fatmawati 45, Jakarta Selatan sekitar pukul 19.44 WIB. Wapres yang datang menggunakan batik lengan panjang warna cokelat kemerahan tersebut hanya melayat sekitar lima menit di kediaman almarhum.
Wapres dan rombongan langsung disambut pihak keluarga sesampainya di depan pintu rumah duka. Tak lama berselang, Boediono beserta rombongan langsung diajak menuju ruang persemayaman melihat jenazah almarhum untuk yang terakhir kalinya.
Lima menit berada di dalam rumah duka, Wapres yang terlihat sangat khusyuk berdoa di depan jenazah tersebut akhirnya meninggalkan rumah duka. Sebelum beranjak jauh dari rumah almarhum, Wapres yang terlihat segar tersebut sempat menyampaikan kesan terakhirnya tentang almarhum KH Idham Cholid di depan kamera wartawan.
"Almarhum KH Idham Cholid, beliau adalah politisi ulama yang selalu menyejukan," ujar Wapres singkat sambil berjalan menuju mobil. Sebelum pulang, Wapres sempat dihadang Maftuh Basyuni. Boediono kemudian terlihat menyempatkan diri duduk berdampingan dengan mantan Menteri Agama tersebut di kursi tamu yang berada dalam tenda yang berada di halaman rumah duka.
Kurang lebih sekitar tiga menit Wapres berbincang dengan Maftuh Basyuni. Percakapan yang terlihat hangat tersebut akhirnya berakhir sekitar pukul 19.53 WIB. Usai berbincang dengan Wapres, Maftuh dan pihak keluarga almarhum akhirnya mengantar Wapres menuju mobilnya. Wapres yang menggunakan mobil berplat nomor B1190 RFS tersebut langsung meninggalkan lokasi bersama dengan rombongan.
(Sumber : http://www.tribunnews.com)


PRESIDEN SBY TURUT BERBELASUNGKAWA
Laporan Wartawan Tribunnews.com: Ferdinand

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono turut berbelasungkawa atas meninggalnya mantan Ketua MPR-DPR RI periode 1971-1977, KH Idham Chalid. Hal ini terlihat dari karangan bunga yang dikirimkan Presiden kepada keluarga Alm. Idham Chalid di Jl Fatmawati No. 45, Jakarta Selatan, Minggu (11/7/2010).
Karangan bunga berlatar belakang warna biru itu diletakkan di pintu masuk kediaman mantan anggota DPR RIS itu. Rencananya, Presiden SBY akan melayat almarhum Idham Chalid, Senin (11/7/2010).
SBY akan hadir sebelum jenazah diberangkatkan ke peristirahatan terakhirnya di Pondok Pesantren Cisarua, Bogor, sekitar pukul 08.00 WIB.
Pengamatan Tribunnews.com, pelayat semakin banyak mengunjungi rumah duka, di antaranya mantan wakil Presiden RI, Hamzah Haz, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Mantan Menakertrans Fahmi Idris, dan Ketua Umum MUI Amidhan.
Idham Chalid lahir di Satui, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921 lalu. Sebelum dipanggil menghadap ilahi, Idham tercatat sebagai politikus dan juga aktivis keagamaan di PBNU.
Idham bahkan pernah menjadi Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984.
Ketika NU masih bergabung dengan Masyumi pada 1950, Idham menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang Kalimantan Selatan. Dua tahun kemudian, Idham terpilih menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU (1952-1956).
Selaku politikus, Idham pernah juga menjabat anggota DPR RIS pada 1949-1950. Beberapa jabatan menteri juga sempat disandang.
Pada 1966, Idham merupakan anggota presidium Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II. Setelah itu ia diangkat menjadi ketua MPR/DPR pada periode 1971-1977.
(Sumber : http://www.tribunnews.com)


IDHAM MENOLAK JADI PRESIDEN KARENA TAK INGIN JAUH DARI ALIM ULAMA
Laporan Wartawan Tribunnews.com: Ferdinand

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - KH. Idham Chalid ternyata sempat dicalonkan menjadi Presiden RI, namun tawaran itu ditolaknya. Idham beralasan protokoler Istana dapat membuatnya jauh dari masyarakat dan alim ulama Indonesia.
Demikian ditegaskan mantan Wakil Presiden RI, Hamzah Haz usai melayat Idham Chalid di kediamannya Jalan. RS. Fatmawati No 45, Fatmawati, Jakarta Selatan, Minggu (11/07/2010).
"Dengan berbagai pertimbangan, beliau tidak mau," imbuhnya.
Hamzah juga mengatakan bahwa sikap toleransi antar agama alm. Idham Chalid sangat tinggi sehingga mantan ketua MPR/DPR periode 1971/1977 itu diterima oleh berbagai kalangan.
"Kepemimpinannya dan kedekatannya dengan alim ulama itu yang luar biasa," terangnya.
Idham wafat pada umur 88 tahun karena sakit. Beliau akan dimakamkan,esok, Senin ( 12/07/2010) pukul 10.00 WIB di Pondok Pesantren Daarul Quran, Cisarua, Bogor. Mantan Ketua MPR itu meninggalkan 16 anak, 40 cucu dan 1 cicit.
(Sumber : http://www.tribunnews.com)

HAMZAH HAZ: BELIAU GURU SAYA
Laporan Wartawan Tribunnews.com: Ferdinand

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Wakil Presiden Era Megawati, Hamzah Haz melihat sosok almarhum Idham Chalid sebagai figur pemimpin yang patut diteladani. Berkat kepemimpinan Idham, kader-kadernya dapat menjadi tokoh penting di Indonesia.
"Almarhum mengantarkan kader-kadernya termasuk sampai saya menjadi wakil presiden," ujar Hamzah Haz di kediaman rumah duka Jl. RS Fatmawati no 45. Jakarta Selatan, Minggu (11/07/2010).
Hamzah juga menilai bahwa KH. Idham Chalid juga patut dicontoh dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana cara dia dalam melaksanakan ajaran agama.
"Bagaimanapun beliau adalah guru saya, guru besar saya," imbuhnya.
Idham wafat pada umur 88 tahun karena sakit. Beliau akan dimakamkan,esok, Senin ( 12/07/2010) di Pondok Pesantren Daarul Quran, Cisarua, Bogor. Mantan Ketua MPR itu meninggalkan 16 anak, 40 cucu dan 1 cicit.
(Sumber : http://www.tribunnews.com)

PBNU IMBAU WARGANYA DOAKAN ALMARHUM IDHAM CHALID

Jakarta (ANTARA) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya KH Idham Chalid dan mengimbau segenap warganya mendoakan tokoh yang selama 28 tahun memimpin organisasi itu.
“Atas nama PBNU kami mengucapkan belasungkawa yang sedalam dalamnya dan mengimbau warga Nahdliyin (sebutan untuk warga NU) ikut berdoa untuk beliau,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Minggu.
Said Aqil mengenang Kiai Idham Chalid, ketua umum PBNU dari 1956 hingga 1984, sebagai sosok ulama sekaligus politisi yang moderat dan santun.
“Beliau bisa diterima di mana-mana dan selalu berada di tengah, tidak ekstrim,” kata alumni Universitas Ummul Qura, Arab Saudi, dan beberapa pondok pesantren itu.
Kiai Idham Chalid (88) meninggal dunia di kediamannya di kawasan pendidikan Darul Ma`arif, Cipete, Jakarta Selatan, Minggu, sekira pukul 08.00 WIB, karena sakit yang diderita selama 10 tahun terakhir.
Semasa hidupnya, selain berkiprah di organisasi NU, sekaligus menjadi presiden partai ketika NU menjadi partai politik, Kiai Idham juga pernah menjabat sejumlah jabatan di pemerintahan dan kenegaraan, antara lain Wakil Perdana Menteri II di masa Orde Lama, Menteri Kesejahteraan Rakyat, Menteri Sosial Ad Interim, Ketua MPR/DPR, dan Ketua DPA di masa Orde Baru.
Menurut buku “Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid” yang disunting oleh Arief Mudatsir Mandan, tokoh muda NU dan politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kiprah dan peran Idham Chalid tergolong istimewa. Kalangan pengamat politik Indonesia, banyak mencatat bahwa Idham Chalid merupakan seorang dari sedikit politisi Indonesia yang mampu bertahan pada segala cuaca.
Dalam pandangan mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, sikap luwes Kiai Idham memang dimaknai berbeda berbagai pihak. Namun, sebagai pemimpin jamaah besar seperti NU, kearifan dan ketangguhan memang sangat dibutuhkan.
“Orang yang mengerti Pak Idham menyatakan beliau orang yang istiqomah dalam berbagai situasi, tetapi orang yang tidak cocok pasti mengatakan oportunis karena dari masa ke masa selalu mendapat tempat,” kata Hasyim.
(Sumber: http://www.infodiknas.com dikutif dari http://id.news.yahoo.com)


SELAMAT JALAN KH IDHAM CHALID

JAKARTA–MI: Salah seorang putra bangsa kembali meninggalkan bumi pertiwi. Ulama KH Idham Chalid meninggal dunia pada pukul 8.00 WIB di kediamannya, Cipete, Minggu (11/7).
Idham Chalid wafat karena memburuknya kesehatan pada usia 88 tahun. Pria kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921 ini juga seorang seorang tokoh yang pernah menjadi pucuk pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama). Ia pun pernah memimpin pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.
Jenazah Idham Chalid disemayamkan di Pesantren Darul Ma’arif, Cipete, Jakarta Selatan sebelum dikebumikan di Pemakaman Darul Quran, Cisarua, Bogor sesuai amanah almarhum.
“Ia sudah dirawat selama sebelas tahun karena terkena stroke dan lumpuh,” papar salah satu rekan Idham Chalid kepada Media Indonesia. “Ia berpesan agar yayasan pendidikan yang ia bangun agar tidak dijadikan komersial dan terus dilanjutkan secara sosial oleh anak-anaknya.”
Idham Chalid meninggalkan 16 putra-putri dan 40 orang cucu. Ketika berita ini ditulis, politisi Agum Gumelar telah hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. (*/OL-3).

(Sumber: http://www.infodiknas.com dikutip dari : http://www.mediaindonesia.com)

IDHAM CHALID PAHLAWAN, TUNGGU USULAN

ANAS URBANINGRUM MELAYAT JENAZAH IDHAM CHAID
Gelar pahlawan nasional untuk Dr KH Idham Chalid harus diusulkan secara resmi oleh Pemda tempat kelahiran, agar bisa segera diproses oleh Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan.
Menurut Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, pihaknya kini menunggu usulan resmi tersebut. Ia mengatakan, pihaknya mewarisi kearifan dan konsistensi tokoh sehingga perlu diteliti sejarah hidupnya secara rinci dan dinilai jasanya bagi kehidupan seluruh bangsa, bukan hanya bagi suatu kelompok/organisasi.
“Almarhum salah satu putra terbaik bangsa, bukan hanya pernah menjadi Ketua Umum PB NU dan pendiri PPP, tapi juga jadi Ketua DPR/MPR,” kata Mensos, Minggu malam (11/7) di Jakarta.
Almarhum Idham Chalid yang meningga dunia hari Minggu, sebenarnya telah mendapatkan bintang Mahaputra, sehingga berhak dimakamkan Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata. Namun, ujarnya, pihak keluarga meminta dimakamkan di Ponpes Darul Quran di Cisarua, Kabupaten Bogor, pagi ini (12/7).
Menurut Mensos, KH Idham Chalid adalah contoh figur politisi yang dekat dunia pendidikan dan keagamaan.
Usulan bagi gelar pahlawan untuk Idham Chalid disuarakan tokoh masyarakat Bogor, Hasanuddin. Di kota huja ini, semasa hidup almarhum pernah berdiam, tepatnya di Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor selama bertahun-tahun.
Idham Chalid, ujar Hasanuddin, merupakan seorang pemimpin besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia dinilai layak dianugerahi tanda jasa sebagai pahlawan nasional, karena sepanjang hidupnya ia telah memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.
“Kami berharap pemerintah memberikan apresiasi pada putra bangsa yang telah banyak berjuang untuk kepentingan nasional,” kata Hasanuddin, tokoh masyarakat Bubulak, Bogor.
Ditegaskannya bahwa tanpa keterlibatan Kiai Idham di kancah pergerakan nasional, Indonesia kemungkinan kini telah berubah menjadi negara dengan faham komunisme.
Pada tahun 1965-1966, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan perlawanan terhadap pemerintah dan merencanakan pendirian negara komunis, Kiai Idham berdiri paling depan sebagai ujung tombak sipil dalam melakukan penumpasan gerakan makar PKI.
“Saya berharap pemerintah menghargai jasa para pahlawannya. Kiai Idham merupakan salah satu pahlawan yang pernah dimiliki Indonesia dan sudah sewajarnya beliau dianugerahi pahlawan nasional,” tegasnya.
Sementara itu, aktivis mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) Siti Prihatin mengatakan, Kiai Idham merupakan sosok pemimpin besar yang tidak hanya telah berkontribusi maksimal bagi bangsa ini namun selama hidupnya selalu memberikan keteladanan.
“Kiai Idham merupakan sosok pemimpin panutan. Beliau sosok pejuang yang tulus, lurus dan berani mempertaruhkan apapun untuk kepentingan bangsa dan agama,” katanya. (*an/bo)
( Sumber : http://matanews.com )

SDA PIMPIN UPACARA PEMAKAMAN IDHAM CHALID

INILAH.COM, Bogor - Pemakaman mantan Ketua DPR/MPR dan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Idham Chalid, yang dilakukan secara kenegaraan dipimpin langsung Menteri Agama (Menag), Suryadharma Ali.
Upacara pemakamkan di kompleks makam keluarga Pondok Pesantren Darul Quran Cisarua, Bogor, Jawa Barat itu dimulai sekitar pukul 12.00 WIB, Senin (12/7). Para pelayat termasuk ulama dan anak-anak yatim turut mengantarkan kepergian almarhum KH Idham Chalid. Dalam sambutannya, SDA, Sapaan akrab Suryadharma, atas nama negara menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya KH Idham Chalid. Ia juga meminta seluruh warga untuk turut mendoakan agar almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Allah.
"Banyak hal-hal yang telah diperbuat almarhum semasa hidupnya yang bisa dijadikan suri tauladan bagi kita yang masih hidup," katanya.
Upacara kenegaraan ini, lanjut dia, dilakukan untuk menghormati jasa-jasa almarhum. Hadir pada upacara tersebut di antaranya Bupati Bogor Rahmat Yasin serta para ulama termasuk KH Didin Hafiduddin dan KH Syukron Makmun, salah seorang murid KH Idham Chalid.
Sementara itu, Bupati Bogor, Rahmat Yasin, yang memberikan sambutan atas nama keluarga almarhum mengucapkan terima kasih atas bantuan semua pihak dalam proses pemakaman almarhum. KH Idham Chalid wafat di usia 88 tahun pada Minggu (11/7) pukul 08.00 WIB di kediamannya di kawasan pendidikan Darrul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, karena sakit yang diderita selama 10 tahun terakhir.
Idham Chalid lahir di Setui, Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1922. Ia adalah tokoh agama, tokoh bangsa, dan tokoh organisasi besar Islam Nahdlatul Ulama dan juga deklarator sekaligus pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Sebelum meninggal, almarhum pernah bernazar ingin dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Darul Quran di Cisarua, Bogor. Pesantren sederhana tersebut didirikan KH Idham Chalid pada tahun 1969. Warga yang mengikuti jalannya upacara pemakaman terpaksa berdesak-desakan karena area pemakaman di kompleks tersebut relatif sempit hanya seluas 100 meter persegi.
Sebagian anak-anak yatim yang menghuni asrama di pondok pesantren tersebut menyaksikan jalannya pemakaman dari depan kamar mereka karena jarak antara asrama dengan area pemakaman sangat dekat dan hanya dibatasi oleh pagar. Beberapa warga juga naik ke atas bangunan masjid yang tengah dibangun untuk bisa menyaksikan upacara pemakaman tersebut. [jib]
(Sumber : http://www.inilah.com)

KH ZAINUDDIN MZ : KH IDHAM CHALID INSPIRATOR PIDATO SAYA
Oleh : Aprizal Rahmatullah - detikNews

Jakarta - Sebagai seorang murid, KH Zainuddin MZ sangat mengagumi KH Idham Chalid. Bahkan, kemampuannya dalam berpidato banyak meniru gaya mantan Ketua MPR tersebut.
"Gaya pidatonya sangat lugas. Beliau salah satu yang menginspirasi saya untuk bisa ceramah dan pidato," kata Zainuddin kepada detikcom di kediaman KH Idham Chalid, di Jl Fatmawati, Cipete, Jaksel, Minggu (11/7/2010).
KH Idham, kata Zainuddin, selalu mengajarkan pesan-pesan moral dalam setiap pidatonya. Tutur kata dan gaya pidatonya yang khas membuat KH Idham selalu ditunggu ketika akan berpidato.
"Dalam setiap pidato. Beliau selalu menggunakan logika. Sehingga sulit untuk dibantah. Itu yang membuat saya kagum dan saya tiru hingga saat ini," ungkapnya.
Menurut Zainuddin, sosok KH Idham sangat kental dengan dunia pesantren. Zainuddin mengaku pernah mondok di salah satu pesantren binaan KH Idham sejak tahun 1956 hingga 1970. "Itu saat saya masih SMP," katanya.
Selain dikenal sebagai tokoh pesantren dan dunia Islam, lanjut Zainuddin, KH Idham juga dikenal sebagai tokoh politik yang cerdas. Ia merupakan salah satu tokoh yang membuat organisasi Islam terbesar NU tetap bertahan hingga saat ini.
"Dulu parpol itu harus asas tunggal. PPP saat itu ingin mengusung asas Islam, tapi dilarang pemerintah. Akhirnya, beliau (KH Idham) memberikan solusi. Kalau nggak boleh jualan nasi uduk ya sudah kita jualan nasi goreng dulu. Yang penting masih bisa buka warung," cerita Zainuddin.
( Sumber : http://hileud.com )

KH IDHAM CHALID DISEMAYAMKAN SECARA MILITER

Jakarta (ANTARA News) - Almarhum KH Idham Chalid disemayamkan secara militer sebagai tanda jasa atas pengabadiannya kepada bangsa dan negara.
Almarhum merupakan tokoh nasional yang pernah menduduki jabatan sebagai wakil perdana menteri di era dan pernah menjabat sebagai ketua MPR di zaman Soekarno.
Atas jasa-jasa almarhum selama mengabdi kepada negara, pemerintah Republik Indonesia memberikan penghargaan Bintang Mahaputra.
Saat ini jenazah akan diberangkatkan ke tempat pemakaman di Cisarua, Bogor.
Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada jam 09.00 menyempatkan melayat ke rumah tempat jenazah disemayamkan, juga beberapa tokoh nasional.
Saat meninggalkan menuju mobil mobil kepresidenan, Presiden menyempatkan diri bersalaman dengan sejumlah masyarakat yang juga ikut melayat.
Almarhum diberangkatkan dari rumah duka ke tempat pemakanam pukul 10.00 WIB dan sebelumnya disholatkan di Masjid Darrul Taqwa.
( Sumber : http://hileud.com )

RMI: IDHAM CHALID INGIN PESANTREN NU BERSATU
Editor: Priyambodo RH

Semarang (ANTARA News) - Koordinator Rabithah Ma`ahidil Islamiyah (RMI) Wilayah Barat, K.H. Zaim Ahmad Ma`shoem, menilai mendiang K.H. Idham Chalid sangat menginginkan agar pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama (NU) bersatu.
"Semasa hidup, Pak Idham sangat peduli dengan perkembangan dunia pesantren, terutama pesantren NU sehingga kami sangat berduka," kata pria yang akrab disapa Gus Zaim itu saat dihubungi dari Semarang, Minggu.
Menurut dia, wafatnya K.H. Idham Chalid meninggalkan duka yang sangat mendalam di kalangan warga Nahdliyin, khususnya seluruh asosiasi pondok pesantren NU yang berada di bawah naungan RMI.
"Beliau (K.H. Idham Chalid, red.) adalah salah satu tokoh yang memelopori terbentuknya RMI," kata Gus Zaim yang juga mantan Ketua RMI Jawa Tengah, sayap organisasi NU yang membawahi pondok pesantren tersebut.
Sebelum terbentuk RMI, kata dia, pondok pesantren NU bernaung di bawah lembaga Ittihadul Ma`ahid, namun dalam perkembangannya berubah menjadi RMI yang menaungi pondok pesantren hingga sekarang.
Ia mengatakan latar belakang pendirian RMI itu tentunya tidak lepas dari keinginan agar kalangan pondok pesantren bersatu, mengingat persatuan pondok pesantren bisa menjadi upaya menuju persatuan Indonesia.
"Saya pribadi tidak terlalu mengikuti pemikiran-pemikiran Pak Idham, namun hubungan beliau dengan keluarga kakek saya (K.H. Ma`shoem Ahmad - Pendiri Pondok Pesantren Al Hidayat Lasem) sangat erat," katanya.
Gus Zaim menceritakan kisah menarik terkait mendiang K.H. Idham Chalid yang selalu datang ke Lasem setelah menerima kiriman surat yang keluarga K.H. Ma`shoem Ahmad dalam huruf Arab pegon (tanpa harakat).
"Kebetulan yang sering menulis nenek saya (Nyai Nuriyah - istri K.H. Ma`shoem Ahmad). Sudah tulisannya Arab pegon yang susah dibaca, ditambah gaya penulisannya yang khas membuatnya terlihat rumit," katanya.
Setiap menerima surat dari keluarga Ponpes Lasem, lanjutnya, K.H. Idham Chalid langsung menyempatkan datang di tengah kesibukannya di perpolitikan, padahal yang bersangkutan belum membaca isi surat itu.
"Ketika K.H. Idham Chalid datang lalu ditanyakan apakah sudah membaca isi surat itu, dan beliau pasti menjawab `Belum, tetapi saya yakin isinya penting makanya datang ke sini (Lasem)," katanya, seraya tertawa.
Hal tersebut, kata dia, menunjukkan kedekatan hubungan K.H. Idham Chalid dengan keluarga K.H. Ma`shoem Ahmad karena tetap menyempatkan datang ke Lasem meskipun kesibukannya ketika itu sangat luar biasa.
Terkait pemikiran mendiang K.H. Idham Chalid secara garis besar, ia mengatakan pemikiran tokoh termuda yang pernah memimpin NU itu sebenarnya hampir sama dengan pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
"Keduanya sama-sama berpikiran ke depan, tetapi yang membedakan pemikiran Gus Dur bersifat meloncat sehingga sering susah dipahami," kata pengasuh Ponpes Kauman Lasem itu.
Mantan Ketua PBNU dan Ketua MPR/DPR K.H. Idham Chalid meninggal dunia dalam usia 88 tahun di kediamannya di Ponpes Daarul Maarif, Cipete, Jakarta, Minggu, pukul 08.00 WIB, karena sakit yang diderita selama 10 tahun terakhir.
( Sumber : http://hileud.com )

PRESIDEN SBY: IDHAM CHALID ARSITEK PARTAI POLITIK
Oleh : Frida Astuti - Okezone

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas nama pemerintah, negara, dan pribadi, mengucapkan belasungkawa atas wafatnya almarhum Idham Chalid. Presiden menyebut Idham sebagai sosok yang banyak jasanya bagi pemerintah dan umat Islam.
“Kita mengenal beliau adalah tokoh besar dengan pemikiran besar, dengan jasa besar di pemerintahan beliau sangat aktif, bahkan di waktu usia masih muda,” ungkap Presiden SBY saat melayat di kediaman almarhum di Jalan Cipete, Fatmawati, Jakarta Selatan, Senin (12/7/2010).
Presiden membeberkan, di pemerintahan Presiden Soekarno, pria kelahiran Kalimantan Selatan 88 tahun silam ini, pernah menjabat sebagai wakil Perdana Menteri. Pada waktu pergantian pemerintahan mendiang Soeharto, Idham juga dipercaya memegang jabatan penting.
“Di bidang parlemen juga pernah memimpin DPR/MPR. Bahkan sebagai pertimbangan agung, posisi yang sangat mulia. Di bidang pergerakan organisasi Islam, beliau memimpin NU. Dengan segala kepemimpinan dan prakarsanya. Kenangan pada masa pemerintahan Soeharto beliau adalah arsitek luar biasa, menata partai-partai politik,” tambah Presiden SBY.
Presiden SBY menambahkan terlalu banyak jasa yang dapat diungkapkan untuk almarhum.
“Kita ungkapkan apa yang dilakukan alamrhum, baik di bidang pemerintahan negara, pemajuan umat Islam, bahkan bidang politik. Karena itu atas nama negara pemerintah dan pribadi, sekali lagi saya ucapkan belasungkawa dan keluarga tawakal menerima musibah dan cobaan dan semoga almarhum tenang di sisi Allah,” tutup Presiden.
( Sumber : http://hileud.com )

KH IDHAM CHALID DIMAKAMKAN
Editor: AA Ariwibowo

Cisarua, Bogor (ANTARA News) - Mantan Wakil Perdana Menteri, Mantan Ketua MPR/DPR dan mantan Ketua Umum Tanfidziah PBNU KH Idham Chalid, Senin siang dimakamkan di kompleks makam keluarga Pondok Pesantren Darul Quran Cisarua Bogor.
Upacara pemakaman kenegaraan dipimpin oleh inspektur upacara menteri agama Suryadharma Ali.
Jenazah salah satu tokoh Partai Persatuan Pembangunan itu diberangkatkan dari rumah duka di kawasan Cipete Jakarta Selatan pukul 10:00 WIB dan tiba di Cisarua pukul 11:00 WIB. Prosesi pemakaman dilangsungkan mulai pukul 12:00 WIB.
Menteri agama selaku perwakilan dari negara, memulai upcara persada, yaitu upacara menandai dimakamkannya salah satu putera terbaik bangsa dan diikuti kemudian oleh tembakan salvo dan lagu gugur bunga saat jenazah diturunkan ke liang lahat.
Sekitar 1.000 pelayat hadir dalam upacara pemakaman tersebut. Sebelum dimakamkan, jenazah sempat disholatkan di masjid yang berada di kompleks pondok pesantren tersebut.
Bendera merah putih yang menyelubungi keranda jenazah kemudian dilipat dan diberikan kepada anggota keluarga KH Idhan Chalid setelah jenazah diturunkan ke liang lahat.
KH Idham Chalid meninggal pada usia 88 tahun, Minggu (11/7) karena sakit.
Sejumlah tokoh agama maupun tokoh politik merasa kehilangan atas kepergian tokoh yang memiliki rekam jejak di bidang politik dan keagamaan itu.

( Sumber : http://hileud.com)


KH ZAINUDDIN MZ: IDHAM CHALID TOKOH MULTIDIMENSI
Editor: Priyambodo RH


Jakarta (ANTARA News) - Ulama berjulukan "Kiai Sejuta Umat", KH Zainuddin MZ, menilai Indonesia telah kehilangan seorang tokoh multidimensi yang telah bertahan dalam kepemerintahan selama tiga masa, yaitu KH Idham Chalid.
"Beliau tokoh yang bisa dilihat dari berbagai dimensi, dari segi politik, beliau tokoh yang sangat lugas dan bertahan di tiga zaman, yaitu kemerdekaan, Bung Karno dan sebagian di era Pak Harto," katanya saat melayat ke rumah keluarga Idham Chalid di Pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta, Selatan.
Zainudding menilai Bapak Pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu sebagai ulama yang lugas dan moderat yang mampu menjaga kehormatan dalam berpolitik.
"Dari segi keagamaan beliau 30 tahun lebih memimpin Nahdlatul Ulama dan tingkat kealiman beliau sebagai ulama sangat mumpuni," ujarnya.
Zainuddin mengaku telah mengenal mantan Ketua DPR/MPR periode 1972-1977 itu sejak ia masih belajar di sekolah dasar. Ia mengaku mempelajari ilmu dakwah dari Idham yang dinilainya sebagai orator ulung sekelas Bung Karno.
"Beliau ulama, politisi dan birokrat yang bisa memadukan semua. Saya melihat masa beliau dan Gus Dur itulah masa-masa keemasan NU, setelah kemari NU itu cenderung membesarkan pengurusnya," tuturnya.
Pada kesempatan itu, hadir pula beberapa tokoh nasional, antara lain mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, anggota BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) Ali Masykur Musa dan Ketua Komisi Pemilihan Umum A. Hafiz Anshary.
DR KH Idham Chalid wafat pada Minggu pukul 08.00 WIB di rumahnya dan akan dimakamkan esok hari, Senin (12/7) di Pesantren Quran Cisarua, Bogor.
Almarhum meninggal dunia setelah sebelumnya selama sembilan tahun mengalami stroke dan sempat mengalami serangan jantung pada 1999.
Idham Chalid lahir di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1922. Anak Sulung dari lima bersaudara itu meninggalkan 16 orang anak, 35 cucu dan tujuh cicit.
( Sumber : http://hileud.com)


KIAI IDHAM CHALID, PEMIMPIN BESAR DARI AMUNTAI
Ahmad Fahir

Anggapan sebagian orang bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi massa (ormas) Islam yang bercorak Jawa dan tersentralisasi di Pulau Jawa patut diluruskan. Begitu pula dengan pameo yang menyebut bahwa pimpinan ormas terbesar di Indonesia tersebut mesti berdarah Jawa, terutama Jawa Timur, juga tidak tepat.
Doktor Kiai Haji Idham Chalid (88) yang menghembuskan nafas terakhir pada Minggu pagi pukul0 8.00 WIB di Cipete Jakarta Selatan merupakan fakta sejarah yang paling sahih untuk mematahkan berbagai penilaian sepihak terhadap NU.
Ulama kharismatis NU tersebut bahkan telah menghilangkan dikotomi Jawa non-Jawa dalam konteks politik nasional jauh-jauh hari sebelum banyak pihak memperbincangkannya, yakni sejak tahun 1956 silam atau hanya berselang sembilan tahun setelah kemerdekaan Indonesia.
Kiai Idham Chalid merupakan salah satu tokoh terbesar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Semasa hidupnya, beliau mencurahkan pengabdian bagi bangsa ini melalui NU, ormas Islam terbesar di Indonesia maupun dunia, yang ia geluti sejak masih usia kanak-kanak.
Kiai Idham yang lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, adalah anak sulung lima bersaudara dari H Muhammad Chalid.
Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.
Idham tercatat sebagai tokoh termuda yang pernah memimpin NU. Idham dipilih sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tahun 1956. Saat itu usia Idham baru 34 tahun. Sebuah catatan dan prestasi yang fenomenal baik pada masa tersebut maupun masa kini.
Karir Idham di ormas yang didirikan ulama dan memiliki akar kuat baik di pedesaan maupun di perkotaan tersebut terbilang sangat cemerlang. Semasa kepemimpinan Idham di PBNU tidak pernah terjadi gejolak internal. Selain itu kepemimpinan Idham di NU juga paling lama yaitu 28 tahun. Idham menjabat ketua umum PBNU mulai tahun 1956 hingga 1984.
Sebagian kalangan mengatakan, bila tidak ada gerakan kembali ke ?khittah 1926? yang dimotori KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dkk, posisi Kiai Idham sebagai ketum PBNU tidak tergantikan.
Khittah menjadi senjata ampuh bagi poros Situbondo –istilah untuk untuk menyebut gerakan yang dimotori Gus Dur– untuk melengserkan Kiai Idham dari tampuk kepemimpinan di PBNU.
Gerakan Khittah tersebut sempat membuat NU terbelah dan menjadi dua poros besar yaitu Situbondo dan Cipete. Istilah Cipete merupakan kediaman Kiai Idham dan merujuk pada pendukung Kiai Idham yang saat itu sangat banyak dan loyal.

BUKAN DARAH BIRU

Idham Chalid merupakan tokoh besar bangsa Indonesia yang telah memberikan teladan dan inspirasi. Beliau telah ikut meletakkan dasar-dasar berbangsa dengan mewujudkan kebersamaan dan menghilangkan dikotomi antara Jawa dan Luar Jawa.
Andil Idham dalam membangun tatasan kehidupan politik berbangsa yang harmonis tanpa diskriminasi, tidak lepas dari keberadaan NU yang menghargai egalitarianisme serta memberikan kesempatan yang sama bagi semua kader untuk memberikan kontribusi terbaiknya bagi NU.
Selain memberikan kesempatan kepada Idham untuk menjadi ketua umum PBNU pada tahun 1956, jauh-jauh hari sebelumnya NU sudah menghilangkan jarak pemisah antara Jawa dengan Luar Jawa dengan menggelar Muktamar ke-11 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan tahun 1936 atau sembilan tahun sebelum Indonesia merdeka.
Penyelenggaraan Muktamar ke-11 di Banjarmasin pada tahun 1936 serta dipilihnya Idham Chalid menjadi ketua umum PBNU pada Muktamar ke-21 di Luar Jawa, tepatnya di Medan, Sumatera Utara, semakin mengukuhkan posisi NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia serta meminjam istilah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai jangkar strategis nasional.
Kepemimpinan Idham di PBNU selain berdampak positif bagi iklim organisasi dengan mematahkan mitos Jawa dan Luar Jawa juga menghapus mitos bahwa ketua umum PBNU harus memiliki darah biru.
Darah biru merupakan istilah dalam NU, yang dapat diartikan sebagai keturunan ulama besar yang terpandang. Dalam tradisi NU di Jawa, biasanya dipanggil dengan sebutan Gus.
Uniknya, Idham selain bukan berasal dari Jawa juga bukan merupakan anak ulama besar terpandang, bahkan di Kalimantan Selatan sekalipun. H Muhammad Chalid, ayah Idham, hanya berprofesi sebagai penghulu di pelosok Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin.
Keluasan pergaulan, kemahiran retorika serta kepiawan dalam melobi mengantarkan Idham sebagai tokoh besar pemimpin nasional baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru.

DARI BAWAH
Panggung politik baik dalam aras nasional maupun global banyak dipengaruhi oleh faktor keturunan atau lebih dikenal dengan istilah dinasti, tradisi fedalisme yang mewariskan kuasaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi dinasti banyak ditemukan baik di Indonesia maupun luar negeri. Bahkan di negara semodern Amerika Serikat pun masih banyak ditemukan praktik dinasti.
Istilah dinasti tidak berlaku bagi Kiai Idham Chalid. Idham merupakan sosok pemimpin yang terlahir secara alami dari bawah. Ia tidak mengandalkan faktor dinasti maupun kekuatan materi, dua faktor terpenting dalam berpolitik, dalam merintis karirnya yang panjang dan cemerlang.
Idham menjadi pemimpin besar karena kapasitas personal, kegigihan dalam perjuangan serta kemauan keras untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa dan agama.
Arif Mudatsir Mandan, tokoh PPP yang juga penulis buku “Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid” mencatat sosok Kiai Idham merupakan teladan bagi generasi muda NU dan bangsa Indonesia. Beliau adalah sosok pemimpin besar yang lahir dari bawah.
“Kiprah dan peran Idham Chalid tergolong istimewa. Ia bukanlah sosok yang berasal dari warga kota besar. Ia hanyalah putra kampung yang merintis karier dari tingkat yang paling bawah, sebagai guru agama di kampungnya. Tapi kegigihannya dalam berjuang, dan kesungguhannya untuk belajar dan menempa pribadi, telah mengantar dirinya ke puncak kepemimpinan nasional yang disegani hingga kini, ujar Arif.
Kalangan pengamat politik Indonesia, banyak mencatat bahwa Idham Chalid merupakan salah seorang dari sedikit politisi Indonesia yang mampu bertahan pada segala cuaca.
Ia pernah menjadi Ketua Partai Masyumi Amuntai, Kalimantan Selatan, dan dalam Pemilu 1955 berkampanye untuk Partai NU. Ia pernah pula menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali-Roem-Idham, dalam usia yang masih sangat belia, 34 tahun. Sejak itu Idham Chalid terus menerus berada dalam lingkaran kekuasaan.
Di organisasinya, ia dipercaya warga nahdliyyin untuk memimpin NU di tengah cuaca politik yang sulit, dengan memberinya kepercayaan menjabat sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU selama 28 tahun (1956-1984).
Di samping berada di puncak kekuasaan pimpinan NU, ia juga dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (PNI), 1956 – 1957. Saat kekuasaan Bung Karno jatuh pada 1966, Idham Chalid yang dinilai dekat dengan Bung Karno ini tetap mampu bertahan.
Presiden Soeharto memberinya kepercayaan selaku Menteri Kesejahteraan Rakyat (1967 – 1970), Menteri Sosial Ad Interim (1970 – 1971) dan setelah itu Ketua MPR/DPR RI (1971 – 1977) dan Ketua DPA (1977 -1983).
Ketika partai-partai Islam berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan, pada tanggal 5 Januari 1973, mantan guru agama Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo ini menjadi ketua, sekaligus Presiden PPP.
Dari sisi wawasan keilmuwan dan kemahiran, sosok Idham Chalid dikenal sebagai ulama yang mahir berbahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Jepang. Ia juga menyandang gelar doctor honoris causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Idham Chalid merupakan khazanah yang tak ternilai bagi bangsa ini.

MIMPIN NU 28 TANPA GEJOLAK

KH Hasyim Muzadi, ketua umum PBNU 1999-2010 mengemukakan kekagumannya pada sosok Idham karena berhasil memimpin PBNU selama 28 tahun.
Selain kagum, Hasyim juga mengaku ?iri? pada Idham, karena selama 28 tahun menjadi ketua umum PBNU tanpa ada gejolak berarti.
Sebagai ketua umum PBNU, saya termasuk orang yang mengagumi beliau, karena memimpin NU selama 28 tahun dan tidak ada gejolak dalam NU selama beliau memimpin. Ini sangat sulit. Kalau saya, memimpin NU 8 tahun saja ruwetnya bukan main,? katanya.
Dikatakannya, Kiai Idham Chalid juga telah berhasil membawa NU keluar dari masa-masa pelik, bahkan genting saat Indonesia masih berusia muda dengan dinamika politik yang luar biasa.
Pada tahun 1952 NU keluar dari Masyumi dan mendirikan partai NU. Selanjutnya, tahun 1955 yang penuh gejolak karena demokrasi liberal berjalan selama 4 tahun dan tahun 1959 masuk dekrit presiden. Lalu tahun 1960 Bung Karno menjalankan Manipol Usdek yang berjalan 5 tahun sampai tertengahan tahun 1966.
Suasana krisis juga belum berakhir karena terjadinya pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Tahun 1967-1969, posisi NU justru terjepit. Tahun 1971 pemilu yang pertama masa Soeharto dan NU sangat berat karena dihajar habis oleh Golkar.
Dijelaskannya menyelamatkan jamaah NU yang yang sedemikian banyak memerlukan kepribadian arif dan tangguh. Hasyim Muzadi menilia, “Orang yang mengerti Pak Idham menyatakan beliau orang yang istikomah dalam berbagai situasi, tetapi orang yang tidak cocok pasti mengatakan oportunis, karena dari masa ke masa selalu mendapatkan tempat.”
Meskipun berbeda pandangan politik, Hasyim mengatakan Kiai Idham tetap menjalin silaturrahmi dan ukhuwah dengan Buya Hamka.”Perbedaan partai ini tidak mengurangi silaturrahmi dengan yang lain sehingga Pak Idham dengan Buya Hamka. Ketidakharmonisan dalam bidang politik tidak harus membuat pemimpin tidak harmonis dalam ukhuwwah,” imbuhnya.
Kiai Hasyim berharap keberhasilan KH Idham Cholid dalam memimpin NU dapat menjadi pelajaran dalam mengembangkan NU ke depan agar semakin jaya. “NU punya kemulyaan dan harus kita bangun kemuliaan baru ini menyongsong masa depan, tandasnya memberikan semangat.
( Oleh : http://www.muslim-nias.org)





RMI: IDHAM CHALID INGIN PESANTREN NU BERSATU

SEMARANG (Arrahmah.com) - Koordinator Rabithah Ma`ahidil Islamiyah (RMI) Wilayah Barat, K.H. Zaim Ahmad Ma`shoem, menilai mendiang K.H. Idham Chalid sangat menginginkan agar pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama (NU) bersatu.
"Semasa hidup, Pak Idham sangat peduli dengan perkembangan dunia pesantren, terutama pesantren NU sehingga kami sangat berduka," kata pria yang akrab disapa Gus Zaim itu saat dihubungi dari Semarang, Minggu.
Menurut dia, wafatnya K.H. Idham Chalid meninggalkan duka yang sangat mendalam di kalangan warga Nahdliyin, khususnya seluruh asosiasi pondok pesantren NU yang berada di bawah naungan RMI.
"Beliau (K.H. Idham Chalid, red.) adalah salah satu tokoh yang memelopori terbentuknya RMI," kata Gus Zaim yang juga mantan Ketua RMI Jawa Tengah, sayap organisasi NU yang membawahi pondok pesantren tersebut.
Sebelum terbentuk RMI, kata dia, pondok pesantren NU bernaung di bawah lembaga Ittihadul Ma`ahid, namun dalam perkembangannya berubah menjadi RMI yang menaungi pondok pesantren hingga sekarang.
Ia mengatakan latar belakang pendirian RMI itu tentunya tidak lepas dari keinginan agar kalangan pondok pesantren bersatu, mengingat persatuan pondok pesantren bisa menjadi upaya menuju persatuan Indonesia.
"Saya pribadi tidak terlalu mengikuti pemikiran-pemikiran Pak Idham, namun hubungan beliau dengan keluarga kakek saya (K.H. Ma`shoem Ahmad - Pendiri Pondok Pesantren Al Hidayat Lasem) sangat erat," katanya.
Gus Zaim menceritakan kisah menarik terkait mendiang K.H. Idham Chalid yang selalu datang ke Lasem setelah menerima kiriman surat yang keluarga K.H. Ma`shoem Ahmad dalam huruf Arab pegon (tanpa harakat).
"Kebetulan yang sering menulis nenek saya (Nyai Nuriyah - istri K.H. Ma`shoem Ahmad). Sudah tulisannya Arab pegon yang susah dibaca, ditambah gaya penulisannya yang khas membuatnya terlihat rumit," katanya.
Setiap menerima surat dari keluarga Ponpes Lasem, lanjutnya, K.H. Idham Chalid langsung menyempatkan datang di tengah kesibukannya di perpolitikan, padahal yang bersangkutan belum membaca isi surat itu.
"Ketika K.H. Idham Chalid datang lalu ditanyakan apakah sudah membaca isi surat itu, dan beliau pasti menjawab `Belum, tetapi saya yakin isinya penting makanya datang ke sini (Lasem)," katanya, seraya tertawa.
Hal tersebut, kata dia, menunjukkan kedekatan hubungan K.H. Idham Chalid dengan keluarga K.H. Ma`shoem Ahmad karena tetap menyempatkan datang ke Lasem meskipun kesibukannya ketika itu sangat luar biasa.
Terkait pemikiran mendiang K.H. Idham Chalid secara garis besar, ia mengatakan pemikiran tokoh termuda yang pernah memimpin NU itu sebenarnya hampir sama dengan pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
"Keduanya sama-sama berpikiran ke depan, tetapi yang membedakan pemikiran Gus Dur bersifat meloncat sehingga sering susah dipahami," kata pengasuh Ponpes Kauman Lasem itu.
Mantan Ketua PBNU dan Ketua MPR/DPR K.H. Idham Chalid meninggal dunia dalam usia 88 tahun di kediamannya di Ponpes Daarul Maarif, Cipete, Jakarta, Minggu, pukul 08.00 WIB, karena sakit yang diderita selama 10 tahun terakhir. (Sumber : http://arrahmah.com)


KH IDHAM CHALID, KIPRAH ULAMA DAN POLITISI HANDAL NUSANTARA
Editor : Imam maruf

KABARHAJI--IdhamChalid adalah sosok istimewa dan fenomenal dalam sejarah bangsa Indonesia. Beliau adalah politisi handal yang mampu berkibar dalam dua era, yakni orde lama dan orde baru.
Tokoh yang sempat menduduki jabatan ketua Ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama hingga 28 tahun, yakni sejak 1956 sampai 1984.
Beliau dilahirkan di Setui, kecamatan Kotabaru, bagian Tenggara Kalimantan Selatan tanggal 27 Agustus 1922. Putra sulung dari lima bersaudara, anak seorang penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah bernama H. Muhammad Chalid.
Dalam buku biografinya, almarhum Idham kecil, saat berusi 6 tahun hijrah dari tanah kelahiran di Setui ke Amuntai, di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.
Beliau adalah tokoh besar bangsa Indonesia yang kiprahnya banyak dihabiskan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Usai menunaikan pendidikan di pesantren beliau memulai kiprahnya ketika NU masih bergabung dengan Masyumi tahun 1950. Sempat menjadi Ketua Partai Bulan Bintang Kalimantan Selatan dan menjadi anggota DPRD Kalsel.
Kiprahnya di NU mengantarkan Idham Chalid menjadi pucuk pimpinan tertinggi NU tahun 1956 dalam usia yang masih sangat muda, 34 tahun. Kepiawaiannya dalam berpolitik sempat mengantarkannya menduduki tiga jabatan penting sekaligus, yakni di eksekutif, legislatif, dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR dan Ketua Nahdlatul Ulama)
Setelah NU memisahkan diri dari Masyumi, beliau menjadi salah satu pendiri partai NU dan menjadi ketuanya. Kiprahnya terus bersinar sebagai politisi, kyai dan tokoh masyarakat. Filosofi air yang mampu mencari tempat kemanapun arah berjalan adalah hal yang membawa Idham Chalid menduduki beragam posisi dan bisa diterima di berbagai kalangan dan tempat. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya. Demikian pula sebagai politisi, ia mampu melakukan gerakan strategis, kompromistis, bahkan pragmatis sekalipun, meski tak jarang pula disalahpahami.
Namun semangat yang beliau tampakkan adalah visi perjuangan dalam berbagai peran dan selalu berorientasi pada kebaikan serta manfaat bagi umat dan bangsa.
Beliau bisa melampaui dua periode kepemimpinan dalam dua orde. Setelah kemunculan Orde Baru, Idham Chalid sempat dipercaya menjabat Menko Kesra pertama di masa Soeharto. Beliau pula yang mampu menyatukan beragam partai Islam ke dalam satu naungan atau dikenal fusi partai dan merupakan pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Banyak kalangan mengatakan bahwa amat jarang tokoh yang bisa seperti beliau. Ketokohannya sangat menonjol, sehingga pernah memimpin partai politik pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.
Kepiawaian beliau ini pula yang mengantarkan beliau terus berada pada posisi puncak dala ormas Islam terbesar, Nahdlatul ulama selama 28 tahun. Dalam buku biografi karangan Ahmad Muhajir yang diluncurkan tahun 2008 lalu, beliau berpandangan, tak harus kaku dalam bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila, tidak jarang adanya tekanan keras dari pihak penguasa serta partai politik dan Ormas radikal.
Baru pada tahun 1984, posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai ormas yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi terhadap partai mana pun.
Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, beliau kembali kepada bidang yang memang diminatinya, menjadi guru dan mengelola Pesantren Daarul Maarif di bilangan Cipete.
Minggu pagi tanggal 11 Juli 2008 lalu, sekitar pukul 08.00, Idham Chalid meninggal dunia di kediamannya akibat sakit yang diderita dalam usia 88 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Komplek Pesantren Darul Quran, Cisarua Bogor yang merupakan komplek pesantren keluarganya.
Kepergiannya tentu meninggalkan kenangan yang sangat luar biasa bagi bangsa Indonesia karena ketokohan dan kiprahnya yang banyak diterima berbagai kalangan, terlebih kalangan warga Nahdlatul Ulama dan keluarga pesantren nusantara. Beliau juga termasuk penggagas penyatuan pondok pesantren nusantara dalam wadah Rabithah Ma’ahidil Islamiyah.
( Sumber : http://kabarhaji.com )

Minggu, 03 April 2011 | 6:39:14 WIB
Andi Arief

Sukses Selalu dan Terus Suarakan Aspirasi Rakyat

- Staff Khusus Presiden SBY -
images
Irjen Timur Pradopo

Selamat & Tetap Konsisten Menyampaikan Informasi yang benar

- Kapolda Metro Jaya -
images
Irjen Drs Edward Aritonang


Keluarga Besar Polda Jawa Tengah Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H.- Minal Aidin W a Faizin Mohon Maaf Lahir Batin

- Kapolda Jawa Tengah -
images
Drs Noegroho Djajoesman

Sukses & Semoga menjadi media online yang terbaik

- Drs Noegroho Djajoesman -
images
Juniver Girsang, SH

Sukses & tetap memberikan informasi yang akurat

- Pengacara -
images
Irjen Drs Djoko Susilo

Semoga menjadi sarana lalu lintas informasi terbaik & terpercaya

- Kakorps Lantas Polri -
images
Hendardi

Jangan berhenti mengabarkan, kebebasan adalah hak kita

- BP SETARA Institute -
images
Trimedya Panjaitan, SH

Semoga menjadi media online yang mendapat tempat di masyarakat

- Anggota DPR RI -
images
Jhonson Panjaitan

Semoga menjadi media yang terdepan dalam mengungkap kebenaran

- Pengacara -
images

* Home
* Hukum
* Nasional
* Metro
* Halo Polisi
* Halo Gubernur
* Lampu Merah
* Olah raga
* Ekbis
* Dunia
* Seleb
* Batavia Kita

JL CIPETE RAYA DIUSULKAN JADI JL IDHAM CHALID
Oleh : Andi Arif

batavia.com - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Lulung A Lunggana mengusulkan mantan Ketua DPR/MPR almarhum Dr. KH. Idham Chalid sebagai nama salah satu jalan di Ibu Kota. Lulung mengusulkan nama Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan diganti dengan nama mantan Ketua DPA dan mantan Ketua Umum PBNU dari 1956 hingga 1984.
Menurut Lulung, sosok Idham sangat berjasa bagi bangsa dan negara. Karena itu, sebagai bentuk penghormatan, Lulung mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta agar menjadikan Idham Chalid sebagai nama jalan.
“Jasa-jasa beliau sangat besar, jadi kami berpendapat sangat layak mendapat penghormatan. Kami mengusulkan kepada Pemprov DKI agar nama Idham Chalid dijadikan nama jalan Cipete Raya,” kata Lulung kepada wartawan di Jakarta, Senin 19 Juli 2010.
Dalam waktu dekat, pihaknya akan mengirimkan surat kepada Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengenai masalah ini. Menurut dia, penghormatan kepada figur yang sangat berjasa terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus menjadi tradisi.
Hal senanda juga diungkapkan, Anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) Maman Firmansyah. Menurut dia, figur Idham Chalid sangat berjasa bagi NKRI. Terbukti, semasa hidupnya Idham menempati sejumlah jabatan strategis. Tak hanya itu, Idham merupakan Ketua Umum PBNU terlama.
“Almarhum itu merupakan salah satu tokoh terbaik milik NU yang berjasa bagi bangsa dan negara, selain almarhum Gus Dur (Abdurrahman Wahid),” ujarnya.
Fraksi PPP sudah mengajukan usulan kepada pimpinan DPRD DKI Jakarta agar nama Idham Cholid dijadikan nama Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan. Selanjutnya, surat tersebut akan disampaikan ke Gubernur DKI.
Idham Chalid merupakan dekralator Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sekaligus mantan Ketua Umum PBNU selama 28 tahun (lima periode). Idham mengawali karirnya sebagai aktivis Nahdlatul Ulama, organisasai keagamaan terbesar di Indonesia. Sejak awal kiprahnya, karier Idham terus menanjak. Ketika NU masih bergabung dengan Masyumi pada 1950, laki-laki yang dilahirkan di Satui, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 1921 ini, telah menjadi ketua umum Partai Bulan Bintang, Kalimantan Selatan. Dia juga menjadi anggota DPR RIS (1949-1950). Dua tahun setelahnya, Idham terpilih menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU (1952-1956). Kemudian, ia dipilih menjadi orang nomor satu NU pada 1956 hingga 1984.
Selama 28 tahun memimpin NU, Idham telah mengalami berbagai pasang surut. Di bidang eksekutif, ia beberapa kali jadi menteri, baik saat masa Orde Lama maupun Orde Baru. Ketika Bung Karno jatuh pada 1966, Idham menjadi anggota presidium Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II dan setelah itu dia diangkat menjadi ketua MPR/DPR pada periode 1972-1977. Jauh sebelumnya, pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo II, Idham juga menjabat sebagai wakil perdana menteri. Dalam posisi pemerintahan, dia juga pernah mengemban tugas sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung menggantikan KPH Soetardjo Kartohadikoesoemo.
(Sumber : http://beritabatavia.com )

KH DR. IDHAM CHALID : TOKOH TIGA ZAMAN DAN POLITIKUS ULUNG
Oleh : Syamhudi
Jakarta, MediaProfesi.com – KH Dr. Idham Chalid, lahir di Satui, Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1922. Beliau tokoh besar, ulama besar dan tokoh nasional. Pada hari Ahad (11/7), pukul 08.00 WIB telah dipanggil oleh sang pencipta Allah SWT pada usia 88 tahun, setelah bergelut melawan sakit selama 10 tahun.
Kepergian Beliau untuk selamanya ini, telah membuat negara dan bangsa ini merasa kehilangan tokoh yang hidup di tiga zaman, yakni sejak zaman orde lama (orla), orde baru (orba) hingga era reformasi saat ini.
KH Amidhan Shaberah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga merupakan tokoh masyarakat Kalimantan di Jakarta, dalam suatu wawancara khusus dengan redaksi MediaProfesi.com di kantor MUI (14/7), menyatakan KH Dr. Idham Chalid merupakan tokoh besar, ulama besar, serta tokoh nasional. Karena Beliau selagi mudanya sudah dipercaya untuk menjabat beberapa jabatan yang penting di negara ini.
Bahkan beliau mengalami tiga zaman, yakni zaman Bung Karno yang disebut dengan orde lama (saya sendiri tidak setuju dengan istilah itu), kemudian zaman orde baru atau zamannya Soeharto dan era reformasi sekarang. Dalam tiga zaman itu Beliau menjabat masih muda, sekitar tahun 52 (waktu itu saya saja masih duduk dibangku SD) sudah Waperdam (Wakil Perdana Menteri) di Kabinet Ali Sastroamidjojo II.
Kemudian Beliau juga pernah menjabat sebagai Menko Kesra yang pertama (1968-1973), yang banyak menangani Keluarga Berencana (KB). Pada saat itu juga keluar beberapa fatwa dari ulama, termasuk fatwa ulama terbatas tentang tubektomi dan pasektomi, dan lain sebagainya.
Tak mengherankan waktu itu Indonesia menjadi pusat perhatian dunia sebagai pilot projek dalam penanganan KB dari segi agama. Banyak negara yang mengirim utusannya ke Indonesia untuk belajar dalam penanganan KB, karena Indonesia dianggap berhasil dalam menangani KB. Diantaranya dari Turki, Pakistan, India, dan beberapa dari negara Timur Tengah.
Kemudian Beliau pernah menjabat Menteri Sosial, dikala itu ada wacana diperbolehkannya perjudian yang saat itu namanya lotre dan nalo. Nah, Beliau bisalah mencarikan solusi dalam menangani hal yang semacam itu, sehingga tidak berbau judi dan sebagainya.
Beliau pernah menjabat Ketua DPR/MPR, Ketua DPA. Karena Beliau memang politisi ulung, yang sebelumnya beliau pernah menjadi Ketua Masyumi ketika Masyumi masih bersatu dengan Nahdlatul Ulama (NU).
Namun Masyumi akhirnya memisahkan diri dari NU. Sehingga NU berdiri sendiri, maka secara aklamasi Beliau di daulat menjadi Ketua Umum NU. Dan Beliau memimpin NU luar biasa lama sekali, sekitar 28 tahun.
Kemudian ketika terjadinya penyederhanaan partai. Beliau pula lah pendiri sekaligus menduduki Ketua Umum pertama Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan sampai akhir hayatnya Beliau masih dianggap sebagai tokoh pendiri dan tokoh besar dari PPP.
Di dalam dunia islam, Beliau punya pengaruh yang sangat besar, misalnya Beliau mendapat gelar doktor kehormatan (HC) dari Universitas Al-Azhar Mesir.
Suatu hal yang sangat berkesan bagi saya terhadap Beliau, dimana Beliau sangat peduli untuk membantu orang lain. Sebagai orang Kalimantan pun beliau selalu kan orang kampung tidak mengerti itu, bahwa ini sudah tokoh nasional, pejabat negara. Bukannya Kalsel, tapi datang saja orang daerah kepada Beliau. Seperti ada yang minta urusan haji, wah janganlah itu bukan urusan saya. Tapi begitu orang tersebut mau keluar, apa tadi, apa nang ikam kahandaki nangapa? (apa tadi, yang kamu kehendaki? – Red) Nah, biasanya beiau memberikan solusi.
Di dalam partai, di dalam organisasi pun beliau itu yang saya ketahui, sering memberikan solusi, pemecahan masalah yang bisa mengarah kepada konflik di kalangan umat. Beliau itu seolah-olah filosofer yang bisa mencarikan solusi yang terbaik.
Dikalangan internasional itu tentu saja, ya itu tadi diantaranya Beliau diberi gelar doktor (Hc) dari Universitas Al-Azhar Mesir, artinya dunia Timur Tengah mengakui tentang kemampuan dan keilmuan Beliau, itu yang pertama.
Kedua, dengan menjabat Ketua DPR/MPR, Ketua DPA itu kan berinteraksi dengan lembaga-lembaga yang sama di dunia. Tentu itu juga ada pengaruhnya.
Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri meminta gelar kepahlawanan nasional almarhum KH Dr. Idham Chalid segera diusulkan ke Pemda tempat kelahiran sang tokoh. Hal itu agar usulan tersebut bisa dibahas oleh Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan.
"Kita semua merasa kehilangan. Karena itu usulan gelar pahlawan nasional harus disampaikan secara resmi kepada Pemda tempat kelahiran agar nanti dibahas Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan," kata Mensos dalam siaran pers, Minggu (11/7/2010).
Kalau saya sangat setuju lah, ujar Amidhan atas usul Mensos tersebut, terlalu banyak jasanya kepada bangsa ini. Walaupun Beliau itu sebagai orang Kalimantan, dimana sifat orang Kalimantan itu tidak mau menonjolkan diri.
Namun jasanya itu luar biasa, dilihat dari masa mudanya itu sudah berkiprah ditingkat nasional. Coba bayangin pada tahun 1952 sudah menjabat Waperdam, itu kan tingkat nasional.
Jadi, kalau ada wacana, tapi kalau saya tidak wacana lagi, harus ada usul, nah itu yang mengusulkan sebaiknya Gubernur Kalsel lah. Apalagi Gubernur saat ini berasal dari PPP, namun boleh saja dimulai dari Bupati Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Sementara masyarakat Jakarta yang tergabung dalam Kerukunan Warga Kalimantan Selatan (KWKS) dan organisasi lain dari Kalimantan di Jabodetabek, itu perlu mengusulkan juga.
Nanti kalau saya sih tinggal tandatangan saja. Saya pribadi sangat setuju sekali, karena saat ini yang baru diberi gelar pahlawan nasional adalah ir. Pangeran Muhammad Noor, ini yang diakui zaman terakhir ini, di luar dari Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antasari, Sultan Adam dan lain sebagainya, itu kan pahlawan yang lama.

( Sumber : http://mediaprofesi.com )

DR KH IDHAM CHALID
04 Apr 2010

* Ragam
* Republika

Dari Politik

Beralih

ke Pesantren

la menjabat ketua umum PBNU selama hampir tiga dasawarsa.
uktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Makassar, baru saja berakhir pada Ahad (28 Maret 2010) dengan terpilihnya Rais Aam KH Sahal

Mahfudz dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Said Aqil Siradj periode kepemimpinan 2010-2015. Kedua duet ini diharapkan mampu mengembalikan kejayaan NU.

Ketika semua mata tertuju pada perhelatan Muktamar ke-32 NU di Makassar itu, mungkin ada satu hal yang terlupakan oleh para muktamirin. Dialah Dr KH Idham Chalid. Dr KH Idham Chalid, yang telah memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu selama kurang lebih tiga dasawarsa (tepatnya 28 tahun-Red), kini tengah terbaring sakit di kediamannya di Cipete, Jakarta Selatan. Beliau sedang berjuang melawan penyakit lumpuh yang menginggapinya sejak beberapa tahun terakhir.

Diceritakan oleh Syaiful Hadi Chalid; pada acara pembukaan, ketika pimpinan rapat mengajak hadirin membacakan doa untuk para pengurus NU yang masih hidup, yang disebut hanya KH Sahal Mahfudz dan KH Hasyim Muzadi, tanpa menyebut nama Idham Chalid.

Mengapa nama Idham Chalid tidak disebut? Padahal, selama 28 tahun, dia menjadi ketua umum PBNU (1956-1984), ketua Umum PBNU yang paling lama selama ini. "Mungkin, banyak yang mengira, Ayah sudah meninggal dunia," ujar putra Idham, Syaiful Hadi Chalid, kepada Republika.

Alasan ini masuk akal. Karena, lebih dari 10 tahun, tokoh kelahiran Amuntai, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 88 tahun lalu itu sedang berbaring sakit. Dalam keadaan lumpuh dan tidak bisa bicara, dia dirawat di kediamannya di Cipete, Jakarta Selatan, yang merupakan bagian dari kompleks Daarut Maarif yang didirikannya pada tahun 1983 saat tidak aktif lagi di bidang politik. Perguruan Islam yang sampai kini masih berkembang baik didirikan sebagai bentuk komitmen Idham Chalid untuk menekuni bidang dakwah.

Sebelum menjadi ketua umum PBNU, pada Muktamar ke-19 NU di Palembang (28 April-1 Mei 1952), Idham Chalid datang sebagai utusan dari wilayah Kalimantan Selatan dan anggota pengurus PBNU. Pada muktamar ini, Idham dinobatkan sebagai sekretris PBNU. "Di Palembang inilah, NU memutuskan memisahkan diri dan menjadi partai politik sendiri pisah dari Masyumi. KH Masykur terpilih sebagai ketua umum dan saya menjadi sekretaris," ujar Idham Chalid sebagaimana dikisahkannya dalam buku Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid.

Idham mengakui, banyak reaksi yang muncul terhadap keputusan NU ini. Bahkan, ada yang menganggap sebagai kebijakan yang sangat keras dan dianggap dapat memecah umat Islam. Tapi, tokoh Masyumi, Dr Sukiman Wirjosanjojo, memaklumi keputusan keluarnya NU dari Masyumi.

Tak ada yang menyangka, keputusan NU keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik tersendiri akan mampu bersaing dengan partai politik lainnya. Dalam Pemilu 1955 itu, NU tampil sebagai kekuatan terbesar ketiga setelah PNI dan Masyumi.

Sejak itulah, karier Idham makin berkibar. Ia sempat menduduki sejumlah posisi penting. Di bidang eksekutif, ia beberapa kali ditunjuk menjadi menteri, termasuk wakil PM pada Kabinet Ali Sastroamidjojo.

Ketika Bung Karno jatuh, Pak Harto

menunjuknya sebagai anggota Presidium Kabinet Ampera bersama Sultan Hamengku Buwono IX dan Adam Malik. Idham yang menguasai bahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Jepang diangkat menjadi ketua MPR/DPR (1971-1977).

Demokrasi Terpimpin

Ketika Dekrit Presiden diumumkan pada 5 Juli 1959, saat itu pula Demokrasi Terpimpin ditegakkan. Pada 9 Juli 1959, susunan Kabinet Kaiya diumumkan dan Soekarno sebagai PM. Bung Karno kemudian membubarkan Masyumi dan PSI ketika kedua partai ini mengancam tidak menyetujui anggaran negara. Sebaliknya, Masyumi dan PSI membentuk Liga Demokrasi. Tidak lama kemudian, DPR Gotong Royong terbentuk.

NU mengalami perbedaan pendapat mengenai keabsahan keikutsertaannya dalam DPR GR ini. Di satu pihak, KH Bisri Syansuri, KH Dahlan, Imron Rosyadi, dan KH Achmad Siddiq menganggap DPR GR antidemokrasi. Bagi KH Bisri, ikut serta dalam sebuah DPR yang anggota-anggotanya tidak seluruhnya dipilih rakyat bertentangan dengan fikih.

Di lain pihak, KH Wahab Hasbullah menjelaskan bahwa NU tidak punya pilihan. Ia memaparkan semuanya, dari kemungkinan dilarangnya NU hingga keluarnya partai tradisional dari pemerintahan. Baginya, umat Islam belum siap melakukan politik konfrontasi menghadapi penguasa. Apabila NU ingin meninggalkan DPR. ia akan selalu melaksanakannya.

Idham selaku ketua umum dan sekjen Saifudin Zuhri menyatakan bahwa kebijakan PBNU memberi kesempatan kepada anggota NU yang ditunjuk kepala negara duduk dalam Kabinet Kaiya dan Dewan Nasional. Hal ini didasarkan untuk mencegah datangnya mudarat yang lebih besar daripada mencari kebalikan sebagaimana kaidah fikih yang berbunyi, Darul mafasid muqaddamum ala jalb al-masalih.

Bersaing ketat

Dalam jabatannya sebagai orang nomor satu di PBNU, karier Idham Chalid tidak selalu mulus. Ada pernak-pernik yang timbul selama masa kepemimpinannya.

Pada tahun 1970, dalam Muktamar NU di Surabaya, Idham bersaing ketat dengan Subchan ZE, tokoh muda NU yang sedang menanjak dan kala itu menjabat sebagai ketua I PBNU. Penulis, yang ketika itu ikut meliput Muktamar NU pada 40 tahun lalu, menyaksikan bagaimana kedua kubu saling bertarung. Pertarungan antarkedua kandidat ini semakin besar dengan munculnya suara-suara dari pendukungnya.

Dalam menghadapi pers, penulis menyaksikan gaya Idham Chalid yang tampak lebih tenang. Lebih-lebih saat berhadapan dengan para ulama. Ia menunjukkan sikap yang tawadhu.

Melihat kondisi yang demikian memanas, penulis awalnya memperkirakan bahwa persaingan itu akan dimenangkan oleh Subchan. Apalagi, dia sangat berperan dalam aksi-aksi pengganyangan Gestapu/PKI. Subchan adalah tokoh yang mendapat dukungan kelompok muda NU.

Namun, berkat kepandaian dan karismanya, Idham Chalid tetap dipercaya peserta muktamar untuk kembali memimpin NU.

Dalam Muktamar ke-27 NU tahun 1984 di Situbondo, Jawa Timur, yang dibuka oleh presiden Soeharto, terjadi keputusan penting. NU kembali ke Khitah 1926 yang menyatakan NU tidak lagi menjadi partai politik. Karena itu, NU tidak melakukan kegiatan politik praktis. Akan tetapi, seperti tulis Idham, sebenarnya gagasan untuk kembali ke Khitah 1926 telah diambil dalam beberapa muktamar sebelumnya. Salah satunya adalah Muktamar ke-23 tahun 1962 di Solo. Pada muktamar di Surabaya tahun 1971, juga muncul gagasan kembali ke Khitah 1926 dan juga muktamar di Semarang (1979).

Meski sudah sangat jelas, ternyata gagasan kembali ke Khitah 1926 baru sampai pada tingkat konsepsional. Sehingga, selama periode lima tahun setelah Muktamar ke-26, posisi NU tetap mengambang dan serbacang-gung dalam melangkah. Kaki yang satu sudah berada di luar PPP, tapi kaki yang lain masih terbenam di dalamnya. Posisi ini oleh sebagian ulama dirasakan sebagai krisis identitas.

Situasi ini telah menimbulkan konflik secara internal di kalangan ulama NU. Situasi ini semakin memprihatinkan setelah wafatnya Rais Aam PBNU.KH Bisri Syansuri dan sakitnya ketua umum Idham Chalid. Saat itu, semakin memanas perselisihan antara kelompok Cipete dan kelompok Situbondo. Kedua-duanya mendapatkan dukungan para ulama dan pimpinan NU di daerah-daerah. NU hampir terpuruk dalam jurang perpecahan.

Pada 2 Mei 1982, Idham Chalid didatangi empat ulama senior yang memintanya untuk mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Awalnya, Idham sempat memutuskan mengundurkan diri. Namun, pada 14 Mei 1982, Idham menegaskan, dirinya tetap berkiprah di NU hingga akhir kepemimpinannya. Pada Muktamar NU di Situbondo tahun 1984, Idham resmi mundur dari kepengurusan PBNU. Ia pun kemudian kembali ke jalurnya, berdakwah dan mengurusi lembaga pendidikan.

Tapi, Idham menjelaskannya kepada penulis bahwa seperti tradisi NU, perbedaan antara kedua kubu tidak sampai membawa permusuhan. Setelah saling memaafkan, para kiai sepuh dan Idham sering bertemu. Tidak ada dendam dan kebencian dalam hati saya," tutur Idham saat itu kepada Republika. )
( Sumber : http://bataviase.co.id )

IDHAM CHALID TOLAK TMP KALIBATA
KESEDERHANAAN. Itulah yang dipegang teguh tokoh sekaligus ulama Nahdlatul Ulama (NU) KH Idham Chalid (88) hingga akhir hayatnya. Merasa dirinya merupakan anak pondok, dia pun berpesan kepada keluarganya untuk dimakamkan di wilayah pondok pesantren. "Beliau berpesan supaya Jangan dikubur di Kalibata (taman makam pahlawan-Red).

Beliau Ingin dimakamkan di Pondok Darul Quran di Cisarua, Bogor," kata putra Idham Chalid, Syaiful Hadi, seperti dikutip okezone.com. Minggu (11/7). Idham Chalid tutup usia pada Minggu (11/7) pukul 08.00 di kediamannya di Jalan Fatmawati No 45. Cipete, Jakarta Selatan. Pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Ini pernah menjabat wakil perdana menteri pada Kabinet All Sastroamidjojo II. Diajuga pernah menjadi Ketua Umum PBNU pada 1956. Karier pria kelahiran Tanahbumbu. Kalimantan Selatan, 27 . Agustus 1921 Ini di bidang politik terus menanjak. Pada tahun 1968 dia terpilih menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), kemudian pada 1972 mendapat kepercayaan menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), (tis)
( Sumber : http://bataviase.co.id )

WAPRES NILAI KH IDHAM CHALID POLITISI PENYEJUK

JAKARTA (Suara Karya) Wakil Presiden Boediono menilai, almarhum KH Idham Chalid sebagai ulama sekaligus politisi yang menyejukkan.

"Beliau adalah ulama dan politisi yang menyejukkan. Itu pendapat saya," katanya usai melayat di rumah duka di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Minggu malam.Wapres Boediono tiba di rumah duka sekitar pukul 20.00 WIB tanpa didampingi Ibu Herawati Boediono dan langsung menyampaikan ucapan belasungkawa kepada keluarga dan kerabat almarhum. Usai menyampaikan ucapan \elasungkawa. Wapres langsung berdoa di samping jenazah, didampingi dan diikuti kerabat dan keluarga almarhum.

Setelah berdoa. Wapres menanyakan rencana pemakaman yang akan dilakukan Senin (12/7) di Kompleks Pondok Pesantren Darul Quran, Cisarua, Bogor, sekaligus menanyakan kerabat dan pejabat yang telah melayat dan akan melayat termasuk kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Senin (12/7) pagi ke rumah duka.Idham Chalid lahir di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1922. Anak sulung dari lima bersaudara itu meninggalkan 16 orang anak, 35 cucu, dan tujuh cicit

Pada masa hidupnya, Idham pernah menjabat dua kali sebagai Wakil Perdana Menteri Kabinet Ali Sastroamidjojo dan Kabinet Karya (1956-1957). Ia pernah pula menjabat sebagai Ketua DPR (1971), Ketua MPR (1972-1978), Ketua Dewan Pertimbangan Agung (1978-1983), anggota Tim Penasehat Presiden mengenai Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Tim P7), dan anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI).Hadir sejumlah tokoh untuk melayat antara lain Menteri Pemberdayaan Perermpuan dan Perlindungan Anak Lina Gumelar. Menteri Agama Suryadharma Alie. tokoh agama Kiai Zainuddin MZ, serta politisi Sulastomo.

Sementara itu, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana (Purn) Rudolf Kasenda meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Minggu, karena penyakit jantung yang dideritanya. Seorang kerabat dekat almarhum Nico Somputan saat dihubungi di Jakarta, mengungkapkan. Kasenda meninggal sekitar pukul 08.00 WIB. "Jenazah disemayamkan di Kompleks Angkatan Laut, Pangkalan Jati, Jakarta Selatan," katanya.

Laksamana Rudolf Kasenda adalah pria kelahiran Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, pada 15 Mei 1934. Dia menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Laut dari 1986 hingga 1989.Sementara itu. Brigadir Jenderal Purnawirawan Herman Sarens Sudiro meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, Minggu. Rencananya, jenazah disemayamkan di rumah Hermans di Jalan Daksa, Jakarta Selatan, dan dimakamkan Senin (12/7).
( Sumber : http://bataviase.co.id )


IDHAM CHALID WAFAT, PPP USUL GELAR PAHLAWAN

Ketua DPR/MPR periode 1972-1977, Doktor Kiai Hap Idham Chalid meninggal dutna di kediamannya di Pesantren Daarul Maarif, Opele, Jakarta Selatan, Minggu (11/7) pukul 08.00 WIB Wafatnya Idham Khalid merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia lantaran almarhum telah memberi warna bagi perjalanan bangsa melalui kiprahnya baik semasa Orde Lama maupun Ode Baru.

Tak heran jika PPP spontan menyarankan agar pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada KH Idham Cholid. Gelar pahlawan itu layak buat Beliau karena jasa-jasa yang luar biasa yang diberikan almarhum buat negara dan bangsa im," cetus M Romahurmuzy, Wakil Sekretaris Jenderal PPP di Jakarta sebagaimana dilansir Kompas.com.

Tak hanya itu. Partai Persatuan Pembangunan juga mengusulkan hari berkabung nasional selama tiga han atas meninggal mantan Ketua Umum PBNU tersebut. Mengingat jasa-jasa Pak KH Idham Chalid, PPP menyerukan han berkabung nasional dengan pengibaran bendera setengah tiang selama tiga han berturut-turut sejak lian ini,1 kata Romahurmuzy sambil menekankan, Pimpinan PPP juga membenkan instruksi kepada keluarga besar PPP untuk menggelar doa dan tahlil atas meninggalnya KH Idham Cholid selama sepekan berturut-turut di kantor sekretanatnya masing-masing.

Sementara Saiful Hadi, salah seorang putra almarhum, mengemukakan, "Ayah meninggal dunia pukul 08.00 WIB di Cipete dan pemakamannya pada Senin (12/7) di Pesantren Darul Quran, Cisarua, Bogor Menurut Saiful, Idham Chalid meninggal dunia setelah selama sembilan tahun berjuang melawan penyakit stroke. Sejak sembilan tahun alam, Idham terkena serangan jantung yang dahsyat pada 1999. "Ketikaserangan jantung terjadi, Bapak terkena lumpuh total dan tak bsa bicara, papar Saiful.Ditambahkan, selam tak bisa berbicara, untuk makan pun sang ayah harus dibantu dengan selang yang dimasukkan ke saluran pencemaannya di perut (sounde). Makanan pun harus dihaluskan dan disanng sebelum masuk ke selang tersebut, ujarnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Ai-Fatah Ciomas, Kabupaten Bogor, KH Saeful Miiiah Hasbi, mengatakan, pengabdian terbesar dibenkan Idham kepada bangsa mi melalui kiprahnya di NU. Wham tercatat menakhodai ormas Islam terbesar di Indonesia itu selama 28 tahun mulai 1956 hingga 1984.Semasa muda Idham ikut berjuang mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi, yang diduduki selama 350 tahun. Begitu pun saat terjadinya pens-tiwa revolus fisik yaitu transisi dan era penjajahan ke kemerdekaan. Idham juga berada di pusat pusaran peristiwa saat penumpasan pemberontakan PW tahun 1965-1966. ( Sumber : http://bataviase.co.id )

FORMER NU CHAIRMAN, HOUSE SPEAKER IDHAM CHALID DIES AT 87
Erwida Maulia

Idham Chalid, a renowned cleric .who chaired Nahdlatul Ulama (NU) for 28 years and a savvy politician who built a stellar career during the Sukarno and Soeharto eras, died in Jakarta on Sunday. He was 87.

A former speaker of both the House of Representatives and the Peoples Consultative Assembly, Idham was a charismatic figure within the NU. His body islying in state in his residence in Cipete, South Jakarta.As some of his family members reside in his hometown in South Kalimantan, Idhams burial is scheduled for Monday at the Darul Quran Islamic boarding school, which is run by his family, in Cisarua, West Java.

Idhams health had deteriorated drastically since he suffered a heart attack and stroke in 1999. He spent most of the past 10 years bedridden."Father died at 8 im. this morning. We ask for your prayers so Allah accepts all of his good deeds," Idhams son Saiful Hadi, the editor-in-chief of national news agency Antara, said Sunday."We also ask you to forgive him his transgressions," he added.

Condolences have come from a number of prominent figures, including President Susilo Bambang Yudhoyono, who called him "a national, public figure who made significant contributions to the development of the nation and the state"."The President expresses his deepest condolences," presidential spokesman Julian Aldrin Pasha said.Muslim preacher Zainuddin MZ said Idham was "a moderate cleric who preserved his dignity in his political activities".

Religious Affairs Minister Suryadharma Ali, who also chairs the United Development Party (PPP), instructed the headquarters and all regional branches of the PPP to lower the Indonesian and party flags to half mast for three days out of respect to Idham, the founder of the PPP."He was an exemplary figure not only to PPP members, but also to the entire nation," Suryadharma said.Idham was born in Setui, South Kalimantan, on Aug. 27, 1922. His foray into politics came after he joined NU, which took part in the 1955 legislative elections.

At the age of 34, Idham became the youngest chairman of NU andretained the post for 28 years until 1984, making him the organizations longest-serving chairman.He was replaced by the grandson of NU founder Hasyim Asyarie, Abdurrahman "Gus Dur" Wahid, who removed NU from the countrys political stage.Gus Durs move created conflict between him and Idham, who founded PPP in 1973.

Idhams bureaucratic career began in the mid-1950s, when he served as deputy to then Indonesian prime minister Ali Sas-troadmidjojo.He also served as coordinating public welfare minister under then president Soeharto, and as speaker of the House and the Assembly between 1968 and 1977.After leaving politics. Idham focused on education, by establishing and developing the Daarul Maarif Islamic boarding school in Jakarta and Darul Quran Islamic boarding school in Bogor.
( Sumber : http://bataviase.co.id )

PAHLAWAN NASIONAL UNTUK DR KH IDHAM CHALID

Menteri Sosial Salim Segaf Al J ufri mengemukakan bahwa pihaknya menunggu usulan resmi bagi gelar pahlawan nasional untuk Dr KH Idham Chalid supaya segera diproses. "Kita semua merasa kehilangan. Karena itu usulan gelar pahlawan nasional harus disampaikan secara resmi dari Pemda tempat kelahiran agar nanti dibahas Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan." katanya seperti disampaikan Tenaga Ahli Bidang Hubungan Media dan Tata Kelola Pemerintahan Drs Sapto Waluyo MSc. Ia mengatakan, pihaknya mewarisi kearifan dan konsistensi tokoh sehingga perlu diteliti sejarah hidupnya secara rinci dan dinilai jasanya bagi kehidupan seluruh bangsa, bukan hanya bagi suatu kelompok/organisasi.

Mensos menyatakan turut berbelasungkawa atas wafatnya KH Idhan Chalid. "Almarhum salah satu putra terbaik bangsa, bukan hanya pernah menjadi Kelua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan pendiri PPP, tapi juga Jadi Ketua DPR/MPR." katanya seperti diberitakan Antara.

"Beliau sebenarnya telah mendapatkan bintang Mahaputra, sehingga berhak dimakamkan Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, tapi keluarga meminta dimakamkan di Ponpes Darul Quran di Cisarua. Kabupaten Bogor." kata Mensos yang direncanakan sebagai inspektur upacara saat pemberangkatan jenazah di rumah duka pada Senin (12/7) pagi. Menurut Mensos. KH Idham Chalid adalah contoh figur politisi yang dekat dunia pendidikan dan keagamaan.

Sementara itu, usulan bagi gelar pahlawan untuk Idham Chalid disuarakan dari Bogor. Jawa Barat, tempat di mana almarhum ternyata semasa hidup pernah tinggal lama di Kola Bogor, tepatnya di Ciwaringin. Bogor Tengah. Kota Bogor selama bertahun-tahun.

Tokoh masyarakat Bogor Hasanuddin mengatakan. Idham Chalid yang merupakan seorang pemimpin besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia dinilai layak dianugerahi tanda jasa sebagai pahlawan nasional karena sepanjang hidupnya ia telah memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.

Kiai Idham telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini. Kami berharap pemerintah memberikan apresiasi pada putra bangsa yang telah banyak berjuang untuk kepentingan nasional." kala Hasanuddin, tokoh masyarakat Bubulak. Bogor.

Ditegaskannya bahwa tanpa keterlibatan Kiai Idham di kancah pergerakan nasional. Indonesia kemungkinan kini telah berubah menjadi negara dengan faham komunisme. Tahun 1965-1966. saat Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan perlawanan terhadap pemerintah dan merencanakan pendirian negara komunis. Kiai Idham berdiri paling depan sebagai ujung tombak sipil dalam melakukan penumpasan gerakan makar PKI. "Saya berharap pemerintah menghargai jasa para pahla-wannya. Kiai Idham merupakan salah satu pahlawan yang pernah dimiliki Indonesia dan sudah sewajarnya beliau dianugerahi pahlawan nasional." tegasnya.(djo)
( Sumber : http://bataviase.co.id )

Ribuan Anak Yatim Lepas KH Idham Chalid
13 Jul 2010

* Politik
* Suara Karya

BOGOR (Suara Karya) Ribuan yatim-piatu dan warga kurang mampu (duafa) ikut berkerumun di tengah ribuan jemaah saat menshalatkan dan memakamkan jenazah ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus tokoh bangsa KH Idham Chalid, Senin (12/7)

Pengurus Pesantren Darul Quran, Cisarua Bogor, KH Kholil seperti dikutip Antara mengemukakan. Perguruan Darul Quran merupakan lembaga pendidikan yang dikelola keluarga ulama besar NU kelahiran Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut. "Darul Quran salah satu lembaga yang dikelola Kiai Idham, selain Perguruan Darul Maarif di Cipete Jakarta," kata Kholil.Menurut KH Kholil, Pesantren Darul Quran mengembangkan sejumlah unit pendidikan yaitu SMP, SMA, pesantren, majelis talim dan panti asuhan.

"Kami mengelola panti asuhan. Anak-anak berasal dari daerah sekitar Bogor." ujarnya.Para yatim piatu dan masyarakat dhuafa yang dia-suh Darul Quran, ikut berbaur dengan jamaah dalam prosesi menyalatkan dan pemakaman jenazah Kiai Idham Chalid.Namun, mengingat kapasitas taman yang menjadi areal pemakaman sempit dan terbatas, para jamaah tidak diperbolehkan" mendekat ke liang lahat yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Kiai Idham.

Upacara pemakaman dilakukan oleh negara dengan pengawalan ketat, sehingga yang diperbolehkan mendekat liang lahat untuk melihat terakhir kali jenazah almarhum hanya pihak keluarga terdekat, ulama kolega almarhum serta pejabat negara dan daerah yang hadir ke lokasi.Kiai Idham Chalid (88) wafat Minggu di Jakarta. Ulama besar NU dan tokoh bangsa tersebut dikena] sebagai sosok pemimpin besar multi dimensi.

Dia menduduki jabatan strategis baik di bidang keagamaan, politik maupun birokrasi dalam kurun waktu cukup lama yakni lebih dari 50 tahun, yakni mulai akhir tahun 1940-an hingga akhir 1990-an.Sejumlah jabatan yang menonjol antara lain sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU| selama 28 tahun (1956-1984), Ketua DPR/MPR 1972-1977 dan Ketua DPA 1978-1983. rrnono)
( Sumber : http://bataviase.co.id )

Upacara dipimpin Menag
13 Jul 2010

* Nasional
* Pos Kota

KH Idham Chalid dimakamkan

JAKARTA (Pos Kota) -Jenazah KH Idham Chalid dimakamkan di Kompleks Pondok Pesantren Danil Quran, di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Senin (12/7) siang.

Menteri Agama Suryadharma Ali memimpin upacara kenegaraan dalam pemakaman mantan Ketua DPR/MPR dan mantan Ketua Umum PBNU pukul 12.00 WIB. Dipilihnya tem-pat pemakaman merupakan nazar almarhum.

KH Idham Chalid wafat di usia 88 tahun pada Minggu, pk. 08.00 WIB di kawasan pendidikan Daarul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, karena sakit sejak 10 tahun terakhir.

Lahir di Semi, Kalimantan Selatan 27 Agustus 1922. Ia adalah tokoh agama, tokoh bangsa, dan tokoh organisasi besar Islam Nahdlatul

Ulama dan juga deklarator sekaligus pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Selain itu, almarhu-mum juga pernah wakil perdana menteri pada masa pemerintahan Soekarno.

"Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaik bangsa dengan meninggalnya Idham Chalid," ujar Kepala Negara saat melayat di rumah duka
( Sumber : http://bataviase.co.id )

3 Tokoh nasional wafat 8KH Idham Chalid Herman Sarens
12 Jul 2010

* Headline
* Pos Kota

9Rudolf Kasenda
JAKARTA (Pos Kota) -Indonesia kehilangan tiga tokoh terbaiknya dajam satu hari kemarin Minggu (11/7). Mereka adalah Brigjen (Purn) Herman Sarens Soediro, 81, KH Idham Chalid, 88, pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan mantan KSAL Laksamana (Purn) Rudolf Kasenda,76. Herman Sarens Soediro meninggal dunia dengan menyisakan kasus sengketa tanah seluas

29.085 m2 di Mampang, Jakarta Selatan. Pihak keluarga menyatakan, tanah tersebut dihibahkan kembali ke TNI.
"Kami dari keluarga, atas pesan almarhum menghibahkan tanah di Mampang kepada negara khususnya TNI," kata anak pertama Herman Sarens, Ferry Soediro di rumah duka. Jl Daksa I Jakarta Selatan.

Ferry berharap, masalah sengketa antara Herman dan TNI selesai. "Surat-surat tanah itu sudah atas namaanak-anaknya," imbuh Ferry. Almarhum yang akan dimakamkan di Ciamis meninggal karena serangan jantung dan sesak nafas. Almarhum meninggalkan 4 anak, 17 cucu dan 17 cicit.

KH IDHAM CHALID

Menteri Agama Suryadharma Ali (SDA) kemarin tampak melayat ke rumah duka pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP) KH Idham Chalid. "Almarhum adalah guru," kata SDA usai melayat di rumah duka, Komplek Per-guruan Daarul Maarif, Jl Fatmawati, Cipete, Jakarta Se latan, Minggu (11/7).

"Waktu kecil sampai pemuda saya mengikuti sepak terjang beliau sebagai Menko Kesra, Ketua DPA, Ketua DPR, Ketua PBNU, Ketua PPP, dan Presiden PPP," ungkapnya.

Presiden SBY juga direncanakan akan melayat tokob NU tersebut. Dijadwalkan, SBY akan datang pada Senin pagi ini.

LAKSAMANA KASENDA

Satu lagi tokoh nasional yang meninggal adalah mantan KSAL Laksamana Rudolf Kasenda. Almarhum meninggal di RS Harapan Kita, Minggu (11/7) sekitar pukul 08.00 WIB.

"Jenazah disemayamkan di Kompleks Angkatan Laut, Pangkalan Jati, Jakarta Selatan," kata Nico Sompotan, kerabat dekat almarhum.

Laksamana Rudolf Kaseji-da lahir di Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan-, pada 15 Mei 1934. Dia pernah menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Laut dari 1986 hingga 1989.

(aby/us/6)
( Sumber : http://bataviase.co.id )

KH IDHAM CHALID, TOKOH TIGA ZAMAN-YANG MENINGGALKAN KITA

SALAH seorang putra terbaik bangsa ini berpulang ke rahmatullah. Ulama sekaligus tokoh nasional KH Idham Chalid meninggal dunia pada pukul 08.00 WIB di kediamannya di Cipete, Jakarta Selatan, Kemarin. Idham wafat pada usia 88 tahun setelah menderita sakit selama 11 tahun akibat stroke. Idham meninggalkan 16 putra-putri dan 40 cucu.

Jenazah mantan Ketua DPR/MPR itu disemayamkan di Pesantren Darul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, sebelum dikebumikan di Permakaman Darul Quran, Cisarua, Bogor, hari ini. Sejumlah tokoh, ulama, pejabat, dan mantan pejabat negara terlihat datang melayat, kemarin, termasuk mantan Wakil Presiden Hamzah Haz, mantan Menteri Perhubungan Agum Gumelar, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU)

Abdul Hafiz Anshary, Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Syaifuddin, mantan Menakertrans Fahmi Idris, Ketua Umum MUI Amidhan, dan KH Zainuddin MZ. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan melayat pagi ini di kediaman almarhum sebelum upacara pemakaman.

Direktur Pemberitaan LKBN Antara Saiful Hadi, yang juga salah seorang putra almarhum, kepada Media lndone-sia mengatakan almarhum meninggalkan pesan terkait dengan keberadaan yayasan yang dibangun almarhum. "Beliau berpesan agar yayasan pendidikan tersebut tidak dijadikan badan komersial dan terus dilanjutkan secara sosial oleh putra-putri beliau," kata Saiful.

Di mata KH Zainuddin MZ, Idham Chalid adalah tokoh multidimensi. "Dari segi politik, beliau tokoh yang sangat lugas. Beliau bisa bertahan di tiga zaman, pada era kemerdekaan, era Soekarno, dan sebagian era Soeharto. Beliau juga merupakan seorang ahli ulama dan orator ulung," kata Zainuddin. Idham Chalid, menurut Zainuddin, merupakan salah satu dari tiga tokoh yang ia kagumi selain Bung Karno dan Buya Hamka.

Ketua KPU Hafiz Anshary juga punya kesan tersendiri tentang almarhum. Anshary menilai Idham merupakan tokoh yang sangat berprestasi. Almarhum sudah dipercaya memegang berbagai jabatan sejak muda dan dikenang sebagai sosok yang mengharumkan nama Kalimantan Selatan. "Bagi warga Kalimantan Selatan, seperti saya, ia adalah sebuah kebanggaan," tutur Anshary. Selamat jalan Idham Chalid. C/X-9)
( Sumber : http://bataviase.co.id )

MENTERI AGAMA : KH IDHAM CHALID SOSOK TELADAN

Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan, KH Idham Chalid merupakan sosok teladan dalam berbagai bidang baik politik dan agama serta menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik. "Kami mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya dan kita kehilangan putera bangsa terbaik yang mengemban tugas negara sesuai dengan tanggungjawabnya, saat mengemban tugas merupakan tauladan bagi kita," kata Suryadharma saat menjadi inspektur upacara pemakaman KH Idham Chalid di kompeks pemakaman keluarga Oarul Quran, Cisarua, Bogor, Senin.

Lebih jauh Menag mengatakan, upacara militer dalam pemakaman tokoh Nahdatul Ulama, mantan Wakil Perdana Menteri dan mantan Ketua DPR/MPR dan juga mantan ketua DPA itu merupakan bentuk penghormatan negara atas jasa KH Idham Chalid.Mewakili keluarga menyampaikan sambutan, 8upati Bogor Rachmat Yasin mengatakan pihak keluarga menyampaikan ucapan terima kasih atas penghormatan yang diberikan kepada KH Idham Chalid. "Ia merupakan ulama yang lengkap, menguasai ilmu agama dan juga ilmu sosial lainnya. Menguasai Bahasa Arab dan bisa berbahasa lainnya, mempunyai kepribadian lembut, tawadhu(rendah hati red) dan pandai bergaul," katanya.

Menteri Agama selaku wakil dari negara dan pemerintah, memulai upacara persada, yaitu upacara menandai dimakamkannya salah satu putera terbaik bangsa dan diikuti kemudian oleh tembakan salvo dan lagu gugur bunga saat jenazah diturunkan ke liang lahat.Sekitar 1.000 pelayat hadir dalam upacara pemakaman tersebut. Sebelum dimakamkan, jenazah sempat disholatkan di masjid yang berada di kompleks pondok pesantren tersebut. Bendera Merah Putih yang menyelubungi keranda jenazah kemudian dilipat dan diberikan kepada anggota keluarga KH Idham Chalid setelah jenazah diturunkan ke liang lahat.KH Idham Chalid meninggal pada usia 88 tahun, Minggu (11/7) karena sakit. Sejumlah tokoh agama maupun tokoh politik merasa kehilangan atas kepergian tokoh yang memiliki rekam jejak di bidang politik dan keagamaanitU. rin
( Sumber : http://bataviase.co.id )


PEMERINTAH TUNGGU USULAN IDHAM CHALID SEBAGAI PAHLAWAN

BOGOR Mantan Wakil Perdana Menteri, Mantan Ketua MPR/DPR, dan mantan Ketua Umum Tanfidziah PBNU KH Idham Chalid, Senin (12/7) dimakamkan di kompleks makam keluarga Pondok Pesantren Darul Quran, Cisarua, Bogor.

Upacara pemakaman kenegaraan dipimpin oleh inspektur upacara Menteri Agama Suryadharma Ali. Menteri agama selaku perwakilan dari negara, memulai upacara persada, yaitu upacara menandai dimakamkannya salah satu putra terbaik bangsa dan diikuti kemudian oleh tembakan salvo dan lagu . gugur bunga saat jenazah diturunkan ke liang lahat.Sekitar 1.000 pelayat hadir dalam upacara pemakaman tersebut. Sebelum dimakamkan, Jenazah sempat disalatkan di masjid yang berada di kompleks pondok pesantren tersebut

KH Idham Chalid meninggal pada usia 88 tahun, Minggu (11/7) karena sakit. Sejumlah tokoh agama maupun tokoh politik merasa kehilangan atas kepergian tokoh yang memiliki rekam jejak di bidang politik dan keagamaan itu.Sementara itu, Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengisyaratkan bahwa pemerintah menunggu usulan resmi bagi gelar pahlawan nasional untuk Kiai Idham Chalid supaya diproses. "Ant/G-1
( Sumber : http://bataviase.co.id )

PERGINYA TOKOH MODERAT
M Ikhsan Shiddleqy
JAKARTA-KH Idham Chalid mengembuskan napas terakhir pada usia 88 tahun di Pondok Pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, Ahad (11/7), pukul 08.00 WIB. Jenazah mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini akan dimakamkan di Bogor, Senin (12/7). "Insya Allah dimakamkan pada Senin besok di Pesantren Darul Quran, Cisarua, Bogor," kata putra Idham Chalid, Saiful Hadi, kemarin. Almarhum selama 10 tahun ini berjuang melawan penyakit stroke. Beliau meninggalkan 16 anak, 40 cucu, dan seorang cicit.

Saiful mengenang ayahnya sebagai sosok yang sederhana. "Baik saat menjabat maupun tidak menjabat, beliau tetap bersahaja dalam keseharian," kata Saiful yang kini mendudukimanajer Pemberitaan Kantor Berita Antara.
Kiai Idham belum pernah menginap di hotel ketika bepergian atau menjalankan kunjungan dinas. Bahkan, kadang-kadang menginap di rumah warga. Sikap sederhana juga terlihat dalam kesehariannya yang tidak memakai telepon seluler dan kartu kredit hingga akhir hayat.

Dalam berpolitik, lanjut Saiful, Kiai Idham tidak pernah menyerang orang lain dan tidak pernah membalas ketika diserang oleh lawan politik. Tokoh kelahiran Kalimantan Selatan ini juga sangat nasionalis. Ini ditunjukkannya pada masa kemerdekaan ketika beliau menyetujui bergabungnya Kalimantan ke Indonesia. "Beliau pernah dituduh oleh beberapa sultan di Kalimantan

sebagai orang Kalimantan yang menjual Kalimantan kepada Soekarno. Tapi, beliau tetap pada sikapnya bahwa Kalimantan adalah bagian dari NKRI," kata Saiful.

Sejak kemarin siang, para pelayat yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari politisi, menteri, dan pejabat tinggi, memenuhi rumah duka. Beberapa menteri yang tampak melayat antara lain Menteri Agama Suryadharma Ali yang juga ketua umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) serta penceramah kondang KH Zanuddin MZ. Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan akan melayat pada hari ini.

Idham Chalid sendiri semasa hidupnya sempat memimpin tiga partai, yaitu Partai Masyumi, Partai NU, serta sebagai deklarator PPP setelah fusi berbagai partai Islam pada awal 1970-an. "PPP merasa kehilangan atas kepergian Pak Idham Chalid," kata Suryadharma Ali.

Tentu saja warga Nahdliyin merasa paling kehilangan tokohyang selama 28 tahun ini memimpin NU di bawah dua era, yaitu Soekarno dan Soeharto. "Atas nama PBNU, kami mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya dan mengimbau warga Nahdliyin ikut berdoa untuk beliau," kata Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj.

Said Aqil mengenang Idham Chalid sebagai politisi yang moderat dan santun. "Beliau bisa diterima di mana-mana dan selalu berada di tengah serta tidak ekstrem," kata Said.

Dalam buku Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid yang disunting oleh Arief Mudatsir Mandan, tokoh muda NU dan politikus PPP. kiprah dan peran Idham Chalid tergolong istimewa. Kalangan pengamat politik Indonesia banyak mencatat bahwa Idham Chalid merupakan seorang dari sedikit politikus Indonesia yang mampu bertahan pada segala situasi.

Dalam pandangan mantan ketua umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, sikap luwes tokoh termuda yang pernah memimpin NU itu memang dimaknai berbeda olehberbagai pihak. Namun, sebagai pemimpin jamaah besar seperti NU, kearifan dan ketangguhan memang sangat dibutuhkan. "Orang yang mengerti Pak Idham menyatakan bahwa beliau orang yang istikamah dalam berbagai situasi, tetapi orang yang tidak cocok pasti mengatakan (beliau) oportunis karena dari masa ke masa selalu mendapat tempat," kata Hasyim.

Bukan hanya NU, Muhammadiyah juga merasa kehilangan. "Saya instruksikan seluruh warga Muhammadiyah untuk segera melaksanakan shalat gaib," kata Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Selatan, Adhijani Al Alabij.

Menurut Adhijani, peran tokoh asal Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, itu dalam membesarkan organisasi NU dan PPP tidak diragukan lagi.

Wakil Ketua Umum PBNU, Slamet Effendi Yusuf, menegaskan bahwa almarhum adalah pahlawan karena memiliki andil untuk menyatukan bangsa. Untuk gelar pahlawan nasional, Slamet menyerahkan kepada pemerintah.

MENUMPAS PKI

Gelar pahlawan juga diwacanakan oleh tokoh masyarakat Bogor, Hanasuddin. Menurutnya, Kiai Idham telah memberikan yang terbaik bagi bangsa ini. Dia melanjutkan, tanpa keterlibatan Kiai Idham, Indonesia bisa berubah menjadi negara komunis.

Pada 1965-1966, saat terjadi gejolak yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI), Kiai Idham berdiri paling depan sebagai ujung tombak sipil dalam menumpas gerakan PKI. "Saya berharap pemerintah menghargai jasa para pahlawannya. Kiai Idham merupakan salah satu pahlawan dan sudah sewajarnya dianugerahi gelar pahlawan nasional," kata Hasanuddin.
( Sumber : http://bataviase.co.id )

KAMAR DIBIKIN SEPERTI RS, PERAWAT SIAGA 24 JAM
KH DR Idham Chalid, Meninggal setelah 10 Tahun Melawan Stroke

Indonesia kembali kehilangan tokoh pentingnya. KH DR Idham Chalid bin Muhammad Chalid yangkoma selama 10 tahun akhirnya menghembuskan nafas terakhir,kemarin (11/7). Seperti apa perjuangan anak-anak mantan Ketua MPR/DPR ini merawat orang tuanya selama sakit?

DEDI MIRWAN, Jakarta

SUASANA duka menyelimuti rumah KH Idham Chalid di Jalan RS Fatmawati. Komplek Pondok Pesantren Darul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan. Lantunan Surat Yasin dan tahui menggema dari dalam rumah bercat putih tersebut. Karangan bunga ucapan duka cita memenuhi pintu masuk komplek Pondok Pesantren hingga halaman rumah.

"Kita sudah ikhlas bapak meninggal. Mungkin ini yang lebih baik untuk dirinya,"kata salah satu anak KH Idham Cholid. Syaiful Hadi Chalid, kepada INDOPOS. Ucapan duka cita datang dari sejumlah pe-jabat, misalnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono. Wakil Presiden Boediono dan Herawati Boediono, juga Menteri Agama Suryadharma Ali. Puluhan pelayat juga datang silih berganti ke rumah duka. Sejumlah pejabat negara dan tokoh masyarakat datang untuk mengucapkan belasungkawa. Di antaranya. Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faisal Zaini, KH Zainuddin MZ. AM Fatwa. Agum Gumelar. Fami Idris, Hamzah Haz. Slamet Effendi Yusuf. Lukman Hakin. Ketua Umum Partai Demoktar Anas Urbaningrum, dan Gu-bemur Jakarta Fauzi Bowo.

Sebuah tenda besar besar ditempatkan di depan rumah duka untuk tempat pelayat. Jenazah almarhum sendiri ditempatkan di atas tempat tidur. Di dekatnya terdapat sebuah lukisan almarhum mengenakan baju putih sambil membaca Alquran

"Bapak bukan koma. Tapi kena stroke. Fungsi otaknya makin berkurang. Diajuga lumpuh. Syaraf-syarafnya sudah tidak berfungsi. Jadi cuma bisa tiduran di atas kasur aja" kata Rina Syaiful, menantu KH Idham Cholid. Dirinya tidak tahu pasti kapan mertuanya mengalami stroke. Sebab, saat itu dirinya di Belanda. Ketika pulang ke Indonesia, temyata sudah kena. Bahkan pada 1997, mertuanya kembali anfal.

"Kita membuat kamarnya seperti rumah sakit. Ada tabung oksigen, perawat 24 jam. Anak-anaknya yang sempat juga ikut menjaga. Perawatnya ada 3 orang. Tiap orang shif-shifan 6 jam," tambah Rina. Menurut Syaiful, sebenarnya bapaknya sudah lumpuh akibat stroke sejak 11-12 tahun lalu. Setelah itu, bapaknya langsung tidak bisa melakukan apapun. Untuk makan harus dimasukkan langsung ke Lambung menggunakan alat bernama Sonde Makanan yang dimasukkan berupa daging, susu, dan sayuran. Semuanya dalam bentuk cairan.

"KITA BUAT RUMAH SEPERTI RUMAH SAKIT.
Ada juru rawatnya. Kalau dirawat di rumah sakit mahal. Makanya dirawat di rumah. Kita merawat dengan segala kemampuan. Kami tidak ada banyak. Tapi akhirnya bisa," papar salah satu direktur di Kantor Berita Antara ini. Meskipun dirawat di rumah, lanjut anak kelima dari 16 bersaudara ini, tidak ada jadwal khusus untuk menjaga bapaknya. Selain ada perawat, di rumah tersebut juga tinggal adik dan kakak Syaiful. "Kita santai aja. Keluarga tinggal satu komplek di sini. Sejak itu kita merawat dengan penuh kesabaran," urainya.

Diakui Syaiful, bapaknya yang berusia 88 tahun tersebut memang memiliki record (catatan) terkena stroke. Bahkan, seorang dokter penan memberikan suntikan ke bapaknya. "Dulu seinget saya disuntik dokter. Dokter bilang kalau bisa selamat pasti lumpuh. Kita tentunya ikhtiar (berusaha)," katanya. Syaiful yakin, dalam perawatan dokter bapaknya dapat bertahan hidup untuk sementara. Sebab, ketiga perawat sangat profesional. Mereka sudah tahu kapan jam makan. Selain itu. tidak mungkin keluargamerawat tanpa bantuan.

"Awalnya rumah sakit yang memberikan rekomendasi. Tapi saya tidak tahu dari rumah sakit mana. Rumah sakit pusat angkatan darat (RSPAD) atau RS Pondok Indah. Awalnya bapak dirawat di RSPAD. Karena jauh, kami minta RS rujukan dan akhirnya dirujuk ke RS Pondok Indah yang lebih deket," ujarnya.

Seminggu sebelum meninggal, katanya, almarhum sempat dirawat di RS Pondok Indah karena susah bernafas. Setelah 10 hari dirawat, dokter memperbolehkan pulang. "Kondisi membaik dalam ani tidak lebih baik dari sekarang ini. Kita sudah menebak (akan meninggal). Tadinya harus operasi ginjal tapi tidak bisa karena jantung tidak kuat. Juga cuci darah tidak bisa karena jantungnya," paparnya.

Meskipun ltfmpuh, ayahnya sering dikunjungi rekan-rekannya. Biasanya, jika ada teman datang, almarhum suka menangis atau mengkedipkan matanya untuk berkomunikasi. Dikatakan Syaiful, ayahnya sangat suka dengan anak kecil. Bahkan, sebagian rumahnya dijadikan sebagai kelas bagi anak

TK. "Dulu waktu membangun gedung baru, TK kekurangan kelas. Akhirnya bapak bilang pakai aja rumahnya," katanya. Syaiful sangat ingat pesan yang ditekankan orang tuanya ketika masih hidup. Pesan tersebut adalah mempertahankan Darul Maarif sebagai sekolah sosial dan tidak boleh dikomersilkan. Pesan tersebut tentunya sangat berat dilakukan. Untuk itu, uang sewa ruko di Jalan RS Fatmawati digunakan untuk mensubsidi sekolah.

"Bayaran di sini lebih murah dari sekolah negeri. Bapak berpesan, saya tidak rela dunia akhirat kalau ini (sekolah) dikomersilkan. Dulu ada permintaan dari AL Azhar. Mereka akan mengelola manajemen sekolahnya. Karena itu saya dimarahin bapak. Katanya, kalau mau duit dibikin ruko saja," kenang Syaiful.

Pesan lain yang disampaikan bapaknya, kata Syaiful, adalah keinginan dimakamkan di samping Pondok Pesantren anak yatim di Darul Quran Cisaura. Sebenarnya, tempat tersebut tidak memenuhi syarat. Tapi, ayahnya tidak ingin dimakamkan di taman makam pahlawan. "Kalau di situ bisa didoakan anak yatim," katanya. ()
( Sumber : http://bataviase.co.id )

BAPAK FUSI PARTAI ISLAM BERPULANG
JAKARTA - Mantan Ketua MPR, Idham Chalid, telah berpulang. Tokoh NU, yang pernah menjabat wakil perdana menteri saat kabinet Moh. Roem terbentuk, itu meninggal dalam usia 88 tahun, Minggu (11/7) pukul 08.00 WIB, karena penyakit kanker. Idham yang lahir pada 27 Agustus 1922 di Setui, Kecamatan Kotabaru, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, adalah tokoh NU yang banyak malang melintang dalam perpolitikan nasional.

Dia adalah Ketua PBNU terlama yang memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia selama 28 tahun. Ia juga banyak menjabat posisi penting di lembaga negara. Selain itu, ia adalah orang pertama yang memimpin PPP.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengucapkan belasungkawa atas wafatnya mantan Ketua PBNU itu. "Presiden turut berduka dan mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya," kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, di Jakarta.

Presiden juga menyatakan Idham Chalid adalah tokoh nasional yang memberikan sumbangan besar di bidang politik, keagamaan, dan pendidikan di Indonesia. "Beliau adalah tokoh bangsa, tokoh masyarakat yang banyak berkontribusi terhadap kemajuan bangsa dan negara," kata Julian. Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj, mengatakan Kiai Idham Chalid adalah sosok ulama sekaligus politisi yang moderat dan santun. Beliau bisa diterimadi mana-mana dan selalu berada di tengah.

Wakil Ketua DPD AM Fatwa menjuluki Idham sebagai bapak fusi partai Islam. Menurut dia, Idham-lah tokoh utama di balik bergabungnya kekuatan Islam yang kemudian menyatu dalam satu biduk politik, yakni PPP. "Beliau sangat berjasa dalam menyatukan NU, Parmusi, PSII dan lainnya dalam PPP. Bahkan beliau adalah Presiden PPP yang pertama," ujarnya.

Selain Idham, negeri ini kehilangan orang-orang terbaiknya. Mantan Kepala Staf

Angkatan Laut Laksamana (pur) Rudolf Kasenda meninggal, dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Minggu, karena penyakit jantung yang dideritanya. Seorang kerabat dekat almarhum, Nico Somputan, mengungkapkan Kasenda meninggal sekitar pukul 08.00 WIB.

Laksamana Rudolf Kasenda adalah pria kelahiran Ran-tepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1934. Dia menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Laut dari 1986 hingga 1989.

Di hari yang sama. Brigadir Jenderal Purnawirawan Her-man Sarens Sudiro meninggal dunia pukul 11.00 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.

Rencananya, jenazah disemayamkan di rumah Herman di Jalan Daksa, Jakarta Selatan, dan dimakamkan Senin (12/7).

Herman Sarens semasa hidupnya lebih dikenal sebagai militer dari kesatuan kavaleri selain pernah menjadi diplomat, pengusaha, tokoh olah raga menembak dan berkuda, serta promotor tinju.

Ia lahir di Pandeglang, Banten, pada 24 Mei 1930. Darah militer mengalir dari ayahnya, Serma R Soediro Wirio Soehar-djo, Kepala Perlengkapan Batalyon IV, Resimen XI, Divisi II Siliwangi, yang gugur di tangan tentara Belanda pada 19 Desember 1947. ags/ant/G-1
( Sumber : http://bataviase.co.id )

ISLAH PKNU-PKB BARU WACANA, IDHAM BANTAH MAIN SENDIRI

SEKJEN Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) Idham Cholied tidak mau disalahkan terkait munculnya komite islah PKB yang digagas Sekjen PKB Lukman Edy cs dua bulan lalu.

Dia menegaskan, tidak pernah mengambil keputusan- islah dengan partai apapun, termasuk dengan PKB.

Idham menjelaskan, harus dibedakan antara tantangan dan persoalan wacana publik dengan kebijakan partai. Kalau dirinya ikut berbicara dalam forum itu, menurutnya, tidak bisa dinilai bahwa dia bersedia islah.

"Untuk itu saya katakan, bahwa saya dan PK.XU belum pernah mengambil kebijakan soal islah. Tapi bahwa kita harus mengambil bagian dalam perbincangan itu harus, karena itu bagian dah keadaan politik kita." ujar Idham kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Membedakan atau memisahkan wacana dan kebijakan ini, lanjut Idham, harus diketahui terlebih dahulu.

Apalagi, tandasnya, pertemuan membahas islah itu tidak menghasilkan kesepakatan yangmengikatkan resmi.

"Kalau mengikat resmi lain soal, karena itu bagian dari kebijakan. Tapi kalau saya ketemu dengan siapapun, itu adalah hak saya. Lagian tidak hanya saya, temen-temen yang lain dan kiai-kiai juga melakukan hal yang sama. Masa pertemuan seperti itu mau dilarang." imbuhnya.

Kalau menghindari pertemuan dan menghindari wacana politik, sambung Idham, ma-cam politik seperti apa.

"Kan tidak ada kesepakatan atau kerjasama resmi dan tertulis. Kalau ada yang seperti itu, baru saya dikasih sanksi melalui pcr-bahasan rapat."

Diapun meminta kepada pihak-pihak yang mempersoalkan kehadirannya di forum islah untuk melihat lebih jelas duduk persoalan. Karena sampai kini belum ada keputusan islah.

"Kita bertemu masa dilarang. Komite islah itu wacana. Tapi saya ada tidak tanda tangan kesepakatan dengan PKB, ada tidak. Keputusan islah dan lainnya akan diputuskan oleh para kiai," katanya.

Sebelumnya, beberapa fungsionaris DPW PKNL menganggap sikap yang diambil Idham Cholied menyalahi aturan partai. Sebab, partai belum ada keputusan untuk melakukan islah dengan partai manapun.

Bukan hanya itu, para fungsionaris DPW juga mendesak agar DPP PKXU meminta klarifikasi kepada Idham Cholied terkait pernyataannya yang ingin mengawinkan PKNU dengan PKB. REN
( Sumber : http://bataviase.co.id )

TERUSKAN SEMANGAT IDHAM CHALID

JAKARTA-Salah satu kandidat calon Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor Syaiful Tamliha, mengaku memiliki semangat tersendiri yang mendasari niatnya berkontestasi merebut posisi tertinggi badan otonom (banom) kepemudaan Nahdlatul Ulama ini. Syaiful yang merupakan politisi PPP asal Kalimantan Se-laian mengaku ingin meneruskan semangat seniornya. Idham Chalid.

"Sebelum meninggal Pak Idham pernah bilang saya ini murid terakhir beliau. Saya memang banyak belajar dari beliau mulai dari soal agamahingga soal politik. Semua orang tahu kan kiprah beliau di NU dan didunia politik," kata anggota Komisi IV DPR ini di Jakarta, kemarin.

Syaiful Tamliha menceritakan, semasa sesepuh PPP ini masih hidup, dirinya memang termasuk santri tetap yang ikut mengaji di kediaman Idham Chalid di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Setiap Sabtu malamMinggu, Tamliha selalu mengikuti forum pengajian kita Hakam As-Sulthaniah yang diajarkan sang guru.

"Dari kitab yang diajarkan itu saya banyak belajar bagaimana menghargai orang lain, bagaimana tidak maker terhadap sebuahpemerintahan, dan bagaimana menyantuni orang lain," urainya.

Lalu apa kesamaan Syaiful Tamliha dan Idham Chalid? Idham Chalid yang notabene adalah Ketua Umum PB NU terlama di samping segudang kiprahnya baik di DPR-MPR maupun di pemerintahan, adalah putra asli KalimantanSelatan. Jika seorang Idham Chalid saja pada eranya mampu berkiprah dan menjadi tokoh nasional, maka demikian juga keyakinan SyaifulTamliha.

Di pertarungan Kongres GP Ansor 13-18 Januari mendatang, Syaiful harus bersaing dengan sedikitnya enam kandidat. Antara lain Chatibul Umam Wiranu, Marwan Jafar. Nusron Wahid, Abdul Malik haramain, Chairul Shaleh, dan Munawar Fuad, (dri)
( Sumber : http://bataviase.co.id )

DR KH IDHAM CHALID
DARI POLITIK BERALIH KE PESANTREN

la menjabat ketua umum PBNU selama hampir tiga dasawarsa.
uktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Makassar, baru saja berakhir pada Ahad (28 Maret 2010) dengan terpilihnya Rais Aam KH Sahal

Mahfudz dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Said Aqil Siradj periode kepemimpinan 2010-2015. Kedua duet ini diharapkan mampu mengembalikan kejayaan NU.

Ketika semua mata tertuju pada perhelatan Muktamar ke-32 NU di Makassar itu, mungkin ada satu hal yang terlupakan oleh para muktamirin. Dialah Dr KH Idham Chalid. Dr KH Idham Chalid, yang telah memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu selama kurang lebih tiga dasawarsa (tepatnya 28 tahun-Red), kini tengah terbaring sakit di kediamannya di Cipete, Jakarta Selatan. Beliau sedang berjuang melawan penyakit lumpuh yang menginggapinya sejak beberapa tahun terakhir.

Diceritakan oleh Syaiful Hadi Chalid; pada acara pembukaan, ketika pimpinan rapat mengajak hadirin membacakan doa untuk para pengurus NU yang masih hidup, yang disebut hanya KH Sahal Mahfudz dan KH Hasyim Muzadi, tanpa menyebut nama Idham Chalid.

Mengapa nama Idham Chalid tidak disebut? Padahal, selama 28 tahun, dia menjadi ketua umum PBNU (1956-1984), ketua Umum PBNU yang paling lama selama ini. "Mungkin, banyak yang mengira, Ayah sudah meninggal dunia," ujar putra Idham, Syaiful Hadi Chalid, kepada Republika.

Alasan ini masuk akal. Karena, lebih dari 10 tahun, tokoh kelahiran Amuntai, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 88 tahun lalu itu sedang berbaring sakit. Dalam keadaan lumpuh dan tidak bisa bicara, dia dirawat di kediamannya di Cipete, Jakarta Selatan, yang merupakan bagian dari kompleks Daarut Maarif yang didirikannya pada tahun 1983 saat tidak aktif lagi di bidang politik. Perguruan Islam yang sampai kini masih berkembang baik didirikan sebagai bentuk komitmen Idham Chalid untuk menekuni bidang dakwah.

Sebelum menjadi ketua umum PBNU, pada Muktamar ke-19 NU di Palembang (28 April-1 Mei 1952), Idham Chalid datang sebagai utusan dari wilayah Kalimantan Selatan dan anggota pengurus PBNU. Pada muktamar ini, Idham dinobatkan sebagai sekretris PBNU. "Di Palembang inilah, NU memutuskan memisahkan diri dan menjadi partai politik sendiri pisah dari Masyumi. KH Masykur terpilih sebagai ketua umum dan saya menjadi sekretaris," ujar Idham Chalid sebagaimana dikisahkannya dalam buku Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid.

Idham mengakui, banyak reaksi yang muncul terhadap keputusan NU ini. Bahkan, ada yang menganggap sebagai kebijakan yang sangat keras dan dianggap dapat memecah umat Islam. Tapi, tokoh Masyumi, Dr Sukiman Wirjosanjojo, memaklumi keputusan keluarnya NU dari Masyumi.

Tak ada yang menyangka, keputusan NU keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik tersendiri akan mampu bersaing dengan partai politik lainnya. Dalam Pemilu 1955 itu, NU tampil sebagai kekuatan terbesar ketiga setelah PNI dan Masyumi.

Sejak itulah, karier Idham makin berkibar. Ia sempat menduduki sejumlah posisi penting. Di bidang eksekutif, ia beberapa kali ditunjuk menjadi menteri, termasuk wakil PM pada Kabinet Ali Sastroamidjojo.

Ketika Bung Karno jatuh, Pak Harto

menunjuknya sebagai anggota Presidium Kabinet Ampera bersama Sultan Hamengku Buwono IX dan Adam Malik. Idham yang menguasai bahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Jepang diangkat menjadi ketua MPR/DPR (1971-1977).

Demokrasi Terpimpin

Ketika Dekrit Presiden diumumkan pada 5 Juli 1959, saat itu pula Demokrasi Terpimpin ditegakkan. Pada 9 Juli 1959, susunan Kabinet Kaiya diumumkan dan Soekarno sebagai PM. Bung Karno kemudian membubarkan Masyumi dan PSI ketika kedua partai ini mengancam tidak menyetujui anggaran negara. Sebaliknya, Masyumi dan PSI membentuk Liga Demokrasi. Tidak lama kemudian, DPR Gotong Royong terbentuk.

NU mengalami perbedaan pendapat mengenai keabsahan keikutsertaannya dalam DPR GR ini. Di satu pihak, KH Bisri Syansuri, KH Dahlan, Imron Rosyadi, dan KH Achmad Siddiq menganggap DPR GR antidemokrasi. Bagi KH Bisri, ikut serta dalam sebuah DPR yang anggota-anggotanya tidak seluruhnya dipilih rakyat bertentangan dengan fikih.

Di lain pihak, KH Wahab Hasbullah menjelaskan bahwa NU tidak punya pilihan. Ia memaparkan semuanya, dari kemungkinan dilarangnya NU hingga keluarnya partai tradisional dari pemerintahan. Baginya, umat Islam belum siap melakukan politik konfrontasi menghadapi penguasa. Apabila NU ingin meninggalkan DPR. ia akan selalu melaksanakannya.

Idham selaku ketua umum dan sekjen Saifudin Zuhri menyatakan bahwa kebijakan PBNU memberi kesempatan kepada anggota NU yang ditunjuk kepala negara duduk dalam Kabinet Kaiya dan Dewan Nasional. Hal ini didasarkan untuk mencegah datangnya mudarat yang lebih besar daripada mencari kebalikan sebagaimana kaidah fikih yang berbunyi, Darul mafasid muqaddamum ala jalb al-masalih.

Bersaing ketat

Dalam jabatannya sebagai orang nomor satu di PBNU, karier Idham Chalid tidak selalu mulus. Ada pernak-pernik yang timbul selama masa kepemimpinannya.

Pada tahun 1970, dalam Muktamar NU di Surabaya, Idham bersaing ketat dengan Subchan ZE, tokoh muda NU yang sedang menanjak dan kala itu menjabat sebagai ketua I PBNU. Penulis, yang ketika itu ikut meliput Muktamar NU pada 40 tahun lalu, menyaksikan bagaimana kedua kubu saling bertarung. Pertarungan antarkedua kandidat ini semakin besar dengan munculnya suara-suara dari pendukungnya.

Dalam menghadapi pers, penulis menyaksikan gaya Idham Chalid yang tampak lebih tenang. Lebih-lebih saat berhadapan dengan para ulama. Ia menunjukkan sikap yang tawadhu.

Melihat kondisi yang demikian memanas, penulis awalnya memperkirakan bahwa persaingan itu akan dimenangkan oleh Subchan. Apalagi, dia sangat berperan dalam aksi-aksi pengganyangan Gestapu/PKI. Subchan adalah tokoh yang mendapat dukungan kelompok muda NU.

Namun, berkat kepandaian dan karismanya, Idham Chalid tetap dipercaya peserta muktamar untuk kembali memimpin NU.

Dalam Muktamar ke-27 NU tahun 1984 di Situbondo, Jawa Timur, yang dibuka oleh presiden Soeharto, terjadi keputusan penting. NU kembali ke Khitah 1926 yang menyatakan NU tidak lagi menjadi partai politik. Karena itu, NU tidak melakukan kegiatan politik praktis. Akan tetapi, seperti tulis Idham, sebenarnya gagasan untuk kembali ke Khitah 1926 telah diambil dalam beberapa muktamar sebelumnya. Salah satunya adalah Muktamar ke-23 tahun 1962 di Solo. Pada muktamar di Surabaya tahun 1971, juga muncul gagasan kembali ke Khitah 1926 dan juga muktamar di Semarang (1979).

Meski sudah sangat jelas, ternyata gagasan kembali ke Khitah 1926 baru sampai pada tingkat konsepsional. Sehingga, selama periode lima tahun setelah Muktamar ke-26, posisi NU tetap mengambang dan serbacang-gung dalam melangkah. Kaki yang satu sudah berada di luar PPP, tapi kaki yang lain masih terbenam di dalamnya. Posisi ini oleh sebagian ulama dirasakan sebagai krisis identitas.

Situasi ini telah menimbulkan konflik secara internal di kalangan ulama NU. Situasi ini semakin memprihatinkan setelah wafatnya Rais Aam PBNU.KH Bisri Syansuri dan sakitnya ketua umum Idham Chalid. Saat itu, semakin memanas perselisihan antara kelompok Cipete dan kelompok Situbondo. Kedua-duanya mendapatkan dukungan para ulama dan pimpinan NU di daerah-daerah. NU hampir terpuruk dalam jurang perpecahan.

Pada 2 Mei 1982, Idham Chalid didatangi empat ulama senior yang memintanya untuk mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Awalnya, Idham sempat memutuskan mengundurkan diri. Namun, pada 14 Mei 1982, Idham menegaskan, dirinya tetap berkiprah di NU hingga akhir kepemimpinannya. Pada Muktamar NU di Situbondo tahun 1984, Idham resmi mundur dari kepengurusan PBNU. Ia pun kemudian kembali ke jalurnya, berdakwah dan mengurusi lembaga pendidikan.

Tapi, Idham menjelaskannya kepada penulis bahwa seperti tradisi NU, perbedaan antara kedua kubu tidak sampai membawa permusuhan. Setelah saling memaafkan, para kiai sepuh dan Idham sering bertemu. Tidak ada dendam dan kebencian dalam hati saya," tutur Idham saat itu kepada Republika. ) sya
( Sumber : http://bataviase.co.id )

IDHAM CHALID, KIAI-POLITISI BERSAHAJA
Oleh D. YAHYA

"Sebagai seorang pemuda Islam kita harus mempunyai batin yang kuat. Perang sekarang tidak hanya perang senjata, tetapi juga perang batin. Senjata yang bagaimana jua pun lengkapnya kalau batinnya bobrok, tidak ada artinya. Akan tetapi, meskipun hanya dengan parang bungkul kalau batin kuat, kemenangan akhir pasti tercapai."i Ulham Chalid, Borneo Simboen, 24 Juli 1945, h.2.)

K.H. Dr. Idham Chalid, akrab disapa Pak Idham, wafat karena salat uzur pada Minggu, 11 Juli 2010, pukul 8.00 WIB di kediamannya, Kompleks Pesantren Darul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan. Ia wafat pada usia 88 tahun. Pak Idham lahir pada 27 Agustus 1922 di Setui, Kalimantan Selatan. Ada dua buku yang mengabadikan jejak pengabdian Idham, Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid

Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah (Pustaka Indonesia Satu, 2008), dan Idham Chalid Guru Politik Orang NU (Pustaka Pesantren, 2007). Idham adalah figur kiai politisi pilih tanding. Ia bukan politisi karbitan yang dikatrol, ka-rena menjadi anak kiai besar, yang menjadi politisi "barokah" orang tuanya. Ia meniti karier dari bawah yaitu Amuntai, Kalimantan Selatan. Sosok Idham merupakanj contoh yang baik untuk ditiru pemuda daerah, yang ingin berkiprah di pentas politik nasional. Pertama, Idham memahami persoalan daerahnya. Sesuai latar belakang pendidikannya di Pesantren Gontor, Ponorogo, yang dilakukannya adalah memperbaiki sistem pendidikan di kampungnya.

Sebagai Kepala Sekolah Islam Panangkalan. Amuntai (Ma’had Rasyi-diyyah), ia menerapkan disiplin pendidikan ala Gontor hingga sekolah itu maju pesat Kedua, ia mampu mengorganisasi massa demi mencapai tujuan. Kemampuan itu dibuk-tikannya dengan mendirikan Ittihadul Maahid al Islamiyah (perkumpulan madrasah-pe-santren Islam). Organisasi ini berkembang tidak hanya di Amuntai, tetapi meluas ke Banjarmasin dan Kuala Kapuas. Lewat organisasi ini, ia memiliki identitas sebagai tokoh pendidikan Islam. Kutipan pidatonya sebagai pemuda Amuntai di awal tulisan ini, menunjuk-kan ia tokoh muda berkarisma.

Ketiga, Idham rela berkorban demi perjuangan. Ia mengalami masa-masa pahit hidup dari penjara ke penjara, karena membela nilai-nilai perjuangannya. Dengan cara ini, Idham telah "khatam" berkhidmat di daerahnya sebelum melanjutkan kiprahnya di Jakarta sebagai representasi tokoh Kalsel. Lingkungan NU Munculnya Idham sebagai Ketua Umum PBNU sejak 1956, membuktikan organisasi NU demokratis. Idham bukan dari Jawa dan bukan pula anak ulama besar. Bahkan, Idham tidak mengaji di pesantren kiai NU. Aktifnya, Idham di NU tak lepas dari kejelian Wachid Hasyim. Selain Idham, organisator lain yang "ditemukan" Wachid adalah Saifuddin Zuhri dan Zainul Arifin. Terbukti ketiga tokoh itu, yang sama-sama bukan "darah biru" NU, berhasil menjadi inti organisasi NU ketika tokoh-tokoh utama penggerak NU berguguran, Mahfuz Siddik (1935) dan Wachid Hasyim (1953)- Idham berhasil menjadi Ketua Umum PBNU selama 28 tahun (1956-1984), Saifuddin Zuhri menonjol di bidang Jurnalistik dan meninggalkan catatan paling banyak mengenai kiprah NU dan Zainul Arifin menjadi Panglima Tertinggi Hizbullah.

Salah satu kisah heroik dari Idham adalah perjalanannya menemani Kiai Wahab Chasbullah mengelilingi cabang-cabang Partai NU menjelang Pemilu 1955. Pada periode setelah memisahkan diri dari Masyumi, cabang NU berdiri hampirmerata termasuk di seluruh Jawa Barat Di salah satu kabupaten di Jawa Tengah, NU nyaris lumpuh. Ini tak lepas dari dampak pemisahan NU dari Masyumi. Pengurus NU yang banyak menjadi pegawai Departemen Agama memilih "sembunyi" karena Menteri Agama dijabat non-NU. Tinggallah sembilan orang yang masih bersedia diangkat sebagai pengurus Partai NU.

Di hadapan sembilan orang ini. Wahab dan Idham memberikan orasi politik layaknya di depan ribuan orang. "Yang baik bukan yang banyak. Yang banyak bukan berarti selalu baik, tetapi barang yang baik itu artinya banyak," kata Idham. Selesai melantik mereka sebagai pengurus dan mengatur strategi kampanye, keduanya "menginap" di masjid. Selesai berjamaah Isya, Idham tiduran melepas lelah, sementara Wahab meneruskan salat sunat. Menjelang subuh, Idham bangun dan mendapati Kiai Wahab masih salat sunat. "Insya Allah, pada masa kampanye nanti, kita ke sini akan disambut ribuan jamaah NU," ujar Kiai Wahab, membesarkan hati Idham. Terbukti, di kabupaten itu, suara Partai NU mencapai hasil signifikan.

Kisah yang sering diungkapkan Idham dalam pelatihan kader NU itu, sangat kontras dengan kondisi partai-partai berbasis NU sekarang. Karisma ulama tidak lagi mampu menjadi perekat umat nahdliyin, malah pada gilirannya karisma yang sudah memudar itu, masih diperebutkan untuk melegitimasi kepentingan kelompok elite tertentu di dalam partai Kedekatan dan ketaatan Idham pada kiai itulah yang membuatnya mampu bertahan lama sebagai Ketua Umum PBNU. Ia dianggap mampu memahami psikologis para kiai pesantren, sesuatu yang tidak dikuasai pesaingnya di internal NU. Idham baru berhasil "dilengserkan" dari PBNU setelah kemunculan Abdurrahman Wahid pada Muktamar XXVII di Situbondo, 1984.

Rumah Idham di Cipete kemudian menjadi pesantren Darul Maarif. Idham mudah membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya, apalagi jika yang memintanya adalah kiai-kiai pesantren dari daerah. Idham tetaplah bersahaja, santun, dan hangat. Tak terhitung kader NU yang berhasil diorbitkannya di pentas politik nasional. Di antaranya mantan wakil presiden Hamzah Haz, Menteri Agama Suryadharma Ali, dan dai Zainuddin M.Z., sekadar menyebut beberapa nama.Melihat kiprahnya, tidak berlebihan jika Idham dinobatkan sebagai Guru Politik Orang NU. Idham pernah menjabat Wakil Perdana Menteri (1956-57. 1957-59. dan 1966), Ketua DPR/MPR (1971-77), Ketua DPA (1978-83), dan lain-lain.Selamat jalan, Kiai, semoga politisi-politisi muda NU hari ini dapat belajar dan berkaca dari riwayat pengabdianmu.***Penulis, bergiat di Rumah Baca Buku Sunda, Bandung.
( Sumber : http://bataviase.co.id )

PPP USULKAN ALMARHUM IDHAM CHOLID PAHLAWAN NASIONAL

Jakarta, Pelita; Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai partai berazaskan Islam, kini menghadapi tantangan besar di internal partai berupa bergesernya nilaidan tingkat loyalitas kadernya sebagai dampak dari berkembangnya budaya materialisme dan hedonisme.
Demikian ditegaskan Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali pada acara Tahlilan Tujuh Hari Mengenang Idham Chaliddan Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1431 H\ di halaman Gedung DPP PPP. Menteng-Jakarta Pusat. Sabtu (17/7) malam.
"Pada masa sulit dulu, para kader partai mengorbankan apapun yang dimiliki demi PPP. Kini, kondisi itu (materialistik dan hedonisme-Red) membuat PPP tergeser lantaran tak sedikit kader dan simpatisan pindah partai," kata Suryadharma yang juga Menteri Agama Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid 11 ini.
Suryadharma menyebutkan, kondisi itu membuat PPP saat ini harus berhadapan dengan tantangan besar. "PPP sebagaipartai berazaskan Islam berada dalam kondisi zaman yang mengedapankan materialistik dan hedonisme. Berbeda dengan -lalu, di mana semangat keislaman begitu kental." ungkap dia.
Seiring dengan tantangan zaman itu. Suryadharma meminta kader PPP bersatu dan menyatukan langkah untuk mengembalikan kejayaan PPP. terutama dalam menghadapi pemilu 2014 mendatang. "Para kader harus mengenyampingkan perbedaan agar partai kembali berjaya seperti dulu," katanya.
Lebih lanjut, Suryadharma pun berharap para kader PPP mampu menyisiati zaman agar tidak larut dalam budaya materialistik dan hedonisme yang mengakaibatkan pergeseran nilai dan loyalitas kader tersebut.

PAHLAWAN NASIONAL

Sementara terkait dengan peringatan tujuh hari mengenang almarhum Idham Chalid, DPP PPP melalui Ketua Umumnya Suryadharma Ali mengusulkan Idham Chalid sebagai Pahlawan Nasional atas pengabdi-annya kepada bangsa dan negara. Almarhum semasa hidupnya pernah menjabat Wakil Perdana Menteri (PM), Menteri Kesejahteraan, ketua DPR/MPR, dan Kelua DPA RI. Disamping itu, sebagai organisator, almarhum 28 tahun sebagai ketua umum, sekaligus deklarator dan presiden pertama PPP.
"Atas jasa dan pengabdian-nya yang luar biasa, PPP mengusulkan Dr. KH Idham Chalid sebagai Pahlawan Nasional, pada tanggal 13 Juli 2010, atau 2 hari setelah wafatnya pak Idham." ujar Suryadharma.
Seiring hal itu. PPP pun berharap keteladanan dan perjuangan almarhum Idham, dapat menjadi sumber semangat kembalinya kebesaran PPP ke depan.Dalam memperingati wafatnya Dr. KH Idham Chalid, disampaikan testimoni dari beberapa murid dan mitra kerjanya, antara lain dari Suryadharma Ali (Menteri Agama RT), Hasan Rahaya (mantan wasekjen PBNU era pak Idham), dan Chalid Mawardi (mantan dubes RI untuk Syria), Fuad Bawazier (mantan aktivis 66), Aisyah Amini (mantan ketua Komisi I DPR). Peringatan yang digelar cukup meriah ini dihadiri oleh pengurus teras DPP PPP, antara lain Wakil Ketua Umum Chozin Chumaidy, Sekjen Irgan Chairul Mahiiz. Ketua Lukman Hakim Syaifuddin (Wakil Ketua MPR) dan Bendahara Umum Suharso Monoarfa (Menpera RI), dan sejumlah pengurus harian lainnya. Mengambil hikmah Isra Miraj, Suryadharma mengingatkan, bahwa perjalanan Isra Miraj melibatkan masjid Al-Aqsho yang terletak di Yerus-salem. Palestina, dalam perjalanan spiritual nabi Muhammad SAW. Mengingat kantor DPP PPP terletak di depan kediaman resmi duta besar Pales-Una, DPP PPP mengharapkan kepadajamaah khususnya, dan umat Islam pada umumnya, untuk mendoakan agar, masjid Al-Aqsho yang bersejarah, tidak pernah dihancurkan dan akan tetap aman dalam lindungan Allah dari kaum agresor, (ay)
( Sumber : http://bataviase.co.id )

AKTIF DIBIDANG PENDIDIKAN

Idham mulai merintis berdirinya lembaga pendidikan atau perguruan Islam Darul Maarif pada 1954 di daerah Cipete, Jakarta Selatan. Pada 1955, lembaga pendidikan ini telah berdiri dan secara fisik bangunannya mulai terwujud meski dalam bentuk sederhana.
Namun, lembaga pendidikan Islam yang ditujukan bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah, khususnya di wilayah Jakarta Selatan, tersebut baru resmi berbadan hukum pada 15 Desember 1959.
Tekad Idham mengembangkan pendidikan Islam tidak berhenti sampai di situ. Setelah Darul Maarif, dia mendirikan Lembaga Pendidikan Darul Quran yang disertai pendirian Rumah Yatim di Cisarua Bogor, Jawa Barat.
Menurut buku yang ditulisnya, saat ini Darul Quran memiliki sekitar 550 siswa yang belajar di unit pendidikannya, yaitu MTs dan SMA. Salah satu alumnusnya adalah Drs H Suryadharma Ali (kini menteri agama dan ketua umum PPP).
Sebelum mengalami kelumpuhan seperti sekarang ini. Idham Chalid sempat terserang stroke. Namun, Idham Chalid tetap aktif mengajar dan mengembangkan pendidikan di Darul Maarif.
Kini, kendati sudah tak terlibat lagi dalam kepengurusan PBNU. Idham Chalid masih menyayangi dan "mencintai organisasi yang telah membesarkan namanya itu. Bahkan, saat berlangsungnya Muktamar ke-32 NU di Makassar pada 22-28 Maret 2010 lalu, Idham menitipkan pesan agar NU fokus pada jalur dakwah dan keagamaan.
"Jangan sampai NU kembali ke politik praktis yang menyebabkan terjadinya konflik di antara pengurusnya," tuturnya kepada Republika. Bed sya
( Sumber : http://bataviase.co.id )

MENGENANG KIAI HAJI IDHAM CHALID
Tiara Zeva Hapsari
BOGOR, DETIKPOS.net – Meninggalnya Kiai Haji Idham Chalid merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia, yang telah memberi warna perjalanan bangsa melalui kiprahnya baik semasa Orde Lama maupun Orde Baru.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fatah Ciomas, Kabupaten Bogor, KH Saeful Millah Hasbi, Minggu (11/7/2010), mengatakan, pengabdian terbesar diberikan oleh Idham kepada bangsa ini melalui kiprahnya di Nahdlatul Ulama (NU).
Idham tercatat menakhodai ormas Islam terbesar di Indonesia itu selama 28 tahun mulai 1956 hingga 1984. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI tahun 1972-1977.
Saat memimpin NU, Idham merupakan tokoh kunci dalam berbagai fase krusial perjalanan yang dilalui Indonesia. Bahkan ia menjadi tokoh kunci dalam fase-fase genting yang dijalani Indonesia.
Saat muda Idham ikut berjuang mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi, yang telah diduduki selama 350 tahun lamanya. Begitu juga saat terjadinya peristiwa revolusi fisik yaitu transisi dari era penjajahan ke kemerdekaan, Idham menjadi salah satu tokoh pelaku sejarah.
Idham juga berada di pusat pusaran peristiwa saat penumpasan pemberontakan PKI tahun 1965-1966. “Saat itu NU berhadap-hadapan secara langsung dalam konfrontasi dengan PKI,” ujarnya.
Saat Orde Baru berkuasa, ketika semua orang dihantui rasa takut oleh rezim militer yang bertahta selama 32 tahun, Idham pun menjadi tokoh kunci percaturan nasional baik melalui NU maupun melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berdiri tahun 1975.
Menurut Saeful Millah, pengabdian tanpa pamrih dan sumbangan besar yang diberikan Kiai Idham kepada bangsa ini, patut diapresiasi bersama baik oleh masyarakat maupun negara. “Wafatnya Kiai Idham merupakan kehilangan besar bagi bangsa ini,” ujar Saeful Millah.
Hal senada diutarakan oleh Nailul Abrar, aktivis Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Pertanian Bogor (IPB). Dia mengatakan, Kiai Idham merupakan tokoh besar yang pernah dimiliki bangsa ini. “Kiai Idham merupakan salah satu putra terbaik yang dilahirkan NU. Beliau sebagai salah satu pemimpin besar yang pernah dimiliki Indonesia,” ungkapnya. [kmp/ris
( Sumber : http://magazindo.com )

PROFIL TOKOH
KH. IDHAM CHALID, ULAMA & POLITISI PELAKU FILOSOFI AIR


KH Idham Chalid kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, seorang ulama dan politikus pelaku filosofi air. Dia seorang tokoh Indonesia yang pernah menjadi pucuk pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama). Juga pernah memimpin pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.

Laksana air, peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, ini seorang tokoh nasional, yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya. Demikian pula sebagai politisi, ia mampu melakukan gerakan strategis, kompromistis, bahkan pragmatis.

Dengan sikap dan peran ganda demikian, termasuk kemampuan mengubah warna kulit politik dan kemampuan beradaptasi terhadap penguasa politik ketika itu, ulama dari Madrasah Pondok Modern Gontor, ini tidak kuatir mendapat kritikan dan stereotip negatif sebagai tokoh yang tidak mempunyai pendirian, bunglon bahkan avonturir.

Peran ganda dan kemampuan beradaptasi dan mengakomodir itu kadang kala membuat banyak orang salah memahami dan mendepksripsi diri, pemikiran serta sikap-sikap socio-polticnya.

Namun jika disimak dengan seksama, sesungguhnya KH Idham Chalid yang berlatarbelakang guru itu adalah seorang tokoh nasional (bangsa) yang visi perjuangannya dalam berbagai peran selalu berorientasi pada kebaikan serta manfaat bagi umat dan bangsa.

Dengan visi perjuangan seperti itu, pemimpin NU selama 28 tahun (1955-1984), itu berpandangan tak harus kaku dalam bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila, tidak jarang adanya tekanan keras dari pihak penguasa serta partai politik dan Ormas radikal.

Sebagaimana digambarkannya dalam buku biografi berjudul "Idham Chalid: Guru Politik Orang NU" yang ditulis Ahmad Muhajir (Penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Juni 2007) bahwa seorang politisi yang baik mestilah memahami filosofi air.

"Apabila air dimasukkan pada gelas maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember ia akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke temapat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Bila dibuatkan kanal ia mampu menghasilkan tenaga penggerak turbin listrik serta mampu mengairi sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia. (Hal 55)

Sebagai ulama dan politisi pelaku filosofi air, Idham Chalid dapat berperan sebagai tokoh yang santun dan pembawa kesejukan. Apresiasi ini sangat mengemuka pada acara peluncuran buku otobiografi: "Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah", di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis 6 Maret 2008.

Buku otobiografi Idham Chalid itu diterbitkan Yayasan Forum Indonesia Satu (FIS) yang dipimpin Arief Mudatsir Mandan, yang juga anggota Komisi I DPR dari PPP, juga selaku editor buku tersebut. Idham Chalid sendiri tengah terbaring sakit di rumahnya Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.

“Saya kira tidak ada tokoh yang bisa seperti beliau. Ketokohannya sangat menonjol, sehingga pernah memimpin partai politik pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP,” kata Wapres Jusuf Kalla mengapresiasi sosok Idham Chalid, saat memberi sambutan pada acara peluncuran buku tersebut.

”Beliau itu moderat, bisa diterima di ’segala cuaca’, berada di tengah, oleh sebab itu ia bisa diterima di mana-mana. Ia berada di tengah titik ekstrem yang ada,” ujar Kalla dihadapan sejumlah undangan, antara lain Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, dan sejumlah anggota kabinet dan DPR.

Menurut Jusuf Kalla, sikapnya yang moderat hanya bisa dijalankan oleh orang yang santun. "Hanya orang santunlah yang bisa bersikap moderat,” puji Jusuf Kalla untuk menegaskan bahwa Idham Chalid merupakan sosok ulama dan politisi yang moderat dan santun. Itulah sebabnya, ia bisa diterima di berbagai era politik dan kepemimpinan bangsa.

Menurut Wapres, jika berada di titik yang sama ekstremnya, maka selain demokrat, sosok politik orang yang menjalani itu sudah pasti santun. ”Karena itu, sikap yang santun bisa menjaga suasana kemoderatan,” katanya.

Idham Chalid yang memulai karir politik dari anggota DPRD Kalsel, seorang ulama karismatik, yang selama 28 tahun memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pernah menjadi Wakil Perdana Menteri pada era pemerintahan Soekarno, Menteri Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Sosial pada era pemerintahan Soeharto dan mantan Ketua DPR/MPR. Idham juga pernah menjadi Ketua Partai Masyumi, Pendiri/Ketua Partai Nahdlatul Ulama dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sementara itu, editor buku, Arief Mudatsir Mandan, mengemukakan, Idham Chalid satu-satunya Ketua Umum PBNU yang paling lama dan bukan ”berdarah biru” NU. Menurutnya, selama kepemimpinan Idham, NU tidak pernah bergejolak. Kendati ia sering dinilai lemah, tetapi sebenarnya itulah strateginya sehingga bisa diterima berbagai zaman,” ujar Arief Mudatsir Mandan.
( Sumber : http://www.fauzibowo.com )

SBY KIRIM KARANGAN BUNGA BELASUNGKAWA UNTUK KH IDHAM CHALID

(Vibizdaily - Nasional) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan ucapan bela sungkawa atas wafatnya mantan Ketua DPR/MPR KH Idham Chalid. Ucapan itu disampaikan melalui karangan bunga yang dikirimkan ke kediaman almarhum.

Dari pantauan, Minggu (11/7) di kediaman almarhum Komplek Perguruan Daarul Ma'arif, Jl RS Fatmawati, Cipete, Jaksel, nampak karangan bunga kiriman SBY sudah tiba. Ucapan bela sungkawa dituliskan atas nama SBY dan Ibu Ani Yudhoyono.

Selain itu, ada juga karangan bunga dari pejabat lainnnya. Seperti Menteri Agama sekaligus Ketua Umum PPP Suryadharma Ali dan Gubernur Kalimantan Selatan Ruddy Arifin.

Idham meninggal pada usia 88 tahun karena sakit. Mantan Presiden PPP (sekarang Ketua Umum PPP) tahun 1973 dan ketua umum PBNU 3 periode ini meninggalkan 16 anak dan 40 cucu serta 1 cicit
( Sumber : http://vibizdaily.com )

MANTAN KETUA DPR/MPR IDHAM CHALID TUTUP USIA
Tiara Zeva Hapsari

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Idham Chalid meninggal dunia. Idham meninggal di usia 88 tahun.
“PPP turut berduka cita atas meninggalnya Bapak KH Idham Chalid,” kata Sekjen PPP Irgan Chairil Mahfidz kepada detikcom, Minggu (11/7/2010).
Idham menghembuskan nafas terakhir di kediamannya di Cipete, Jakarta Selatan pukul 08.00 WIB.
Idham adalah mantan Ketua Umum PPP dan pernah menjabat Ketua DPR/MPR tahun 1971-1977. [detik
( Sumber : http://magazindo.info )

Jenazah KH Idham Chalid Mantan Menko Kesra Dimakamkan

KESRA -- 13 JULI 2010: Jenazah mantan Menko Kesra tahun 1966 – 1968 yang juga mantan WakilPerdana Menteri, mantan Ketua MPR/DPR, dan mantan Ketua UmumTanfidziah PBNU KH Idham Chalid, Senin (12/7) siang dimakamkan dikompleks makam keluarga Pondok Pesantren Darul Quran CisaruaBogor.

Upacara pemakaman kenegaraan dipimpin oleh inspektur upacara Menteri Agama Suryadharma Ali.

Jenazah salah satu tokoh yang hidup di tiga jaman, yaitu era Soekarno, Era Soeharto maupun era Reformasi itu diberangkatkan dari rumah duka di kawasan Cipete Jakarta Selatan,pukul 10:00 WIB dan tiba di Cisarua pukul 11:00 WIB, sementara prosesi pemakaman dilangsungkan mulai pukul 12:00 WIB.

Menteri Agama selaku perwakilan dari negara, memulai upcara persada, yaitu upacara menandai dimakamkannya salah satu putera terbaik bangsa, dan diikuti kemudian oleh tembakan salvo dan lagu gugur bunga saat jenazah diturunkan ke liang lahat.

Sekitar 1.000 pelayat hadir dalam upacara pemakaman tersebut.Sebelum dimakamkan, jenazah sempat disholatkan di masjid yang berada di kompleks pondok pesantren tersebut.

Bendera merah putih yang menyelubungi keranda jenazah kemudiandilipat dan diberikan kepada anggota keluarga KH Idham Chalid setelah jenazah diturunkan ke liang lahat.

KH Idham Chalid meninggal pada usia 88 tahun, Minggu (11/7),karena sakit.

Sejumlah tokoh agama maupun tokoh politik merasa kehilangan atas kepergian tokoh yang memiliki rekam jejak di bidang politik dankeagamaan itu. (ANT/gs)
( Sumber : http://www.menkokesra.go.id )

IDHAM CHALID IS A GREAT THINKER: PRESIDENT
The Jakarta Post, Jakarta ; A farewell prayer: President Susilo Bambang Yudhoyono (second right), Nahdlatul Ulama chairman Said Aqil Siradj (right), cleric Zainuddin MZ (second left) and relatives of late Idham Chalid pray for the deceased in Darul Maarif, Cipete, South Jakarta, on Monday. Former Nahdlatul Ulama chairman Idham died at the age of 88 on Sunday from years of an ailment. Antara/Widodo S. Jusuf A farewell prayer: President Susilo Bambang Yudhoyono (second right), Nahdlatul Ulama chairman Said Aqil Siradj (right), cleric Zainuddin MZ (second left) and relatives of late Idham Chalid pray for the deceased in Darul Maarif, Cipete, South Jakarta, on Monday. Antara/Widodo S. Jusuf
President Susilo Bambang Yudhoyono hailed Monday former People Consultative Assembly (MPR) chairman Idham Chalid as a great thinker in his life.
Idham passed away on Sunday after fighting against stroke in the last nine years. He was 88.
Yudhoyono paid a last tribute to Idham at his home in South Jakarta.
"He was a wiseman in politics and wanted to develop Islam," he said as quoted by kompas.com.
( Sumber : http://www.thejakartapost.com )

FORMER NU CHAIRMAN, HOUSE SPEAKER IDHAM CHALID DIES AT 87
Erwida Maulia
The Jakarta Post, Jakarta ; Idham Chalid, a renowned cleric who chaired Nahdlatul Ulama (NU) for 28 years and a savvy politician who built a stellar career during the Sukarno and Soeharto eras, died in Jakarta on Sunday. He was 87.
A former speaker of both the House of Representatives and the People’s Consultative Assembly, Idham was a charismatic figure
within the NU. His body is lying in state in his residence in Cipete, South Jakarta.
As some of his family members reside in his hometown in South Kalimantan, Idham’s burial is scheduled for Monday at the Darul Quran Islamic boarding school, which is run by his family, in Cisarua, West Java.
Idham’s health had deteriorated drastically since he suffered a heart attack and stroke in 1999. He spent most of the past 10 years bedridden.
“Father died at 8 a.m. this morning. We ask for your prayers so Allah accepts all of his good deeds,” Idham’s son Saiful Hadi, the editor-in-chief of national news agency Antara, said Sunday.
“We also ask you to forgive him his transgressions,” he added.
Condolences have come from a number of prominent figures, including President Susilo Bambang Yudhoyono, who called him “a national, public figure who made significant contributions to the development of the nation and the state”.
“The President expresses his deepest condolences,” presidential spokesman Julian Aldrin Pasha said.
Muslim preacher Zainuddin MZ said Idham was “a moderate cleric who preserved his dignity in his political activities”.
Religious Affairs Minister Suryadharma Ali, who also chairs the United Development Party (PPP), instructed the headquarters and all regional branches of the PPP to lower the Indonesian and party
flags to half mast for three days out of respect to Idham, the founder of the PPP.
“He was an exemplary figure not only to PPP members, but also to the entire nation,” Suryadharma said.
Idham was born in Setui, South Kalimantan, on Aug. 27, 1922. His foray into politics came after he joined NU, which took part in the 1955 legislative elections.
At the age of 34, Idham became the youngest chairman of NU and retained the post for 28 years until 1984, making him the organization’s longest-serving chairman.
He was replaced by the grandson of NU founder Hasyim Asy’arie, Abdurrahman “Gus Dur” Wahid, who removed NU from the country’s political stage.
Gus Dur’s move created conflict between him and Idham, who founded PPP in 1973.
Idham’s bureaucratic career began in the mid-1950s, when he served as deputy to then
Indonesian prime minister Ali Sastroadmidjojo.
He also served as coordinating public welfare minister under then president Soeharto, and as speaker of the House and the Assembly between 1968 and 1977.
After leaving politics, Idham focused on education, by establishing and developing the Daarul Maarif Islamic boarding school in Jakarta and Darul Quran Islamic boarding school in Bogor.

(Sumber : http://www.thejakartapost.com)

PRESIDENT OFFERS CONDOLENCES ON IDHAM CHALID’S DEMISE
The Jakarta Post, Jakarta ; A prayer: Minister for Development in Disadvantaged Regions Helmy Faisal (second right) sends his prayer to late former chiefs of the Islamic organization Nahdlatul Ulama (NU) and the People's Consultative Assembly/House of Representatives (MPR/DPR) KH. Idham Chalid in Jakarta on Sunday. Idham died of an ailment in the past 10 years. He was 87. Antara/Ismar Patrizki A prayer: Minister for Development in Disadvantaged Regions Helmy Faisal (second right) sends his prayer for late former chiefs of the Islamic organization Nahdlatul Ulama (NU) and the People's Consultative Assembly/House of Representatives (MPR/DPR) KH. Idham Chalid in Jakarta on Sunday. Idham died of an ailment in the past 10 years. He was 87. Antara/Ismar Patrizki
President Susilo Bambang Yudhoyono on Sunday offered condolences on the demise of former chiefs of the Islamic organization Nahdlatul Ulama (NU) and the People's Consultative Assembly/House of Representatives (MPR/DPR) KH. Idham Chalid.
"The President has expressed his deep condolences," presidential spokesman Julian Aldrin Pasha said Sunday as quoted by Antara.
Julian said the President also praised Idham for his remarkable services during his life.
Idham was a national figure who contributed a lot to the political, religious and educational fields in the country, Julian quoted the president as saying.
Yudhoyono has yet to decide when he would pay last respects to the former MPR/DPR chief.
Idham Chalid who was also former second deputy prime minister in the President Soekarno administration died at the age of 88 at 8 a.m. on Sunday after he suffered ailment in the past 10 years.
His body is being laid in state at his residence in Cipete, South Jakarta. He will be buried at a cemetery in the compound of Darul Quran Islamic boarding school in Cisarua, West Java, on Monday.
Born in Setui, South Kalimantan, on August 27, 1922, Idham Chalid was survived by a wife, children and grandchildren.
Idham Chalid was chairman of the Nahdlatul Ulama from 1956 to 1984 and the chairman of MPR/DPR from 1972 to 1977. He was also known as the founder of the Islam-based United Development Party (PPP).
( Sumber : http://www.thejakartapost.com)

KH. IDHAM CHALID BERPULANG
Jakarta, WH Online – Umat Muslim Indonesia berduka kembali. Salah satu Putra Bangsa Indonesia yang merasakan 3 zaman di Indonesia, yaitu KH. Idham Chalid telah berpulang ke rahmatullah. Beliau adalah ulama besar dan tokoh politisi panutan, begitulah pengakuan pribadi Mantan Wakil Presiden Hamzah Haz.
KH. Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, dan merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H. Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin.
Selain tercatat sebagai salah satu tokoh besar bangsa ini pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru, sebagian besar kiprah Idham dihabiskan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Idham tercatat sebagai tokoh paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut.
Di halaman rumah duka, juga terlihat dipadati berbagai karangan bunga ucapan bela sungkawa dari para pejabat negara di antaranya dari Presiden Susilo Bambangh Yudhoyono, Wapres Boediono, Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua Umum PPP Suryadharma Ali yang juga Menteri Agama, pimpinan dan frkasi PPP DPR, dan lain-lain.
Sejumlah pejabat, rekan, dan kerabat almarhum KH. Idham Chalid juga telah banyak yang hadir sejak pagi hingga petang, di antaranya Menag Suryadharma Ali, Mendiknas M. Nuh, mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Ali Masykur Musa, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) A. Hafiz Anshary, mantan Wakil Presiden Hamzah Haz, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan, Ketua PBNU KH Slamet Effendi Yusuf, dan Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin. Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono juga berencana bertakziyah ke rumah duka.
KH. Idham Chalid wafat pada Minggu pukul 08.00 WIB di rumahnya. KH. Idham Chalid meninggal dunia setelah sebelumnya selama sembilan tahun mengalami stroke dan sempat mengalami serangan jantung pada 1999. Anak sulung dari lima bersaudara itu meninggalkan 16 orang anak, 35 cucu, dan tujuh cicit.
Pada masa hidup beliau, KH. Idham Chalid pernah menjabat dua kali sebagai Wakil Perdana Menteri Kabinet Ali Sastroamidjojo dan Kabinet Karya (1956-1957).

Beliau pernah pula menjabat sebagai Ketua DPR RI (1971), Ketua MPR RI (1972-1978), Ketua Dewan Pertimbangan Agung (1978-1983), Anggota Tim Penasehat Presiden mengenai Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Tim P7), dan anggota dewan Pertimbangan MUI.
Jenazah akan dimakamkan secara umum pada Senin pukul 09.00 WIB besok. Pada pukul 10.00 WIB, jenazah akan diberangkatkan ke Darul Qur’an Cisarua, Bogor, sesuai pesan beliau pada putra-putrinya untuk dimakamkan di Pesantren Darul Qur’an Cisarua, Bogor. Pemakaman beliau akan dilaksanakan selepas shalat dzuhur yang akan didahului upacara kenegaraan.
(Sumber : http://ppwahidhasyim.com )

RIWAYAT HIDUP KH IDHAM CHALID
Editor: Ignatius Sawabi
JAKARTA, KOMPAS.com — Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, dan merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin. Saat usia Idham enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya. Selain tercatat sebagai salah satu tokoh besar bangsa ini pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru, sebagian besar kiprah Idham dihabiskan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Idham tercatat sebagai tokoh paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut. Dalam ormas berlogo bola dunia dan bintang sembilan itu, Idham menapaki karier yang sangat cemerlang hingga menjadi pucuk pimpinan. Dalam usia 34 tahun, Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Pada tahun 1984, posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai ormas yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi terhadap partai mana pun. Selain itu, Idham juga tercatat sebagai "Bapak" pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktu Idham dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di bilangan Cipete.

(http://nasional.kompas.com )

WAPRES BOEDIONO MELAYAT ALMARHUM KH IDHAM CHALID

Boediono 2maiwanews – Wakil Presiden (Wapres) RI, Boediono ikut melayat almarhum KH Idham Chalid di rumah duka di Kompleks Perguruan Daarul Maarif, Jl Fatmawati, Cipete, Jaksel, Minggu, 11 Juli 2010.

Usai melayat, Boediono mengatakan, KH Idham adalah sosok ulama yang santun dan membuat tenang. “Beliau adalah politisi dan ulama yang selalu menyejukkan,” ujar Boediono.

Selain Boediono, turut hadir melayat antara lain mantan Menteri Agama Maftuh Basyuni, Gubernur DKI jakarta Fauzi Bowo, Mendiknas M Nuh, Menag Suryadharma Ali, Ketua KPU Abdul Hafiz Anshory dan Ketua MUI Amidhan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dijadwalkan juga akan melayat Almarhum Ayah dari 16 anak dan kakek bagi 40 cucu ini besok Senin sebelum pemakaman.

Idham Chalid meninggal pada Minggu pagi dalam usia 88 tahun karena sakit. Ketua PBNU terlama ini (1956 hingga 1984), pernah menduduki berbagai jabatan penting diantaranya sebagai Ketua MPR, Ketua DPA, Ketua DPR, Presiden PPP.

Tercatat juga pada 1966, ia sempat menjadi anggota presidium Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II dan setelah itu ia diangkat menjadi ketua MPR/DPR pada periode 1972-1977.

Sebelum meninggal, Idham harus berjuang melawan penyakit stroke. Awalnya, pada tahun 1999, ulama harismatik itu terkena serangan jantung yang berakibat kelumpuhan.

Rencanamya, jenazah salah satu pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu, akan dimakamkan di kompleks Pesantren Daarul Quran di Cisarua Bogor, Senin besok, 12 juli 2010.
( Sumber : http://www.maiwanews.com )


IDHAM CHALID DAN IJTIHAD POLITIK ISLAM
Oleh Nurhasan Zaidi

BILA politik adalah the art of possibilities, maka KH Idham Chalid adalah pemeran terbaiknya. Sebagai politisi Islam yang memimpin organisasi massa besar NU hampir tiga dekade (1955-1984), Pak Idham nama panggilai kyai kelahiran Kalimantan Selatan ini benar-benar telah mampu menyelamatkan Islam dari tragedi politik Indonesia di masa krisis.
Pada kurun 1957-1960, terjadi gejolak politik yang luar biasa karena Presiden Soekarno secara tiba-tiba mengubah sistem demokrasi parlementer menjadi sistem demokrasi terpimpin yang cenderung otoriter.
Transisi menuju demokrasi terpimpin ini memunculkan ketegangan serius dalam kepemimpinan NU karena menimbulkan persoalan berkaitan dengan masa depan politik di Indonesia dan tempat NU di dalamnya. Menurut Greg Fealy, ada tiga hal yang menyebabkan transisi menuju demokrasi terpimpin ini memecah belah NU.
Pertama, berakhirnya kekuasaan dari parlemen dan partai yang dipilih secara demokratis ke tangan eksekutif (presiden). Kedua, marginalisasi Masyumi akibat keterlibatannya dalam pemberontakan daerah yang gagal dan penentangannya yang kukuh terhadap reformasi politik Soekarno. Dan Ketiga, meluasnya peran dan pengaruh PKI serta kelompok sayap kiri lainnya dalam pemerintahan.
Melihat kemungkinan munculnya tiga dampak demokrasi terpimpin di atas, kalangan garis keras NU menolak dengan tegas diterapkannya demokrasi terpimpin tersebut. Sedangkan Pak Idham dan kelompoknya mau menerima. Alasannya, memanfaatkan Bung Karno untuk menyebarkan amar ma\'ruf nahi munkar dan mencegah ekspansi PKI yang suka berlindung di bawah kekuasaan Bung karno.
Dua pucuk pimpinan NU, KH Idham Chalid dan KH Wahab Chasbullah adalah termasuk kelompok yang pragmatis. Pendekatan akomodatif kaum pragmatis NU terhadap demokrasi terpimpin terefleksikan dalam pendapat bahwa sikap melawan lebih berbahaya dari pada menerima tanpa protes.
Sikap ini diambil dengan tujuan menerima resiko seminimal mungkin serta mempertahankan pengaruh politik sebagai cara untuk melindungi umat. Alasan kelompok Pak Idham adalah bahwa NU tidak akan bisa melawan Bung Karno yag mendapat dukungan Angkatan Darat.
Bersikap oposan terhadap Bung Karno bukan hanya sebuah kesia-siaan, tapi juga membahayakan NU dan para pengikutnya. Menurut pandangan Idham Chalid, jauh lebih baik bagi NU untuk tetap dalam pemerintahan karena dengan cara itu bisa mempengaruhi Soekarno dan menandingi aktivitas PKI yang makin gencar.
Dalam berbagai perdebatan, akhirnya Pak Idham dan kelompoknya yang menang. Kemenangan tersebut, antara lain, karena lobi dan keluwesan Idham Chalid dalam mempengaruhi ulama-ulama sepuh di NU. KH Achmad Syaichu dan Subchan ZE yang termasuk kelompok garis keras akhirnya harus mengakui kehebatan Idham yang menjadi motor kelompok pragmatis tersebut.
Ketika Bung Karno membubarkan Masyumi, NU menjadi satu-satunya partai Islam yang besar di Indonesia. Secara politik, suara Islam mau tidak mau harus tersalurkan melalui NU. Barangkali inilah sumbangan NU terhadap politik Islam di masa krisis demokrasi pada zaman Orde Lama. Ketika partai-partai berhaluan Islam yang lain dikucilkan -- NU justru berkibar. Bung Karno pun mengapresiasi dan mau mendengar umat Islam melalui NU.
Namun, sejauh mana ketahanan NU menghadapi Bung Karno yang makin otoriter ini? Lagi-lagi, politik adalah the art of possibilities. Ketika melihat posisi Bung Karno makin lemah, NU pun berpaling.
Pemberontakan PKI, September 1965, menjadi pemicu perlawanan NU terhadap rejim Orde Lama. NU bersama-sama masyarakat Islam yang selama ini sering difitnah oleh PKI, pasca pemberontakan G30S, menjadi pemburu PKI. Pembantaian PKI terbanyak terjadi di Jawa Timur, di kawasan yang mayoritas penduduknya NU.
Menariknya, ketika rejim Orde Lama tumbang, Idham Chalid pun mampu mendekati rejim Ode Baru dengan cepat. Dalam pemilu pertama masa Orde Baru, 1971, partai NU pun makin berkibar. Sedangkan partai-partai islam lainnya masih tetap liliput. Melihat keadaan ini, Soeharto minta agar semua partai Islam digabung dalam PPP. Sekali lagi, Idham dan NU pun menyetujuinya. Dan hebatnya, di masa kepemimpinannya, PPP pun dapat meraih suara yang besar. Walhasil, berkat Idham dengan politik senyum dan jalan tengahnya itulah, keterwakilan Islam di parlemen makin signifikan.
Dengan strategi politiknya yang luwes dan cair, Idham dalam kepemimpinannya di NU berhasil membawa organisasi massa Islam terbesar tersebut untuk melihat jauh ke depan. Jika kini massa NU tampak akomodatif dengan berbagai kebijakan pemerintah, maka hal itu merupakan hasil binaan Pak Idham yang panjang.
Massa NU yang besar, yang mewarnai perjalanan Indonesia ke depan, memang perlu bekerjasama dengan pemerintah untuk membangun bangsa Indonesia. Ke depan, moderasi NU yang telah dirintis dan dikembangkan KH Idham Chalid patut mendapat apresiasi.
Di tengah ancaman radikalisme agama dan ideologi yang memunculkan terorisme, maka sikap moderat Islam yang dikembangkan NU tersebut menyelamatkan Indonesia dari gelombang radikalisme seperti di Pakistan dan Afghanistan.
Ahad lalu (11/7), KH Idham Chalid telah meninggalkan kita semua untuk menuju ke haribaan Allah. Di tengah maraknya percaturan politik di Indonesia, termasuk politik Islam, bangsa Indonesia perlu belajar dari sikap moderat dan fleksibel Pak Idham.
Pak Idham telah berijtihad untuk memilih jalan tengah dan moderat yang bisa menguntungkan semua pihak, sambil meminimalkan resiko dari pilihan tersebut. Keputusan NU untuk tidak melawan Bung Karno yang mendeklarasikan demokrasi terpimpin dengan sebuah tujuan agar bisa ber-amar ma\'ruf nahi munkar dari dalam, ternyata berhasil mmperbesar peran Islam dalam mencegah ekspansi PKI yang membonceng kekuasaan Bung Karno.
Begitu pula sikap Pak Idham yang akomodatif terhadap kebijakan Soeharto, menjadikan umat Islam makin menyatu dalam kultur ke-indonesiaan. Selamat jalan Pak Idham.....Allah akan memberikan tempat terbaik untuk hambaNya yang berjuang untuk kemaslahatan umat. (Penulis adalah anggota Komisi VIII DPR RI).
( Sumber : http://www.pelita.or.id )

Belangsungkawa Atas Wafatnya Idham Chalid

Diterbitkan pada 11 Juli 2010 oleh B- Watch

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengucapkan belasungkawa atas wafatnya KH. Idham Chalid, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan mantan Ketua DPR/MPR.
“Presiden turut berduka dan mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya,” kata Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha di Jakarta, Minggu.
Julian mengatakan, Kepala Negara memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada almarhum atas jasa-jasa selama masa hidupnya .
Presiden Yudhoyono juga menyatakan, Idham Chalid adalah tokoh nasional yang memberikan sumbangan besar di bidang politik, keagamanaan, dan pendidikan di Indonesia.
“Beliau adalah tokoh bangsa, tokoh masyarakat yang banyak berkontribusi terhadap kemajuan bangsa dan negara,” kata Julian.
Secara terpisah, putra Idham Chalid Saiful Hadi mengemukakan bahwa almarhum menghembuskan napas terakhir Minggu pukul 08.00 WIB di rumah duka di Pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan.
“Ayah meninggal tadi pagi pukul 08.00 WIB. Mohon doanya, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT,” kata Saiful Hadi yang juga Direktur Pemberitaan/Pemimpin Redaksi Perum LKBN ANTARA.
Saiful mengatakan, pihak keluarga sudah bermusyawarah mengenai pemakaman sang ayah.
“Jenazah almarhum dimakamkan di Bogor, tepatnya di Pesantren Darul Quran, Cisarua, Senin,” katanya.
Pesantren Darul Quran merupakan lembaga pendidikan Islam yang dikelola keluarga K.H. Idham Chalid. Dia juga mengembangkan Pesantren Daarul Maarif yang lokasinya berada di sebelah kediamannya di Cipete Jakarta Selatan.
Idham Chalid dilahirkan pada 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Pemakaman Idham pada Senin karena sebagian putra-putri dan sanak familinya tinggal di Kalsel maupun berbagai daerah lain di Tanah Air.
Semasa hidup, sebagian besar kiprah Idham dihabiskan di panggung politik. Bahkan, sejak usia remaja, Idham sudah bersentuhan dengan politik melalui keterlibatannya di Nahdlatul Ulama (NU) yang saat itu sebagai salah satu partai politik (parpol) terbesar pemenang pemilu.
Panggung politik telah membesarkan nama Idham. Semasa hidup dia pernah diberi sejumlah amanat besar, yaitu sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1956-1984, Ketua DPR/MPR RI 1972-1977, dan sejumlah jabatan lain.
Selain itu, Idham juga tercatat sebagai tokoh pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Setelah tidak lagi terlibat di dunia politik, Idham mengabdi melalui jalur pendidikan dengan mengembangkan Pesantren Daarul Maarif di Cipete Jakarta dan Pesantren Darul Quran di Cisarua Bogor.
Sejak tahun 1999, kesehatan Idham menurun drastis menyusul serangan jantung dan stroke, yang membuatnya terbaring tak berdaya di atas tempat tidur hingga menghembuskan napas terakhir, Minggu.
“Kami mohon almarhum didoakan dan mohon dimaafkan bila semasa hidupnya pernah melakukan kesalahan,” kata Saiful Hadi.

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan, KH Ahmad Makkie, meninggalnya mantan Ketua PBNU KH Dr Idham Chalid (88), Minggu pagi, membuat warga Kalsel kehilangan seorang tokoh besar.
“Warga Kalsel kehilangan seorang tokoh besar karena sosok almarhum dikenal sebagai seorang ulama maupun tokoh yang membesarkan organisasi besar Islam,” ujar KH Ahmad Makkie ketika dihubungi di Banjarbaru, Minggu.
Ia mengatakan, kehilangan besar yang dirasakan itu karena almarhum merupakan tokoh asli Kalimantan Selatan dan mampu mengharumkan nama daerah seiring kiprahnya sebagai pemimpin organisasi besar Islam dan pemimpin lembaga tinggi negara.
Dikatakan, jasa almarhum sangat besar baik bagi agama maupun bangsa dan negara karena mampu memimpin organisasi besar Islam Nahdlatul Ulama selama 32 tahun disamping sebagai deklarator sekaligus pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
“Bagi Kalsel, kiprah almarhum di tingkat nasional sangat mengharumkan nama daerah sehingga kita semua warga Kalsel pantas merasa kehilangan besar atas kepergian almarhum,” ujar mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Kalsel itu.
Terkait kiprah almarhum selama kepemimpinannya dalam organisasi NU, ia mengatakan, sangat salut dan hormat karena almarhum bukan orang NU dan memiliki darah biru sebagai garis keturunan langsung warga Nahdliyin.
“Beliau sama sekali bukan warga NU dan tidak memiliki darah biru sebagai garis keturunan langsung NU, tetapi kiprah dan perannya membesarkan organisasi NU sangat besar dan tidak perlu diragukan lagi,” ujar salah satu tokoh Kalsel ini.
Dikatakannya, almarhum juga memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara karena kiprah sebagai Ketua MPR/DPR mampu mewarnai perjalanan dan sejarah bangsa disamping pernah ikut berjuang di masa perjuangan kemerdekaan.
Khusus kiprahnya di daerah, Ahmad Makkie, menilai, almarhum juga dikenal sebagai tokoh pendidik di kalangan pesantren dan pernah menjabat sebagai pembina Pondok Pesantren Rasyid Khalidiyah (Rakha) Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Ditambahkan, kesan khusus yang sempat disampaikan almarhum saat menjadi pembina Ponpes Rakha adalah pondok pesantren yang dikatakannya bukan hanya milik kaum Nadhlatul Ulama tetapi milik semua umat Islam.
“Beliau sempat menyampaikan bahwa pondok pesantren bukan hanya milik NU, tetapi siapapun umat Islam bisa menuntut ilmu di ponpes,” ujar Wakil Ketua Yayasan Ponpes Rakha Amuntai itu.
Makna yang diambil dari pernyataan itu, lanjut Ahmad Makkie, adalah pesan bahwa pondok pesantren bukan semata-mata milik warga NU dan hanya kaum NU yang boleh belajar dan menuntut ilmu tetapi seluruh umat Islam boleh belajar dan ikut menuntut ilmu di ponpes.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Andi Mappetahang Fatwa menilai tokoh Nahdlatul Ulama, Kiai Haji Idham Chalid merupakan sosok pemimpin yang langka.
“Beliau pemimpin yang sangat langka, yang pendekatannya luar biasa sehingga mampu memimpin NU selama 28 tahun,” katanya saat melayat ke rumah melayat ke rumah almarhum di Pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta, Selatan.
Dia menilai Bapak Pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu sebagai tokoh yang paling terbuka dalam melayani kebutuhan umat Islam.
“Itu yang sudah langka karena banyak pemimpin yang terlalu birokratis dalam menerima tamu. Padahal setiap tamu itu membawa informasi baik maupun buruk, informasi itu sama-sama membawa manfaat,” ujarnya.
Andi Mappetahang Fatwa–akrab dengan sapaan A.M. Fatwa–mengaku mengagumi gaya berpolitik Idham Chalid yang memegang teguh budaya silaturahmi.
“Beliau tidak pakai teori politik yang muluk-muluk, tapi menggunakan kultur silaturahim, yaitu setiap malam jumat berkeliling untuk bersalaman dengan kiai-kiai,” tuturnya.
Pada kesempatan itu hadir pula beberapa tokoh, antara lain mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Ali Masykur Musa, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) A. Hafiz Anshary, mantan Wakil Presiden Hamzah Has, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan.
Doktor K.H. Idham Chalid wafat pada Minggu pukul 08.00 WIB di rumahnya dan akan dimakamkan Senin (12/7) di Pesantren Quran Cisarua, Bogor.
Idham Chalid meninggal dunia setelah sebelumnya selama sembilan tahun mengalami stroke dan sempat mengalami serangan jantung pada 1999.
Idham Chalid lahir di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1922. Anak Sulung dari lima bersaudara itu meninggalkan 16 orang anak, 35 cucu, dan tujuh cicit.
Pada masa hidupnya, Idham pernah menjabat dua kali sebagai Wakil Perdana Menteri Kabinet Ali Sastroamidjojo dan Kabinet Karya (1956-1957). Pernah pula menjabat sebagai Ketua DPR RI (1971), Ketua MPR RI (1972-1978), Ketua Dewan Pertimbangan Agung (!978-1983), Anggota Tim Penasehat Presiden mengenai Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Tim P7), dan anggota dewan Pertimbangan MUI.(*)
( Sumber : http://bumnwatch.com )

MENGENANG IDHAM CHALID, ULAMA & POLITISI BERFILOSOFI AIR (1)
Laporan Oleh : novi aji

Peran Ganda

KH Idham Chalid kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, dikenal sebagai ulama dan politikus pelaku filosofi air. Dia seorang tokoh Indonesia yang pernah menjadi pucuk pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama). Juga pernah memimpin pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.

Laksana air, peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, ini seorang tokoh nasional, yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya. Demikian pula sebagai politisi, ia mampu melakukan gerakan strategis, kompromistis, bahkan pragmatis.

Dengan sikap dan peran ganda demikian, termasuk kemampuan mengubah warna kulit politik dan kemampuan beradaptasi terhadap penguasa politik ketika itu, ulama dari Madrasah Pondok Modern Gontor, ini tidak kuatir mendapat kritikan dan stereotip negatif sebagai tokoh yang tidak mempunyai pendirian, bunglon bahkan avonturir.

Peran ganda dan kemampuan beradaptasi dan mengakomodir itu kadang kala membuat banyak orang salah memahami dan mendepksripsi diri, pemikiran serta sikap-sikap socio-polticnya.

Namun jika disimak dengan seksama, sesungguhnya KH Idham Chalid yang berlatarbelakang guru itu adalah seorang tokoh nasional (bangsa) yang visi perjuangannya dalam berbagai peran selalu berorientasi pada kebaikan serta manfaat bagi umat dan bangsa.

Dengan visi perjuangan seperti itu, pemimpin NU selama 28 tahun (1955-1984), itu berpandangan tak harus kaku dalam bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila, tidak jarang adanya tekanan keras dari pihak penguasa serta partai politik dan Ormas radikal.[bersambung/TI]

Orang Moderat yang Santun

Sebagaimana digambarkannya dalam buku biografi berjudul Idham Chalid: Guru Politik Orang NU yang ditulis Ahmad Muhajir (Penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Juni 2007) bahwa seorang politisi yang baik mestilah memahami filosofi air.

“Apabila air dimasukkan pada gelas, maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember, maka ia akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, maka ia akan terputus sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Bila dibuatkan kanal, ia mampu menghasilkan tenaga penggerak turbin listrik serta mampu mengairi sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia.” (hlm. 55)

Sebagai ulama dan politisi pelaku filosofi air, Idham Chalid dapat berperan sebagai tokoh yang santun dan pembawa kesejukan. Apresiasi ini sangat mengemuka pada acara peluncuran buku otobiografi Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah” di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis 6 Maret 2008.

Buku otobiografi Idham Chalid itu diterbitkan Yayasan Forum Indonesia Satu (FIS) yang dipimpin Arief Mudatsir Mandan, yang juga anggota Komisi I DPR dari PPP, juga selaku editor buku tersebut. Idham Chalid sendiri tengah terbaring sakit di rumahnya Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.

“Saya kira tidak ada tokoh yang bisa seperti beliau. Ketokohannya sangat menonjol, sehingga pernah memimpin partai politik pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP,” kata Wapres Jusuf Kalla mengapresiasi sosok Idham Chalid, saat memberikan sambutan pada acara peluncuran buku tersebut.

“Beliau itu moderat, bisa diterima di ‘segala cuaca’, berada di tengah, oleh sebab itu ia bisa diterima di mana-mana. Ia berada di tengah titik ekstrem yang ada,” ujar Kalla di hadapan sejumlah undangan, antara lain Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, dan sejumlah anggota kabinet dan DPR.

Menurut Jusuf Kalla, sikapnya yang moderat hanya bisa dijalankan oleh orang yang santun. “Hanya orang santunlah yang bisa bersikap moderat,” puji Jusuf Kalla untuk menegaskan bahwa Idham Chalid merupakan sosok ulama dan politisi yang moderat dan santun. Itulah sebabnya, ia bisa diterima di berbagai era politik dan kepemimpinan bangsa.

Menurut Wapres, jika berada di titik yang sama ekstremnya, maka selain demokrat, sosok politik orang yang menjalani itu sudah pasti santun. “Karena itu, sikap yang santun bisa menjaga suasana kemoderatan,” katanya. [bersambung/TI]

Politikus Gabus

Idham Chalid yang memulai karier politik dari anggota DPRD Kalsel, seorang ulama karismatik, yang selama 28 tahun memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Bahkan selama kepemimpinannya itu, ia kerap dijuluki sebagai politikus gabus.

Ia pernah menjadi Wakil Perdana Menteri pada era pemerintahan Soekarno, Menteri Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Sosial pada era pemerintahan Soeharto, dan mantan Ketua DPR/MPR. Idham juga pernah menjadi Ketua Partai Masyumi, Pendiri/Ketua Partai Nahdlatul Ulama, dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sementara itu, editor buku, Arief Mudatsir Mandan, mengemukakan, Idham Chalid satu-satunya Ketua Umum PBNU yang paling lama dan bukan “berdarah biru” NU. Menurutnya, selama kepemimpinan Idham, NU tidak pernah bergejolak. Kendati ia sering dinilai lemah, tetapi sebenarnya itulah strateginya sehingga bisa diterima berbagai zaman,” ujar Arief Mudatsir Mandan.

Bahkan, sikap politiknya yang—dianggap—selalu mengambang di atas dan sering lebih menguntungkan pihak penguasa, membuat dirinya mendapat julukan ‘politikus gabus’ dari Gerakan Pemuda Ansor–organisasi sayap pemuda NU.

Benarkah semua asumsi itu? Ahmad Muhajir, dalam buku berjudul Idham Chalid: Guru Politik Orang NU, mengungkapkan sosok Idham Chalid sebagai Urvashi Butalia atau ‘sisi balik senyap’ (the other side of silent), yakni berbagai pandangan berbeda mengenai gerak langkah ‘politik abu-abu’ Idham.

Sebagai seorang tokoh NU, Idham memainkan dua lakon berbeda, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai politisi, ia melakukan gerakan strategis, kompromistis, dan terkesan pragmatis.

Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dengan tetap tidak terlepas dari jalur Islam dan tradisi yang diembannya. Ia telah berusaha keras mengupayakan terbentuknya kestabilan kondisi umat di bawah (grassroot) yang menjadi tanggung jawabnya. Meski berbagai stereotip bakal menimpa, ia tak memedulikannya.

Baginya, yang terpenting—dalam berpolitik—adalah berorientasi pada kemaslahatan dan berguna bagi banyak orang. Karenanya, tidak (perlu) harus ngotot dan kaku dalam bersikap, sehingga umat senantiasa terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi di masa itu kondisi politik sedang mengalami banyak tekanan keras dari pihak penguasa dan partai politik radikal semacam PKI dengan gerakan reformasi agraria (land reform) dan pemberontakannya.

Oleh karenanya, Idham menerapkan strategi politik yang berlandaskan pada tiga prinsip. Pertama, hati-hati, luwes, dan memilih jalan tengah ketimbang sikap memusuhi dan konfrontasi yang justru membahayakan kepentingan umat.

Kedua, politik yang memperhitungkan kekuatan umatnya di hadapan kekuatan rezim atau kekuatan lain di tengah masyarakat. Ketiga, dengan menggunakan pendekatan partisipatoris terhadap pemerintah sehingga mampu memengaruhi kebijakan penguasa demi kemaslahatan umat.

Dalam kaitan ini, Idham memandang bahwa NU harus ikut andil dalam kekuasaan sebagai kekuatan penyeimbang. Cara ini dianggap lebih tepat ketimbang berada di luar kekuasaan yang justru lebih menyulitkan untuk bergerak. [tamat/TI]
( Sumber : http://www.siagaindonesia.com )

Riwayat Hidup KH Idham Chalid

JAKARTA, hws online — Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, dan merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin.

Saat usia Idham enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Selain tercatat sebagai salah satu tokoh besar bangsa ini pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru, sebagian besar kiprah Idham dihabiskan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Idham tercatat sebagai tokoh paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut.

Dalam ormas berlogo bola dunia dan bintang sembilan itu, Idham menapaki karier yang sangat cemerlang hingga menjadi pucuk pimpinan. Dalam usia 34 tahun, Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Pada tahun 1984, posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai ormas yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi terhadap partai mana pun.

Selain itu, Idham juga tercatat sebagai “Bapak” pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktu Idham dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di bilangan Cipete.abi/kus

( Sumber : http://hwsyachdeini.com )

Idham Chalid, Ketua PBNU Terlama

by admin on Jul 11, 2010

Idham Chalid, politisi dan pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu meninggal dunia, Minggu pagi, 11 Juli 2010.

Idham mengawali karirnya sebagai aktivis Nahdlatul Ulama, organisasai keagamaan terbesar di Indonesia. Sejak awal kiprahnya, karier Idham terus menanjak.

Ketika NU masih bergabung dengan Masyumi pada 1950, laki-laki yang dilahirkan di Satui, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, pada 27 Agustus 1921 ini, telah menjadi ketua umum Partai Bulan Bintang, Kalimantan Selatan. Dia juga menjadi anggota DPR RIS (1949-1950).

Dua tahun setelahnya, Idham terpilih menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU (1952-1956). Kemudian, ia dipilih menjadi orang nomor satu NU pada 1956 hingga 1984. Bahkan, Idham menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU terlama.

Selama hampir 30 tahun memimpin NU, Idham telah mengalami berbagai pasang surut. Di bidang eksekutif, ia beberapa kali jadi menteri, baik saat masa Orde Lama maupun Orde Baru.

Ketika Bung Karno jatuh pada 1966, ia menjadi anggota presidium Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II dan setelah itu ia diangkat menjadi ketua MPR/DPR pada periode 1972-1977.

Jauh sebelumnya, pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo II, ia juga menjabat sebagai wakil perdana menteri. Dalam posisi pemerintahan, dia juga pernah mengemban tugas sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung menggantikan KPH Soetardjo Kartohadikoesoemo.

Idham meninggal hari ini dalam usia 88. Sebelum meninggal, Idham harus berjuang melawan penyakit stroke. Pada 1999 Idham terkena serangan jantung dahsyat, dan penyakit itu melumpuhkannya.

( Sumber : http://www.detikpertama.com )


MENGENANG KIAI HAJI IDHAM CHALID

BOGOR, DETIKPOS.net - Meninggalnya Kiai Haji Idham Chalid merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia, yang telah memberi warna perjalanan bangsa melalui kiprahnya baik semasa Orde Lama maupun Orde Baru.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fatah Ciomas, Kabupaten Bogor, KH Saeful Millah Hasbi, Minggu (11/7/2010), mengatakan, pengabdian terbesar diberikan oleh Idham kepada bangsa ini melalui kiprahnya di Nahdlatul Ulama (NU).

Idham tercatat menakhodai ormas Islam terbesar di Indonesia itu selama 28 tahun mulai 1956 hingga 1984. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI tahun 1972-1977.

Saat memimpin NU, Idham merupakan tokoh kunci dalam berbagai fase krusial perjalanan yang dilalui Indonesia. Bahkan ia menjadi tokoh kunci dalam fase-fase genting yang dijalani Indonesia.

Saat muda Idham ikut berjuang mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi, yang telah diduduki selama 350 tahun lamanya. Begitu juga saat terjadinya peristiwa revolusi fisik yaitu transisi dari era penjajahan ke kemerdekaan, Idham menjadi salah satu tokoh pelaku sejarah.

Idham juga berada di pusat pusaran peristiwa saat penumpasan pemberontakan PKI tahun 1965-1966. "Saat itu NU berhadap-hadapan secara langsung dalam konfrontasi dengan PKI," ujarnya.

Saat Orde Baru berkuasa, ketika semua orang dihantui rasa takut oleh rezim militer yang bertahta selama 32 tahun, Idham pun menjadi tokoh kunci percaturan nasional baik melalui NU maupun melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berdiri tahun 1975.

Menurut Saeful Millah, pengabdian tanpa pamrih dan sumbangan besar yang diberikan Kiai Idham kepada bangsa ini, patut diapresiasi bersama baik oleh masyarakat maupun negara. "Wafatnya Kiai Idham merupakan kehilangan besar bagi bangsa ini," ujar Saeful Millah.

Hal senada diutarakan oleh Nailul Abrar, aktivis Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Pertanian Bogor (IPB). Dia mengatakan, Kiai Idham merupakan tokoh besar yang pernah dimiliki bangsa ini. "Kiai Idham merupakan salah satu putra terbaik yang dilahirkan NU. Beliau sebagai salah satu pemimpin besar yang pernah dimiliki Indonesia," ungkapnya. [kmp/ris]

(Sumber : http://www.detikpos.net)


MENGENANG KH IDHAM CHALID Pesantren Darul Qur’an Gelar Tahlil Hingga 40 Hari
Sabtu, 24 Juli 2010

Tahlil atau do'a bersama untuk mendoakan wafatnya ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Idham Chalid digelar hingga 40 hari, kata Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur'an Bogor, KH Kholilullah kepada NU Online di Bogor, Sabtu.

Pesantren Darul Qur’an terletak di Jalan Raya Puncak, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cuisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Darul Qur’an dirintis oleh almarhum KH Idham Chalid pada tahun 1968. Pesantren tersebut mengelola unit pendidikan pesantren, panti asuhan yatim piatu, MTs dan SMA.

KH Idham Chalid (88) wafat pada Ahad (11/7) lalu di Pesantren Darul Ma’arif Cipete, Jakarta.

Idham merupakan salah satu tokoh terbesar bangsa yang dilahirkan dari rahim NU. Semasa hidupnya, sebagian besar waktu Idham diwakafkan untuk mengabdi di ormas yang didirikan para ulama tersebut.

Ia tercatat pernah menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selama empat tahun yaitu mulai 1952 hingga 1956, ketua umum PBNU 1956-1983 serta rois Jamiyyah Ahli Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (Jatman) PBNU hingga menjelang sakit pada akhir 1990-an.

Pada level kenegaraan, karir Kiai Idham mewarnai perjalanan Orde Lama dan sebagian Orde Baru. Ia tercatat pernah menjabat Anggota DPR/MPR, Wakil Perdana Menteri, Menko Kesra, dan Menteri Sosial. Pada zaman Orde Baru, Idham dipercaya mengemban amanah sebagai ketua DPR/MPR 1972-1977 serta ketua DPA 1978-1983.

Selain itu, KH Idham juga merupakan tokoh kunci di balik fusinya NU dan partai-partai Islam pada tahun 1973. Idham merupakan deklarator PPP, mantan ketua dan presiden DPP PPP.

Anak Yatim Tahlil Hingga 40 Hari

Wafatnya KH Idham merupakan kehilangan besar bagi NU dan bangsa Indonesia. Terutama warga NU sangat kehialngan tokoh yang memiliki jasa besar menyelamatkan NU dalam berbagai periode sulit sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Terlebih bagi keluarga besar Pesantren Darul Ma’rif Cipete Jakarta dan Pesantren Darul Qur’an Cisarua Bogor.

Kholilullah mengatakan, sejak Kiai Idham wafat, para santri dan siswa Darul Qur'an selalu menyelenggarakan tahlil. Tahlil dilakukan setiap malam. Terutama siswa panti asuhan yatim setiap malam secara bergiliran selalu melakukan tahlil maupun membaca al-Qur'an di depan makam Kiai Idham.

“Tahlil akan kami selenggarakan selama 40 malam,” papar dia.

“Kiai Idham wasiat mimta dimakamkan di Darul Qur'a karena ingin terus didoakan oleh anak yatim. Selain karena adanya wasiat tersebut, secara kesadaran kami terus mendoakan beliau. Beliau adalah guru dan orang tua kami," tutur Kholilullah.

(Sumber: NU online)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar